
Seorang bocah hanya memohon satu hal dalam doanya: melihat Ka’bah sebelum dewasa. Doa itu benar-benar dikabulkan—dengan cara yang membuat satu kampung lama terdiam.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Di sebuah kampung yang jarang disebut orang, seorang bocah menyimpan harapan yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil. Ia tidak meminta mainan atau kekayaan. Ia hanya menyimpan satu doa sederhana, diulang dengan tekun, hingga suatu hari doa itu dijawab dengan cara yang tak pernah dibayangkan siapa pun.
Namanya Rafa Albiru. Usianya dua belas tahun. Tubuhnya kecil, bahunya sempit, wajahnya masih menyimpan sisa kanak-kanak yang belum sepenuhnya disentuh kerasnya hidup. Ia tinggal di Kampung Sela, kampung sunyi di tepi sawah yang lebih sering dilewati angin daripada kabar.
Baca cerpen lainnya: Ketika Imam Kecil Itu Lari
Ayahnya, Jasim, buruh harian yang pekerjaannya berpindah-pindah mengikuti musim. Hari ini mengangkut pasir, besok membersihkan kebun orang, lusa belum tentu bekerja. Ibunya, Marni, penjahit rumahan dengan mesin tua yang kadang lebih banyak batuk daripada menjahit.
Hidup mereka tidak pernah berlebih. Untuk makan pun, Marni sering menakar beras dengan hitungan yang nyaris seperti doa.
Namun Rafa memiliki kebiasaan yang membuat orang-orang dewasa di mushala diam lebih lama dari biasanya.
Setiap selesai salat, ketika jemaah lain berdiri dan melipat sajadah, Rafa tetap duduk. Tangannya terangkat perlahan, matanya terpejam rapat.
“Ya Allah, izinkan saya melihat Ka’bah sebelum saya besar.”
Doa itu tidak berubah. Tidak hari ini, tidak esok, tidak juga bulan berikutnya. Ia mengulanginya dengan suara lirih, seolah khawatir doanya terdengar terlalu tinggi.
Suatu sore, seorang anak yang lebih besar menepuk bahunya.
“Rafa, ke Makkah itu mahal. Kamu kira nabung receh cukup?”
Rafa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, lalu menunduk lagi ke kaleng biskuitnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia berhenti sejenak sebelum berdoa. Bibirnya bergerak tanpa suara lebih lama dari biasanya—seperti sedang menimbang sesuatu yang tak ingin ia akui.
Namun doa itu tetap ia ucapkan.
Ketika anak-anak seusianya sibuk bermain gawai pinjaman atau berlarian mengejar layang-layang, Rafa lebih sering membantu ayahnya. Mengangkat barang, menyapu halaman orang, atau sekadar menemani. Sore hari ia mengaji di mushala kecil. Malamnya, ia memasukkan receh ke dalam kaleng biskuit bekas. Tidak pernah banyak, tapi selalu ada.
Beberapa orang menganggapnya anak baik. Sebagian lain menganggapnya terlalu lugu. Ada pula yang diam-diam merasa iba, karena tahu mimpi Rafa seperti langit yang terlalu jauh untuk dipanggil dari kampung sekecil itu.
Suatu malam selepas Isya, Ustaz Hamdan berdiri di depan jemaah. Suaranya pelan namun mantap. Ia mengumumkan program umrah hasil patungan jemaah dan donatur. Satu kursi disediakan khusus—bukan untuk yang kaya, bukan pula untuk yang dikenal—melainkan untuk anak dhuafa yang menjaga salat dan adabnya dengan istiqamah.
Nama Rafa disebut.
Mushala seperti menahan napas. Marni menutup wajahnya, air matanya jatuh tanpa suara. Jasim terduduk lama, matanya berkaca-kaca seperti orang yang baru diingatkan bahwa ada doa-doa kecil yang tidak pernah benar-benar hilang.
Perjalanan itu tidak mudah.
Di pesawat pertama dalam hidupnya, jari-jari Rafa dingin menggenggam sandaran kursi. Ia tidak banyak bicara. Di Madinah, ia menangis lama di Raudhah tanpa tahu harus berkata apa. Air matanya jatuh pelan, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Di Makkah, saat matanya pertama kali menangkap Kabah, langkah Rafa terhenti.
Ia berdiri lama.
Lalu lututnya pelan-pelan melemah.
Ia tidak berdoa panjang.
“Ya Allah… terima kasih,” bisiknya hampir tak terdengar. “Engkau tidak mengabaikan saya.”
Sepulang umrah, Rafa berubah—bukan menjadi anak yang berbeda, tetapi seperti anak yang hatinya sudah tahu ke mana harus pulang. Ia lebih tenang, lebih lembut. Ia rajin salat, menjaga lisan, dan kadang mengingatkan orang dewasa dengan kalimat sederhana.
“Kalau Allah mau,” katanya suatu sore kepada ayahnya, “yang jauh bisa jadi dekat.”
Namun tubuh Rafa mulai sering lelah.
Batuknya tidak kunjung sembuh. Demamnya datang dan pergi seperti tamu yang lupa pamit. Marni mengira itu hanya kelelahan sepulang perjalanan jauh. Jasim mencoba mempercayai itu, meski setiap malam ia memeriksa napas anaknya lebih lama dari yang diperlukan.
Tiga bulan kemudian, rumah sakit kecil di kecamatan menjadi saksi malam yang sangat sunyi.
Rafa terbaring dengan napas pendek. Jasim menggenggam tangan anaknya, merasakan hangat yang perlahan surut seperti air laut yang diam-diam menarik diri.
Rafa membuka mata. Senyumnya tipis, tapi tenang.
“Ayah,” katanya pelan, “saya sudah melihat Ka’bah. Allah tepat janji.”
Subuh itu, Rafa pulang.
Tanpa gaduh.
Tanpa keluhan.
Orang-orang kampung baru memahami sesuatu yang selama ini luput mereka baca. Doa Rafa bukan tentang perjalanan jauh. Bukan tentang cerita atau foto.
Ia hanya ingin melihat Ka’bah sebelum ia besar.
Kaleng biskuit di rumah itu tidak pernah dibuka lagi. Isinya bukan lagi sekadar receh, melainkan keyakinan sunyi: kadang doa dijawab bukan dengan umur yang panjang, melainkan dengan harapan yang dituntaskan tepat waktu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












