Feature

Dari Marbot Jadi Doktor: Abdul Majid Tuntaskan Disertasi soal Dosen PTM

41
×

Dari Marbot Jadi Doktor: Abdul Majid Tuntaskan Disertasi soal Dosen PTM

Sebarkan artikel ini
Abdul Majid dan keluarganya dan pimpinan Umla (Tagar.co/Istimewa)

Dulu marbot masjid, kini doktor manajemen. Abdul Majid resmi menuntaskan disertasi tentang kinerja dosen PTM berbasis Catur Darma. Perjalanan hidupnya menggambarkan dedikasi, spiritualitas, dan kontribusi nyata dalam pendidikan tinggi Muhammadiyah.

Tagar.co – Senin, 21 Juli 2025 menjadi hari istimewa bagi Abdul Majid. Dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) itu resmi menapaki puncak perjalanan akademiknya melalui Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Determinan Kinerja Dosen Berbasis Catur Dharma pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur.”

Ini bukan sekadar ujian akademik, melainkan penanda perjalanan panjang dan penuh perjuangan. Abdul Majid, yang kini menjadi salah satu dosen inspiratif di Umla, memulai langkahnya dari posisi yang sangat sederhana: sebagai marbot Masjid Al-Ikhlas di SMP Muhammadiyah 2 Lamongan. Pengalaman itulah yang menanamkan nilai-nilai keislaman, keikhlasan, dan semangat pengabdian yang kini menjadi ruh dalam kiprah pendidikannya.

Dalam paparannya, Majid membeberkan latar belakang riset yang ia lakukan. Dari 164 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) di Indonesia, 25 di antaranya—sekitar 15,24 persen—berada di Jawa Timur.

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Namun, dari 2.650 dosen yang tercatat, hanya 8,38 persen yang telah mencapai jabatan Lektor Kepala dan 2,94 persen sebagai guru besar. Angka ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam pengembangan kapasitas dosen di lingkungan PTM.

Disertasinya menyoroti implementasi Catur Darma PTM, yang mencakup pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Berdasarkan survei awal, Majid menemukan bahwa aspek AIK cenderung kurang menonjol dibandingkan tiga aspek lainnya. Kesenjangan ini menjadi landasan kuat baginya untuk mengkaji lebih dalam determinan kinerja dosen PTM, khususnya dari sisi spiritual dan ideologis.

Penelitian ini melibatkan 189 responden dari 16 PTM di Jawa Timur dan menggunakan pendekatan analisis Partial Least Square (PLS). Enam hipotesis utama yang diajukan Majid seluruhnya diterima secara statistik.

Beberapa temuan penting yang dihasilkan antara lain:

  • Intellectual capital, efektivitas kepemimpinan, dan komunikasi organisasi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dosen.

  • Dukungan organisasi memainkan peran penting sebagai variabel moderasi yang mampu memperkuat atau memperlemah pengaruh tiga variabel utama tersebut.

  • Nilai-nilai AIK layak dijadikan indikator baru dalam pengukuran kinerja dosen PTM, karena memperkuat dimensi spiritual dan ideologis dalam sistem manajemen kampus.

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Dari sisi teoretis, riset ini memperkaya khazanah Social Exchange Theory dan Human Relations Theory. Sementara dari aspek praktis, Majid menawarkan sejumlah rekomendasi peningkatan kinerja dosen, mulai dari pelatihan berkala, penguatan ideologi persyarikatan, hingga pembenahan sistem insentif organisasi.

Menutup sesi presentasi, Majid menyampaikan harapannya agar PTM semakin serius dalam meningkatkan kualitas AIK dosen melalui program seperti Baitul Arqam, kaderisasi yang terarah, dan insentif berbasis nilai-nilai persyarikatan. Ia juga mendorong rekan-rekan dosen untuk tidak berhenti belajar dan terus aktif dalam publikasi ilmiah, demi kemajuan pendidikan tinggi Muhammadiyah.

Suasana ujian berlangsung khidmat dan sarat semangat ilmiah. Hadir dalam kesempatan ini para promotor, penguji, tamu undangan, serta keluarga besar Abdul Majid yang turut memberikan dukungan penuh. Keikutsertaan civitas akademika UMLA menjadi simbol nyata kolaborasi antara keluarga, institusi, dan nilai-nilai Muhammadiyah dalam mendorong kontribusi keilmuan yang lebih luas. (#)

Jurnalis Rohmat Penyunting Mohammad Nurfatoni