
Peristiwa Karbala menggores luka sejarah, tetapi juga memahat pelajaran tentang keadilan, keberanian, dan integritas moral dari seorang tokoh mulia: Sayidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah Saw.
Oleh: Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur
Tagar.co – Muharam adalah permulaan tahun Hijriah sekaligus bulan yang sarat pesan spiritual. Salah satu pesan paling mendalam yang dihadirkan Muharam adalah tragedi Karbala, yang terjadi pada 10 Muharam 61.
Peristiwa itu menggores luka sejarah, tetapi juga memahat pelajaran tentang keadilan, keberanian, dan integritas moral dari seorang tokoh mulia: Sayidina Husain bin Ali radiyallahuanhu, cucu Rasulullah Saw.
Baca juga: Kado Istimewa Tahun Baru 1447: Kebangkitan Sekolah Islam
Kisah ini kerap diasosiasikan dengan mazhab tertentu (Syiah), padahal dalam khazanah Ahlusunah Waljamaah, tragedi Karbala tercatat lengkap dan penuh hormat. Sejarawan seperti Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan-Nihāyah menulis secara terperinci kronologi Karbala dan perjuangan Husain.
Bahkan Imam Az-Zahabi dalam Siyar A‘lām An-Nubalā’ menggambarkan Husain sebagai “seorang pemimpin yang saleh, pemilik kemuliaan nasab, serta keteguhan jiwa” (Az-Zahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 3, hlm. 280).
Bermula dari Penolakan Memberi Baiat
Setelah wafatnya Muawiyah bin Abi Sufyan, kekuasaan diserahkan kepada anaknya, Yazid bin Muawiyah. Sayidina Husain, sebagai cucu Nabi dan tokoh Ahlulbait, tidak serta-merta memberikan baiat. Bukan karena ambisi politik, tetapi karena nurani keimanannya terusik oleh gaya hidup, akhlak, dan sistem pemerintahan yang dibangun oleh penguasa baru tersebut.
Dalam catatan para ulama Ahlus Sunah, termasuk Imam As-Suyuthi dalam Tārīkh al-Khulafā’, disebutkan bahwa Husain menolak membaiat Yazid karena Yazid dikenal suka lalai dalam ibadah dan menyimpang dari perilaku yang diajarkan Rasulullah Saw. (As-Suyuthi, Tārīkh al-Khulafā’, hlm. 208). Bagi Husain, membaiat pemimpin yang tidak memenuhi syarat moral dan syar‘i adalah bentuk pembiaran terhadap penyimpangan umat.
Yazid dikenal dalam sejarah sebagai peminum kamer, pengabaian salat, dan perusak akhlak masyarakat. Bagi Husain, membaiat pemimpin bukan sekadar formalitas, tetapi pernyataan moral dan amanah terhadap umat.
Penolakan baiat dari Sayidina Husain tersebar hingga ke Kufah, wilayah strategis dalam pemerintahan Islam. Penduduk Kufah—yang sebelumnya mendukung Sayidina Ali—mengirim lebih dari seratus surat dan utusan kepada Husain agar datang memimpin mereka menggantikan kekuasaan Yazid. Mereka menjanjikan dukungan penuh dan menyatakan kesetiaan (At-Tabari, Tārīkh Al-Umam wal-Mulūk, jilid 4, hlm. 275).
Merespons seruan tersebut, Sayidina Husain mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk menilai situasi di Kufah. Awalnya, Muslim disambut hangat dan mendapat dukungan ribuan penduduk. Namun, setelah Gubernur Kufah sebelumnya—Nu‘man bin Basyir yang dikenal lemah—digantikan oleh Ubaidillah bin Ziyad atas perintah Yazid, situasi berubah drastis. Muslim bin Aqil ditangkap dan dibunuh, sedangkan surat-surat dukungan dari rakyat Kufah dianggap sebagai bentuk pengkhianatan.
Walau telah mengetahui kondisi berubah, Sayidina Husain tetap melanjutkan perjalanan ke Kufah. Beliau merasa telah berkomitmen terhadap panggilan umat dan tidak ingin mengingkari janji, meskipun nyawanya menjadi taruhan.
Beliau berkata, “Aku tidak keluar karena ambisi, kesombongan, atau kezaliman. Aku keluar untuk melakukan islah (perbaikan) di tengah umat kakekku.” (Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 8, hlm. 162).
Tragedi 10 Muharam di Karbala
Perjalanan Husain menuju Kufah berakhir di Karbala. Di sanalah beliau, bersama rombongan kecil dari keluarga dan sahabat setia, dikepung ribuan pasukan Yazid. Akses air dari Sungai Eufrat diblokade. Hari-hari dilalui dalam panas dan kehausan. Hingga akhirnya, pada 10 Muharam, satu per satu keluarganya gugur.
Sayidina Husain pun syahid dalam mempertahankan prinsip. Imam At-Tabari mencatat bahwa kepala Husain dipenggal, dan jasadnya tidak dimakamkan secara layak (At-Tabari, Tārīkh Al-Umam wal-Mulūk, jilid 4, hlm. 342).
Namun, dari tragedi itu, Husain justru diabadikan sebagai simbol kebenaran. Ibn Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Husain terbunuh bukan karena kelemahan, melainkan karena ia memilih mati bermartabat daripada hidup dalam kehinaan.” (Tahdzīb At-Tahdzīb, jilid 2, hlm. 353).
Refleksi untuk Umat dan Bangsa
Tragedi Karbala adalah pelajaran lintas zaman. Dalam konteks kebangsaan hari ini, kita menghadapi tantangan moral yang tak kalah berat: pemimpin yang mengejar kekuasaan tanpa etika, kebenaran yang dikalahkan oleh hoaks yang terorganisasi, umat yang dibungkam oleh pragmatisme, dan generasi muda yang kehilangan teladan.
Sebagai aktivis ICMI, saya mengajak umat menjadikan Muharam sebagai momentum untuk membangun kembali kesadaran etis umat Islam Indonesia. Kepemimpinan bukanlah warisan, melainkan amanah. Dan kebenaran, meski sunyi, akan selalu menang dalam catatan sejarah.
Saydina Husain Milik Semua Umat
Sayidina Husain bukan milik satu mazhab. Beliau adalah bagian dari sejarah Islam yang dirawat dengan hormat oleh para ulama Ahlusunah. Kita, Ahlusunah Waljamaah, tidak perlu mengadopsi cara-cara berlebihan dalam mengenangnya, apalagi mengkultuskannya. Namun, kita wajib mengambil pelajaran dari kehidupannya.
Mari hidupkan Muharam ini dengan keberanian untuk bersuara adil, menjaga akhlak di tengah arus duniawi, serta memperkuat cinta kita pada Ahlul Bait dalam bingkai adab dan ilmu.
Sebagaimana disampaikan Imam Al-Ghazali, “Kebatilan yang terorganisasi bisa mengalahkan kebenaran yang diam.” Dan Sayidina Husain telah membuktikan, bahwa diam bukan pilihan. Kebenaran layak diperjuangkan, meski sendirian. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












