Telaah

Jangan Main-Main dengan Rezeki: Setiap Rupiah Akan Dihisab

56
×

Jangan Main-Main dengan Rezeki: Setiap Rupiah Akan Dihisab

Sebarkan artikel ini
Rezeki bukan soal besar kecilnya angka, tapi dari mana dan untuk apa ia datang. Karena setiap rupiah akan dihisab, dan setiap timbangan diuji di neraca akhirat.
Ilustrasi AI

Rezeki bukan soal besar kecilnya angka, tapi dari mana dan untuk apa ia datang. Karena setiap rupiah akan dihisab, dan setiap timbangan diuji di neraca akhirat.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Di pasar dunia ini, manusia bertebaran mengejar rezeki. Ada yang berdagang dengan jujur, ada pula yang menjual prinsip demi untung sesaat. Namun, Islam sebagai agama yang sempurna tidak membiarkan urusan dunia ini berjalan tanpa panduan.

Sebaliknya, Islam justru menempatkan perdagangan—yang kerap dianggap urusan duniawi—sebagai ladang akhirat yang penuh kemuliaan jika dijalankan dengan benar.

Baca juga: Kurhan dan Wahnan: Cinta Ibu yang Diabadikan dalam Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الرِّزْقُ عَشَرَةُ أَجْزَاءَ، تِسْعَةٌ فِي التِّجَارَةِ

“Sesungguhnya rezeki itu ada sepuluh bagian, sembilan di antaranya ada dalam perdagangan.” (H.R. Ahmad)

Perdagangan adalah peluang besar untuk memperoleh rezeki. Tapi bukan berarti semua cara menjadi halal hanya karena bernama “dagang”. Karena pada hakikatnya, setiap rupiah yang masuk akan ditanya: dari mana ia diperoleh? Dari yang halal atau dari yang haram?

Baca Juga:  Dua Kebahagiaan bagi Orang yang Berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ، أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

“Akan datang suatu masa kepada manusia, seseorang tidak peduli lagi dari mana ia mendapatkan harta: dari yang halal atau dari yang haram.” (H.R. Bukhari)

Inilah zaman yang harus diwaspadai—zaman ketika manusia terperangkap dalam godaan angka dan margin keuntungan, tetapi melupakan keberkahan dan kejujuran.

Bahkan Umar bin Khattab ra. tidak segan mengancam para pedagang yang tidak memahami agama dan tidak takut kepada Allah. Ia berkata:

لَا يَبِيعُ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh ada yang berdagang di pasar kami kecuali orang yang telah memahami agama.”

Mengapa begitu keras? Karena Umar tahu, perdagangan yang dilakukan oleh orang yang tidak mengerti halal dan haram adalah bom waktu. Ia bisa menipu, memanipulasi, dan menjerumuskan dirinya dan umat dalam dosa kolektif yang panjang.

Umar juga dikenal pernah mengancam para pedagang yang curang dan tidak jujur. Baginya, pasar adalah tempat ibadah, bukan sekadar ruang transaksi. Ia bahkan pernah mengangkat pengawas pasar khusus (semacam satgas moral ekonomi) yang bertugas menjaga keadilan dan kejujuran di antara para penjual.

Baca Juga:  Serial Ramadan: Islam sebagai Bangunan Iman dan Simpul Kesadaran

Sungguh, Islam tidak melarang perdagangan. Islam justru ingin memastikan bahwa perdagangan tidak melalaikan manusia dari tujuan hidupnya.

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah…” (An-Nur: 37)

Inilah pedagang sejati. Mereka berdagang, tetapi hatinya tetap terikat pada Allah. Mereka mengejar untung, tapi tidak pernah menipu. Mereka bekerja keras, tetapi tak pernah melupakan salat dan zikir.

Sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata:

مَنْ طَلَبَ التِّجَارَةَ فَلْيَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ لِيَعْلَمَ مَا لَهُ وَمَا عَلَيْهِ

“Siapa yang hendak berdagang, hendaklah ia memahami agama agar ia tahu hak dan kewajibannya.”

Karena pada akhirnya, bukan hanya neraca laba rugi yang dicatat, tetapi neraca akhirat yang lebih dahsyat. Setiap takaran, timbangan, markup harga, hingga niat dalam transaksi akan dihisab.

Di tengah maraknya tipu daya iklan, rekayasa testimoni, dan harga yang dimanipulasi, para pedagang Muslim ditantang untuk tetap menjunjung kejujuran sebagai nilai tertinggi. Jujur dalam niat. Jujur dalam kualitas. Jujur dalam janji.

Baca Juga:  Rahasia Ilahi di Balik Puasa yang Terbatas

Sebab bisa jadi, rezeki yang tampak besar justru mengandung murka Allah. Sebaliknya, rezeki yang tampak sedikit, tapi halal, jujur, dan penuh keberkahan—bisa menjadi penyelamat di akhirat.

Jangan pernah lupakan pesan Rasulullah ﷺ:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (H.R. Tirmidzi)

Apa lagi yang kita cari kalau sudah dijanjikan posisi bersama para nabi?

Jangan main-main dengan rezeki. Di situlah ujian terbesar: antara halal dan haram, antara dunia dan akhirat. Maka berdaganglah… dengan ilmu, dengan iman, dan dengan takwa. Karena di balik setiap rupiah, ada pertanyaan yang akan ditanyakan Tuhanmu kelak: “Dari mana kamu dapatkan itu?” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni