Telaah

Istikamah bersama Al-Qur’an: Rahasia Keberkahan Waktu

36
×

Istikamah bersama Al-Qur’an: Rahasia Keberkahan Waktu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Waktu sama bagi semua orang, tapi keberkahan tidak. Rahasianya: istikamah bersama Al-Qur’an setiap hari.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang

Tagar.co – Banyak orang merasa waktu mereka selalu kurang, namun para ulama salaf menunjukkan bahwa keberkahan hadir bukan karena jam yang panjang, melainkan karena hati yang istikamah bersama Al-Qur’an.

Sedikit tetapi terus-menerus lebih kuat daripada banyak tetapi jarang. Siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas harian, niscaya Allah membukakan pintu kelapangan, kemudahan, dan keberkahan dalam seluruh urusannya.

Baca juga: Sunah sebagai Bukti Cinta: Dari Hati ke Tindakan

Ada rahasia besar yang diwariskan para salaf kepada kita: keberkahan waktu datang dari kedekatan dengan Al-Qur’an. Banyak orang ingin dekat dengan kitab suci ini, namun merasa tidak sempat. Padahal waktu tidak akan pernah datang menawarkan dirinya.

Kitalah yang harus menjemputnya, menatanya, dan mengisinya dengan sesuatu yang Allah cintai. Para ulama salaf memahami satu kaidah penting: siapa yang tidak mengatur waktunya demi Al-Qur’an, maka hidupnya akan diatur oleh kesibukan yang tidak ada ujungnya.

Mereka tidak menunggu waktu luang, tetapi menyisihkan waktu khusus sebagai bentuk penghambaan. Inilah yang membuat hidup mereka berkah, tenang, dan terarah.

Allah sendiri menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya dan petunjuk. Firman-Nya:

 إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Baca Juga:  Bayangan yang Berbalik Arah

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (Al-Isra 9)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa siapa yang berjalan di bawah cahaya Al-Qur’an akan menemukan kejelasan arah dalam hidup. Waktu yang sama, dua puluh empat jam yang identik pada setiap manusia, menjadi lebih lapang bagi mereka yang menapaki hari dengan petunjuk Ilahi.

Para salaf memulai hari mereka dengan Al-Qur’an. Al-Awza’i rahimahullah berkata, “Jika pagi hari seseorang tidak mengisi waktunya dengan Al-Qur’an, maka hari itu akan menipunya.”

Ini bukan sekadar nasihat, melainkan pengalaman ruhani para ulama yang merasakan bahwa hari yang tidak disentuh Al-Qur’an akan terasa kacau dan tidak produktif.

Praktiknya sederhana: setelah Subuh, sisihkan 10–20 menit untuk membaca atau menghafal ayat. Waktu pagi itu jernih, tenang, dan jauh lebih mudah diserap oleh hati. Nabi ﷺ bersabda:

 بَارَكَ اللهُ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Allah memberkahi umatku pada waktu paginya.” (Tirmizi)

Maka memulai pagi dengan Al-Qur’an sama seperti menanam benih keberkahan untuk satu hari penuh.

Para salaf juga menjadikan Al-Qur’an sebagai rutinitas harian yang tidak pernah ditinggalkan. Imam Nabihani rahimahullah berkata, “Tidak ada yang lebih berat bagi setan daripada hamba yang memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari.”

Rutinitas kecil, seperti satu halaman atau dua ayat, bila dilakukan terus-menerus, mampu mengalahkan rasa malas, meluruhkan tipu daya setan, dan menumbuhkan hubungan yang kuat dengan kitabullah.

Baca Juga:  Melatih Diri agar “Ketagihan” Membaca Al-Qur’an

Allah berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah dari Al-Qur’an apa yang mudah bagimu.” (Al-Muzamil  20)

Ayat ini adalah pintu kelembutan Allah, bahwa sekecil apa pun bacaan kita, jika dilakukan dengan hati, tetap bernilai besar di sisi-Nya.

Malam hari bagi para salaf juga menjadi waktu menguatkan hafalan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Malammu adalah untuk menguatkan hafalanmu.” Praktiknya tidak rumit: lima hingga sepuluh menit sebelum tidur untuk mengulang ayat yang telah dihafal. Waktu malam memiliki ketenangan yang memudahkan konsentrasi.

Allah berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan lebih khusyuk untuk membaca.”
(Al-Muzamil 6)

Para salaf memahami bahwa hafalan yang diulang pada malam hari akan lebih kokoh, lebih melekat, dan lebih mudah dipertahankan.

Menyisipkan Al-Qur’an di tengah kesibukan juga menjadi kebiasaan para salaf. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Jika engkau tidak menyelipkan Al-Qur’an dalam waktu sibukmu, maka engkau akan melupakan waktu longgarmu.”

Praktiknya dapat dilakukan pada waktu-waktu kecil yang sering terabaikan: menunggu anak pulang sekolah, duduk di antrean, atau beristirahat sejenak di tempat kerja. Membuka mushaf untuk membaca dua atau tiga ayat saja sudah cukup untuk menjaga hubungan dengan Al-Qur’an. Setiap sela waktu adalah kesempatan, bukan gangguan.

Baca Juga:  Imtihan Qiraatul Quran Pertama Digelar SD Mumtaz

Kontinuitas adalah rahasia utama keberkahan waktu. Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata, “Aku tidak mengenal sesuatu yang lebih menambah berkah pada waktu kecuali Al-Qur’an.” Meski hanya sepuluh menit per hari, seseorang akan merasakan kelapangan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika manusia. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Saw:

 أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (Bukhari dan Muslim)

Inilah kuncinya: bukan menunggu waktu luang, melainkan menyisihkan waktu khusus untuk Al-Qur’an.

Ketika Al-Qur’an menjadi prioritas, Allah akan menjadikan seluruh urusan terasa lebih mudah dan lebih berkah. Hidup yang sebelumnya penuh tekanan terasa lebih teratur, pikiran yang sempit terasa lebih lapang, dan langkah-langkah yang bimbang menjadi lebih mantap.

Itulah keberkahan yang tidak dapat dibeli dan tidak dapat dicari di tempat lain selain dalam kedekatan dengan kitabullah.

Semoga Allah memudahkan kita untuk tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa Al-Qur’an. Semoga Dia menjadikan kita termasuk hamba yang istikamah, yang menjaga waktu, menjaga hati, dan menjaga hubungan dengan firman-Nya, sehingga hidup kita dipenuhi ketenangan, kelapangan, dan keberkahan yang tidak pernah putus. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni