Feature

Dari Pasar Tradisional ke Pasar Modern, TK Aisyiyah III Kota Probolinggo Belajar Bertransaksi

33
×

Dari Pasar Tradisional ke Pasar Modern, TK Aisyiyah III Kota Probolinggo Belajar Bertransaksi

Sebarkan artikel ini
Beberapa siswa TK Aisyiyah III dengan pakaian profesi 10 September 2025 (Tagar.co/Hendriani Okvinasari)

Bersama guru dan teman sekelas, siswa TK Aisyiyah III menjelajahi pasar tradisional dan pasar modern, merasakan pengalaman nyata bertransaksi dan berinteraksi.

Tagar.co – Sejak Rabu pagi, 10 September 2025 halaman TK Aisyiyah (ABA) III Ade Irma Suryani Kota Probolinggo, Jawa Timur, sudah dipenuhi riuh tawa siswa dan siswi yang mengenakan seragam profesi impian mereka.

Ada yang tampil gagah dengan seragam polisi lengkap dengan topi, ada yang mengenakan jas putih ala dokter cilik dengan stetoskop mainan, ada pula yang berpenampilan sebagai koki dengan topi chef besar, pramugari mungil berjilbab kuning, hingga tentara kecil dengan baju loreng.

Bahkan ada yang memilih tampil sebagai pilot, kapten kapal, pemadam kebakaran, dan pemain bola. Warna-warni seragam membuat suasana sekolah tampak seperti miniatur dunia profesi.

Baca juga: Tiga Hari Menempa Karakter: Mozaik Ramadan TK Aisyiyah III Kota Probolinggo

Hari itu merupakan momen spesial dalam agenda Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kota Probolinggo setiap tanggal 10, dikenal sebagai “Profession Day” atau Hari Profesi, di mana anak-anak Bustanul Athfal se-kota berkesempatan merasakan profesi yang mereka sukai.

Dengan semangat, anak-anak membawa tas dan botol minum dari rumah, siap mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran di luar sekolah. Armada angkutan umum pun telah menunggu, siap mengantar mereka ke destinasi pertama: Pasar Krono di daerah Mayangan, pasar tradisional yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari.

Sebelum berangkat, masing-masing anak mendapat uang jajan Rp 10.000 dari rumah, dengan arahan guru untuk membaginya: Rp 5.000 untuk belanja di pasar tradisional, dan sisanya di pasar modern.

Sesampainya di pasar, anak-anak diarahkan ke empat barisan sesuai kelas masing-masing, dipandu wali kelas. Mereka berjalan menyusuri lorong pedagang ikan, sayur, tempe, tahu, hingga toko kelontong yang menjual sabun, minyak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Para siswa asyik berbelanja. Sementara guru-guru pun terlihat sigap, mendampingi dengan penuh kesabaran sembari sesekali membantu menawar harga agar sesuai dengan uang jajan yang dibawa.

“Bu, boleh beli wortel, cabai, dan bawang lima ribu saja?” tanya Aryan Manggala Adriyanto dengan percaya diri.

“Boleh, Nak!” jawab Bu Tinah, penjual sayur, sambil tersenyum.

Gala sapaannya, menyerahkan uangnya, dan tak lama kemudian bungkusan sayur lengkap diterimanya.

“Terima kasih ya, Bu,” ucapnya.

Anak-anak lainnya pun melakukan transaksi serupa, membawa pulang belanjaan sederhana mereka satu per satu.

Muhammad Kenzie Afifurrahman Rasendriya (kanan) sedang bertransaksi di pasar bersama teman-temannya 10 September 2025 (Tagar.co/Hendriani Okvinasari)

Ke Pasar Modern

Tujuan selanjutnya adalah sebuah mini market. Anak-anak turun dari angkot dan masih berbaris sesuai kelas dan guru masing-masing.

Karena tempat terbatas, mereka harus bergantian masuk. Tiba giliran Gala dan teman-temannya, mereka diajak keliling melihat rak penuh barang, mulai susu, sosis, roti, hingga es krim.

Sebelum menikmati makanan yang dipilih, anak-anak harus antre di kasir. Di situlah mereka belajar transaksi modern.

“Bu guru, ini namanya apa?” tanya Muhammad Kenzie Afifurrahman Rasendriya alias Kenzie sambil menunjuk kertas kecil dari kasir.

“Ini namanya struk pembelian, Nak. Struk ini jadi bukti bahwa kita sudah membayar dan menunjukkan jumlah serta harga barang yang dibeli,” jelas Bu Iis, sapaan Aisyatur Rofikhoh, guru kelas B2.

Anak-anak tampak kagum melihat angka-angka di struk, lalu dengan riang duduk di teras pasar untuk menikmati susu, sosis, roti, maupun es krim yang baru mereka beli.

Setibanya di sekolah, anak-anak diarahkan mencuci tangan lalu duduk bersama wali kelas. Guru menanyakan perasaan mereka, lalu mengulas kembali kegiatan sejak awal agar pemahaman lebih mendalam.

Anak-anak diingatkan bahwa tujuan hari itu adalah mengenal fungsi uang sebagai alat tukar, memahami nilai mata uang mulai Rp 500 hingga Rp 10.000, mempraktikkan belanja di pasar tradisional dan modern, sekaligus melatih keberanian berinteraksi dalam jual beli di tempat berbeda.

Hari ditutup pukul 12.00 WIB dengan makan siang bersama dan salat Zuhur berjemaah. Guru juga menyampaikan umpan balik kepada orang tua lewat WhatsApp grup, meminta agar hasil belanja anak-anak diolah di rumah dengan sepenuh hati.

Respon orang tua pun antusias. Salah satunya dari Siti Yoanita Adrina, wali murid kelas B2, yang menuliskan pesan singkat tentang anaknya Muhammad Iqbal Ridwan: Iqbal sudah tidak sabar, Bunda. Saya baru datang, langsung disuruh potong sayur, tempe, dan buat bumbu oseng tempe.”

Pesan itu disusul dengan tambahan: “Iqbal juga semangat membantu mengolahnya, Bund!” lengkap dengan emoji senyum dan jempol. (#)

Jurnalis Hendriani Okvinasari Penyunting Mohammad Nurfatoni