Feature

Lelah yang Berbuah Nikmat di Masjidilharam

29
×

Lelah yang Berbuah Nikmat di Masjidilharam

Sebarkan artikel ini
Makkah adalah saksi iman yang menyatukan: Bersama perempuan tua dari Aljazair yang berkursi roda. (Tagar.co/Anandyah RC)

Dalam lelah, ada Zamzam yang menyegarkan. Dalam lapar, ada bakso yang memuaskan. Dan dalam setiap langkah di Masjidilharam, ada syukur yang selalu berlipat.

My Journey on Hajj 2025 (Seri 2); Oleh Anandyah RC, S.Psi

Tagar.co – Ahad Subuh (1/5/25) aku bangun dengan badan yang benar-benar pegal. Orang Jawa bilang, njarem di bagian kaki dan punggung (boyok). Aku sadar ini akibat dari umrah wajib semalam.

Memang butuh effort besar untuk melaksanakan umrah wajib: badan masih capek karena perjalanan panjang, suhu yang berbeda bikin badan greges, dan padatnya Masjidilharam oleh jemaah dari seluruh dunia.

Aku harus berdesak-desakan ketika masuk masjid, tawaf, dan berusaha menjaga supaya tubuh nggak tumbang terdorong jemaah lain. Awalnya kupikir cuma aku yang merasakan sakit ini, ternyata hampir semua jemaah di rombongan juga mengalami hal serupa.

Baca juga: Peluk Hening Makkah: Catatan Seorang Hamba

Aku langsung teringat sebotol air Zamzam yang kubawa semalam. Segera kuminum sambil berdoa kepada Allah semoga Zamzam ini menjadi obat. Aku juga mencoba stretching ringan, mempraktikkan beberapa gerakan PAZ Al-Kasaw yang pernah kupelajari.

Alhamdulillah, keluhan berkurang. Kuminum lagi air Zamzam sambil berharap Allah meringankan rasa nggak nyaman ini supaya aku bisa kembali beribadah dengan optimal. Aku lanjut tidur sebentar, dan saat bangun, alhamdulillah … badan rasanya sudah enakan, seperti semula.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Sebagai wujud syukur, aku memutuskan untuk sore nanti berkunjung lagi ke Ka’bah, menghaturkan terima kasihku kepada Allah. Segera aku hubungi suamiku lewat HP, ngajak dia ke Masjidilharam selepas Ashar sampai Isya.

Menikmati Sore di Makkah

Pukul 17.00 waktu Arab Saudi, kami berangkat naik Bus Selawat Nomor 27. Sepanjang perjalanan aku menikmati pemandangan Kota Makkah: gunung batu yang eksotis, bangunan khas Timur Tengah, taman-taman kecil, dan jemaah yang lalu lalang di trotoar menuju masjid. Subhanallah, hati ini rasanya damai banget memandangi semua itu dari balik kaca bus yang sejuk karena AC.

10 menit kemudian kami tiba di terminal Ajiyad. Aku dan suami turun, berjalan santai sekitar 500 meter menuju pelataran Masjidilharam. Di tengah jalan, perutku mulai lapar, tapi setelah melihat toko-toko di sekitar Grand Zamzam, ternyata yang dijual kebanyakan suvenir. Kalau mau cari makanan, harus masuk plaza, yang pasti memakan waktu lama. Akhirnya kami putuskan untuk lanjut ke pelataran masjid dan mengenyangkan diri dengan air Zamzam.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Masuk lewat pintu King Abdul Aziz, kami cukup lancar karena sudah punya kartu Nusuk, dan suamiku mengenakan kain ihram. Memang sejak musim haji, ada aturan hanya jemaah berbaju ihram yang boleh masuk ke dalam Masjidilharam.

Magrib di Samping Ka’bah

Kami langsung menuju area Ka’bah dan minum Zamzam sambil berdoa supaya perut ini cukup kuat sampai pulang nanti. Aku ingat pesan seorang ustaz: Zamzam akan memberi manfaat sesuai doa dan harapan kita.

10 menit sebelum azan Magrib, kami segera mencari tempat salat. Alhamdulillah, setelah berjalan agak jauh dari pelataran Ka’bah, kami dapat shaf yang masih longgar, dengan posisi aku dan suami nggak terlalu berjauhan.

Azan Magrib berkumandang merdu. Seusai salat Magrib, salat sunah, dan salat jenazah, jemaah mulai bergerak keluar. Kami ikut keluar untuk memperbarui wudu. Sambil berjalan, aku takjub melihat kebesaran Allah: manusia dari seluruh dunia, beraneka warna kulit, wajah, postur tubuh, tapi semuanya memiliki tujuan yang sama. Masyaallah, tabarakallah.

Salat Isya, Bertemu Sahabat Baru, dan Makan Malam Paling Puas

Menjelang Isya, aku dan suami sengaja mencari tempat salat di emperan pertokoan di bawah Grand Zamzam supaya lebih mudah pulang ke hotel. Di sana, aku ketemu seorang ibu tua dari Aljazair yang duduk di kursi roda. Dia melambaikan tangan, mengajakku salat di sampingnya. Kami sempat ngobrol dengan bahasa isyarat, lalu setelah salat aku bersalaman dan foto bareng dia.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Kami lanjut jalan kaki menuju terminal. Alhamdulillah, langsung dapat bus tanpa perlu antre lama. Tak lama bus penuh dan berangkat menuju Misfalah, tempat hotel kami.

Pukul 21.06 bus tiba di depan hotel. Perutku rasanya sudah nggak tahan lagi. Banyak pedagang mukimin berjualan, dan satu yang langsung kutuju: penjual bakso. Satu mangkuk 5 riyal, isinya tiga pentol. Aku bawa ke kamar, ambil nasi kotakan jatah makan malam, kumasukkan ke dalam mangkuk bakso.

Hem… alhamdulillah… nikmat banget rasanya kuah panas menyentuh lidah dan melintasi kerongkonganku. Malam itu rasanya puas banget. Makan malam terenak selama di Makkah!

Setelah perut kenyang, aku langsung rebahan. Semoga pulang ke tanah air nanti nggak nambah gemuk ya! (#)

Penyunting Mohammad Nuraftoni