
Hidup adalah perjalanan penuh pelajaran, kesalahan, dan kesempatan. Selama nyawa masih dikandung badan, Allah selalu memberi jalan untuk kembali kepada-Nya.
Teks Khotbah Jumat oleh Dr. Arif Zunaidi, S.H.I., M.E.I.; Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pehserut, Sekretaris Lazisnu Pehserut, Sekretaris Program Studi Akuntansi Syariah, UIN Syekh Wasil Kediri
Tagar.co – Teks khotbah Jumat berjudul Jangan Berhenti Memperbaiki Diri: Selalu Ada Jalan Pulang kepada Allah, selengkapnya adalah:
الحمد لله الذي أذن لعباده بالفرح، ونهى عن الأذى، وجعل لكل شيء قدرا، نحمده ونستعينه ونستهديه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه، وسلّم تسليما كثيرا
أما بعد، فيا أيها الناس، أُوصيكم ونفسي المقصّرة المذنبة بتقوى الله، فإنّها وصية الله للأولين والآخرين: “وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ” قال تعالى
Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahuwara‘ālā. Takwa adalah bekal utama dalam menjalani kehidupan ini.
Takwa bukan hanya berarti menjalankan ibadah secara lahiriah, namun lebih dalam dari itu: takwa adalah kesadaran hati untuk senantiasa dekat dengan Allah, takut kepada-Nya, dan berharap ampunan serta rahmat-Nya.
Takwa mendorong kita untuk jujur meski tak ada yang melihat, untuk sabar meski lelah menghadang, dan untuk tetap berbuat baik meskipun balasannya belum tampak.
Takwa menjadikan hati tenang saat dipuji dan tetap rendah saat diuji. Takwa adalah lentera di tengah gelapnya dunia, dan pelindung dari kesalahan yang berulang.
Jemaah yang dimuliakan Allah
Hidup adalah perjalanan belajar yang tak pernah usai. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pernah khilaf, pernah menyakiti, atau disakiti. Pernah salah paham, salah langkah, bahkan mungkin pernah memilih jalan yang keliru.
Namun dalam Islam, yang lebih penting bukanlah kesempurnaan, tetapi kemauan untuk kembali kepada kebenaran, memperbaiki diri, dan terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah Az-Zumar 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)
Ayat ini menjadi pelipur lara bagi hati yang merasa hancur karena dosa, merasa tak layak untuk kembali, dan mungkin pernah ditolak oleh manusia, tapi tidak pernah ditolak oleh Tuhan. Allah membuka pintu-Nya selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri.
Karena itu, mari kita jadikan hidup ini sebagai ladang perbaikan, bukan ladang penghakiman. Mari kita belajar menjadi pemaaf, karena bisa jadi hari ini kita memaafkan, besok kita yang butuh dimaafkan.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Hidup adalah perjalanan panjang yang dipenuhi pelajaran demi pelajaran. Kadang kita merasa kuat, kadang rapuh. Kadang mampu menahan amarah, kadang melukai dengan kata-kata yang tak seharusnya terucap.
Semua orang pernah salah. Semua orang pernah berada di posisi yang tidak ideal—membuat keputusan yang keliru, menyakiti tanpa sengaja, atau gagal memahami orang lain. Tapi ketahuilah, dalam Islam, hidup bukan tentang menjadi makhluk yang sempurna, melainkan tentang menjadi manusia yang mau belajar, memperbaiki, dan bertumbuh.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah Asy-Syams 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9–10)
Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau pengakuan, tetapi pada upaya kita untuk terus menyucikan jiwa, memperbaiki diri, dan meninggalkan dosa-dosa.
Menyucikan jiwa bukan perkara instan, melainkan proses panjang—belajar dari kesalahan, mau mengakui kekeliruan, memohon ampun kepada Allah, dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya.
Jangan biarkan diri kita terperangkap dalam penyesalan tanpa perubahan. Jangan biarkan kesalahan hari kemarin membunuh harapan hari ini.
Kita punya sisi gelap, namun Allah memberi kita cahaya untuk kembali. Karena itu, jangan pernah berhenti memperbaiki hati, akhlak, dan hubungan dengan sesama.
Khotbah Kedua
الحمد لله حمد الشاكرين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صلّ وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا أيها الناس، اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah
Sebagaimana telah kita renungkan bersama dalam khutbah pertama, hidup adalah perjalanan panjang untuk belajar. Dalam setiap langkah, kita akan berjumpa dengan kesalahan, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan orang lain.
Maka, jangan biarkan hati menjadi keras karena luka atau dendam. Jangan pula tinggi hati karena merasa lebih baik dari yang lain. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, tetapi oleh kesungguhan dan keistiqamahan dalam memperbaiki diri.
Allah Ta‘ālā berfirman dalam Surah Al-Furqan 70:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)
Betapa besar kasih sayang Allah. Tidak hanya mengampuni, bahkan mengganti keburukan dengan kebaikan, selama hamba-Nya mau kembali, beriman, dan beramal saleh.
Mari kita mulai dari hal sederhana: memperbaiki niat, menjaga lisan, menahan emosi, memberi maaf, dan menyebarkan kebaikan. Mari kita jaga hubungan dengan keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat. Jika ada luka, sembuhkan dengan kata yang lembut. Jika ada kesalahan, selesaikan dengan hati yang lapang.
Akhirnya, marilah kita berdoa agar Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu diberi petunjuk, diringankan dalam taat, dan dimudahkan urusan. Semoga kita wafat dalam keadaan husnul khātimah, membawa hati yang bersih dan jiwa yang tenang.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْخَيْرِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا فِي الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ
Penyunting Mohammad Nurfatoni








