Opini

Kata-Kata Menjadi Senjata: Propaganda Halus Media Barat

98
×

Kata-Kata Menjadi Senjata: Propaganda Halus Media Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Dalam liputan konflik Iran dengan AS-Israel, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi instrumen kekuasaan yang membentuk persepsi publik.

Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Di medan perang, bom biasanya meledak dengan suara keras. Gedung runtuh, kaca pecah, dan langit dipenuhi asap hitam. Namun, dalam dunia jurnalistik modern, ada bom lain yang jauh lebih sunyi: bom bahasa, bom kata-kata. Ia tidak menghancurkan bangunan. Ia menghancurkan makna.

Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belakangan ini memperlihatkan satu fenomena lama yang kembali tampil dengan wajah sangat gamblang: bias sistemik media Barat dalam meliput konflik Timur Tengah.

Baca juga: Kejahatan Perang Trump

Bagi pengamat media, ini bukan kejutan. Namun, bahkan para peneliti senior pun terkejut melihat betapa terang-terangnya teknik manipulasi bahasa digunakan dalam liputan perang kali ini.

Manipulasi dilakukan bukan sekadar dalam memilih sudut pandang, bukan sekadar memilih narasumber, tetapi juga dengan mengutak-atik tata bahasa. Kalimat aktif diubah menjadi kalimat pasif. Pelaku dihapus. Kata-kata diperhalus. Fakta dipotong. Akibatnya, pembaca merasa sedang membaca laporan netral, padahal sebenarnya sedang disuguhi propaganda yang sangat elegan.

Mari mulai dari sebuah tragedi. Pada hari pertama perang, sebuah serangan udara menghantam sekolah dasar di Minab, Iran Selatan. Sekitar 175–180 orang tewas, sebagian besar siswi sekolah.

Dalam hukum humaniter internasional, serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Namun, anehnya, tragedi sebesar itu hampir tidak muncul dalam liputan utama media kabel Amerika.

CNN, Fox News, MSNBC, dan berbagai jaringan lainnya menyiarkan analisis panjang tentang strategi militer, pergerakan kapal induk, dan manuver geopolitik. Namun, kematian puluhan anak sekolah nyaris menghilang dari layar.

The New York Times memang menulis laporan singkat tentang tragedi itu, tetapi hanya sebagai berita kecil di halaman belakang, tanpa investigasi serius dan tanpa tekanan publik untuk mengetahui siapa pelaku serangan.

Baca Juga:  108 Tahun PUI: Tasawuf tanpa Nama

Apakah jet Amerika? Apakah jet Israel? Tidak ada dorongan kuat untuk mencari jawabannya. Padahal, media Barat biasanya sangat agresif dalam investigasi—selama pelakunya bukan sekutu mereka sendiri.

Manipulasi itu bahkan lebih jelas terlihat dalam judul berita. BBC menulis begini: “At least 153 dead after reported strike on school, Iran says.” The New York Times menulis hampir sama: “Iran says dozens killed in school strike.”

Sekilas liputan mereka tampak netral. Padahal, sebenarnya sangat manipulatif. Perhatikan frasa kecil: “Iran says.”

Itulah yang dalam jurnalistik disebut teknik framing yang sudah klasik. Dengan menempatkan “Iran says”, pembaca langsung diarahkan untuk meragukan kebenaran informasi tersebut.

Seolah tragedi itu hanya klaim propaganda Iran. Padahal, saat itu kematian ratusan korban sudah dikonfirmasi oleh berbagai lembaga internasional, termasuk badan PBB. Namun, bahasa yang dipakai tetap membuat fakta terlihat seperti rumor.

Trik kedua lebih licik lagi: pelaku dihapus. Tidak ada kalimat: “US bombs killed children.” Tidak ada kalimat: “Israeli airstrike destroyed a school.”

Yang ada hanya “school strike”. Sekolah itu seolah tiba-tiba diserang oleh sesuatu yang tidak diketahui. Bomnya ada. Korban ada. Pelakunya menghilang.

Dalam kajian linguistik propaganda, ini disebut agent deletion (penghilangan pelaku)—teknik klasik propaganda modern.

Bandingkan dengan berita ketika Iran menyerang Israel. Judulnya langsung berubah: “Iranian missile attack kills nine in Israeli city.”

Perhatikan perbedaannya. Pelaku disebut jelas: Iran. Senjata disebut jelas: missile. Korban disebut jelas: warga Israel. Kalimatnya aktif, tegas, dramatis.

Seolah tata bahasa tiba-tiba menjadi sangat jujur. Ajaibnya, kejujuran tata bahasa itu hanya muncul ketika pelakunya adalah musuh Barat.

Selain penggunaan kalimat pasif, media Barat juga sangat kreatif menciptakan eufemisme. Salah satu istilah favorit televisi kabel Amerika adalah: “take out.”

Ketika CIA atau Mossad membunuh seorang tokoh militer Iran, kata yang dipakai bukan “kill” atau “assassinate”, melainkan “take out”. Secara harfiah artinya “mengeluarkan”, seperti mengambil sampah keluar rumah atau membeli makanan take-out.

Dampaknya, pembunuhan manusia terdengar seperti aktivitas logistik. Bahasa berubah menjadi obat bius moral.

Baca Juga:  Rusia Datang: Doktrin Monroe Runtuh, Amerika Kehilangan Kepastian

Istilah lain adalah “decapitate.” Secara literal berarti memenggal kepala. Namun, dalam bahasa media televisi Amerika, kata ini dipakai untuk menggambarkan strategi pembunuhan pimpinan militer atau politik.

Dengan pilihan kata tersebut, pendengar tidak membayangkan darah atau kekerasan. Yang terbayang justru rapat manajemen perusahaan—seperti restrukturisasi organisasi.

Dalam manajemen dikenal istilah “leadership decapitation strategy.” Itulah yang mereka pakai di berita perang. Seolah yang terjadi hanyalah pergantian pejabat. Padahal, yang terjadi adalah pembunuhan manusia.

Ada pula istilah yang terdengar lebih ringan: “boots on the ground.” Kedengarannya seperti kegiatan hiking. Padahal, yang dimaksud adalah invasi militer.

Tentaranya bersenjata lengkap—kendaraan lapis baja, drone tempur, hingga senapan mesin seperti M134 Minigun yang mampu menembakkan hingga 6.000 peluru per menit.

Namun, semua itu disederhanakan menjadi kalimat yang terdengar santai: “boots on the ground.” Anda sudah tahu artinya: bukan sepatu berjalan, melainkan tentara menyerbu.

Istilah lain yang sering muncul adalah “Iranian proxies.” Kelompok bersenjata di Lebanon, Irak, atau Yaman hampir selalu disebut sebagai “proxy Iran.”

Istilah ini memberi kesan bahwa mereka hanyalah boneka Teheran. Padahal, banyak kelompok tersebut lahir dari konflik lokal di negara masing-masing. Namun, penyederhanaan ini membuat narasi geopolitik menjadi lebih mudah: semua kekacauan di Timur Tengah seolah bisa disalahkan pada satu negara saja—Iran. Ini adalah teknik propaganda klasik: simplifikasi musuh.

Bias ini juga berkaitan dengan struktur kepemilikan media. Fox News dimiliki Fox Corporation yang dikendalikan keluarga Rupert Murdoch, tokoh media dengan hubungan politik dekat dengan pemerintah Israel.

The New York Times dimiliki keluarga Sulzberger yang selama puluhan tahun memegang kendali editorial koran tersebut. CNN berada di bawah Warner Bros. Discovery, bagian dari jaringan media besar Amerika dengan hubungan kuat dengan elite politik Washington. The Atlantic dimiliki miliarder Laurene Powell Jobs, dengan jaringan luas dalam komunitas kebijakan luar negeri Amerika.

Baca Juga:  Indonesia di Tengah Konflik Iran dengan AS–Israel

Hal ini tidak berarti semua jurnalis di media-media tersebut bekerja sebagai propagandis. Banyak reporter lapangan justru bekerja dengan integritas tinggi. Namun, struktur editorial, jaringan politik, dan tekanan geopolitik sering menciptakan bias sistemik dalam framing berita.

Bias itu jarang muncul secara kasar. Ia bekerja lewat judul berita, pilihan kata, urutan informasi, dan penghilangan konteks sejarah. Propaganda yang paling efektif memang selalu yang paling halus.

Edward Said pernah menyebut pola ini sebagai bagian dari tradisi panjang Orientalisme. Dalam konstruksi media Barat, dunia Timur hampir selalu digambarkan sebagai wilayah kekacauan, emosi, dan irasionalitas, sementara Barat tampil sebagai pembawa rasionalitas dan ketertiban.

Narasi ini telah diproduksi selama berabad-abad—dari masa kolonial hingga era televisi kabel. Kini ia hidup kembali dalam bentuk yang lebih modern: headline, framing, dan algoritma media.

Dalam perang modern, kebenaran jarang mati oleh bom. Ia mati oleh kalimat. Dan seperti banyak tragedi dalam sejarah, pembunuhan itu dilakukan dengan sangat sopan—bukan dengan teriakan, tetapi dengan tata bahasa yang rapi, kalimat pasif, dan kata-kata yang dipilih dengan sangat hati-hati.

Dampaknya, ketika dunia membaca berita perang, yang terdengar bukan suara bom, melainkan suara halus dari sebuah kalimat: “An airstrike hit a school.” Sekolah itu seolah diserang oleh udara, bukan oleh manusia.

Dan di situlah propaganda bekerja paling sempurna—ketika bahasa berhasil membuat pembunuhan terlihat seperti cuaca, seperti badai yang datang dari langit: tanpa pelaku, tanpa tanggung jawab, tanpa rasa bersalah.

Mungkin inilah ironi terbesar dari zaman kita. Senjata propaganda paling kuat bukan lagi tank, bukan pesawat tempur, bukan misil balistik, melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil: Sebuah kata. Beberapa kata. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 22 Maret 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni