FeatureUtama

Haedar Nashir, Jalan Sunyi Literasi dan Penghargaan Tokoh Perbukuan Islam 2025

34
×

Haedar Nashir, Jalan Sunyi Literasi dan Penghargaan Tokoh Perbukuan Islam 2025

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menerima penghargaan Tokoh Perbukuan Islam 2025 di Islamic Book Fair Jakarta. Ia menekankan pentingnya merawat literasi di Indonesia, meski jalannya sunyi dan sepi.
Haedar Nashir (kanan) menerima penghargagan sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2025 pada Rabu (18/6) dalam rangkaian Islamic Book Fair (IBF) ke-23 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta. (Tagar.co/Istimewa)

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menerima penghargaan Tokoh Perbukuan Islam 2025 di Islamic Book Fair Jakarta. Ia menekankan pentingnya merawat literasi di Indonesia, meski jalannya sunyi dan sepi.

Tagar — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menerima penghargaan sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2025 dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta. Penghargaan tersebut diserahkan pada Rabu (18/6) dalam rangkaian Islamic Book Fair (IBF) ke-23 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta.

Bagi Haedar, anugerah ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus pengingat akan pentingnya merawat denyut literasi di tengah tantangan zaman. Dengan nada rendah hati, ia mengakui banyak pihak lain, khususnya kalangan muda, yang juga layak mendapat apresiasi serupa.

“Sebenarnya agak malu menerima penghargaan ini, karena boleh jadi banyak yang mesti memperoleh penghargaan ini, dan lebih-lebih dari kalangan muda,” tuturnya di hadapan hadirin IBF.

Haedar mengungkapkan, kerendahan hatinya berubah menjadi panggilan hati setelah berdialog dengan pengurus IKAPI DKI Jakarta dan panitia IBF.

Baca Juga:  Masjid 'Ramah Musafir' Ar-Royyan Muhammadiyah Diresmikan Haedar Nashir

“Tetapi setelah saya bersilaturahmi dengan IKAPI DKI Jakarta dan Islamic Book Fair, saya terpanggil untuk menerima penghargaan ini,” ujarnya.

Baginya, penghargaan tersebut bukan hanya pengakuan pribadi, melainkan cermin dedikasi panjang IBF selama 23 tahun menumbuhkan literasi Islam di Indonesia. Sebagai kader Muhammadiyah, Haedar merasa bangga sekaligus terdorong untuk terus memotivasi publik, terutama generasi muda, agar dekat dengan dunia buku.

Lorong Sunyi

Haedar menilai, jalan literasi di Indonesia masih menjadi lorong sunyi. Ia menyebut, kebiasaan menulis dan menerbitkan buku belum menjadi gaya hidup yang merakyat. Pusat perbelanjaan, tempat makan, dan destinasi hiburan lebih ramai dikunjungi ketimbang toko buku atau perpustakaan.

“Menulis dan mempublikasikan buku merupakan jalan sunyi dan sepi lantaran tidak banyak orang yang berada di zona itu,” katanya. “Tak banyak orang datang ke sebuah kota kemudian mencari toko buku, perpustakaan, atau museum sebagai tempat pembelajaran dan literasi.”

Data Unesco pun menjadi pengingat yang menohok: dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang gemar membaca. Menurut Haedar, ironi ini terjadi justru di tengah kemudahan akses informasi yang semakin terbuka.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak

“Maka penghargaan kita ini termasuk untuk para penulis. Merupakan cara kita untuk menjaga detak jantung kita agar tetap bisa merawat kesadaran literasi kita,” imbuhnya.

Lebih jauh, Haedar menekankan bahwa literasi tak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang semangat memburu informasi agar hidup lebih cerdas, beradab, dan berbudaya.

Penghargaan Tokoh Perbukuan Islam ini diharapkan menjadi penyemangat bagi banyak pihak untuk terus menghidupkan budaya baca tulis di Tanah Air—sebuah perjuangan sunyi yang tak pernah kehilangan makna. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Perubahan judul dilakukan Rabu (18/6/25) pukul 15.20 WIB