Cerpen

Beras Jatah, Burung Grejo, dan Rahasia yang Terungkap

37
×

Beras Jatah, Burung Grejo, dan Rahasia yang Terungkap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Di balik karung beras jatah yang legendaris, tersimpan kisah satir tentang PNS, rapat absurd, dan seekor burung grejo yang tiba-tiba bisa bicara. Tapi rahasia terakhirnya justru membuka tawa sekaligus sindiran yang tak terduga.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Beras jatah pegawai negeri memang terkenal “legendaris” katanya kalau dimasak bisa berubah jadi nasi, tapi sebelum itu, bentuknya lebih mirip pakan burung kelas menengah.

Di balik butiran putih keruhnya tersimpan banyak cerita, mulai dari strategi bertahan hidup ala PNS hingga mitos burung grejo yang bisa makan padi tanpa harus dimasak.

Di sebuah kantor kelurahan yang cat temboknya lebih kusam daripada spanduk caleg gagal, para pegawai negeri sibuk membicarakan beras jatah bulanan. Bukan soal banyaknya, bukan pula soal kualitasnya, melainkan tentang “tantangan hidup” yang terkandung dalam setiap karung.

Baca cerpen lainnya: Cahaya di Balik Jeruji

“Beras jatah ini bukan sekadar makanan,” kata Pak Darto, bendahara yang perutnya sudah melampaui meja kerjanya. “Ini adalah ujian keimanan. Kalau bisa dimakan, berarti iman kita kuat. Kalau nggak bisa, berarti iman kita rapuh.”

“Lha, terus kalau bisa dimakan tapi malah sakit perut gimana, Pak?” tanya Bu Rini sambil memoles bedak bayi ke wajahnya, entah berharap jadi glowing atau sekadar menutupi rasa kantuk.

“Ya itu artinya pahala kita dobel, Bu,” jawab Pak Darto mantap.

Baca Juga:  Jangan Biarkan Sedih Menghapus Nikmat

Tawa pun meledak di ruangan. Mereka sudah terbiasa menertawakan nasib.

Setiap bulan, datanglah satu truk penuh karung beras jatah. Uniknya, beras itu seperti punya kepribadian sendiri: warnanya setengah transparan, aromanya seperti sandal jepit basah, dan teksturnya keras bagai batu kali yang gagal disemen. Kalau digosok, bukan keluar cahaya, tapi keluar debu nostalgia.

Pak Lurah sering menyebut beras itu sebagai “beras ninja.” Alasannya sederhana: begitu dimasak, beras itu suka hilang separuh, entah menguap, entah melarikan diri lewat ventilasi.

“Kayaknya ada jurus kabur di dalamnya,” katanya.

Namun, topik paling hangat datang dari burung grejo milik Pak Bawon, satpam kantor. Burung ini terkenal bandel, cerewet, dan punya selera makan aneh: suka langsung mematuk padi mentah.

Padakno burung grejo ae mangan pari,” kata Pak Bawon penuh kebanggaan. “Kalau burung aja bisa, masak PNS kalah?”

Masalahnya, burung grejo itu punya kebiasaan bikin repot. Setiap habis makan padi, ia terbang ke genteng musala dan berkicau keras-keras jam tiga sore, dengan nada mirip alarm Nokia 3310. Akibatnya, warga desa sering salah kira: “Ini udah azan magrib atau masih waktu asar?”

Para pegawai pun mulai berpikir: bagaimana kalau beras jatah ini kita serahkan saja ke burung grejo? Toh dia bisa makan tanpa perlu dimasak. Maka digelarlah rapat darurat ala DPR mini.

Baca Juga:  Yang Tak Ikut Runtuh: Kisah Danny Menjaga Mimpi

“Agenda utama: optimalisasi distribusi beras jatah,” kata Pak Darto serius sambil mengetuk meja dengan botol Yakult kosong.

  • Usulan pertama: kasih semua beras ke burung grejo, lalu kita nikmati kicauannya yang lebih enerjik.
  • Usulan kedua: jual saja beras jatah ke tengkulak, hasilnya buat beli mi instan.
  • Usulan ketiga: kembangkan teknologi mutakhir bernama “beras rebus,” yaitu beras yang direbus dulu sebelum dimasak.

“Lha itu namanya nasi, Pak!” protes Bu Rini.

“Oh iya ya…” jawab Pak Darto, wajahnya merah kayak lampu lalu lintas.

Di tengah rapat yang makin absurd, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Burung grejo itu masuk, terbang berputar, lalu hinggap di meja rapat. Semua orang terdiam.

Burung itu menatap mereka dengan tatapan penuh wibawa, seolah berkata: “Kalian ini ribut aja, padahal solusinya simpel.”

Lalu, dengan gagah, burung itu mematuk segenggam beras jatah di meja. Semua mata melotot. Dan yang lebih mengejutkan, setelah menelan butiran itu, burung grejo langsung… bicara.

“Saudara-saudara,” katanya dengan suara parau mirip komentator bola yang kehausan, “kalian telah salah paham selama ini. Beras jatah bukanlah makanan. Ia adalah simbol penderitaan bersama, agar kalian tetap bersatu, tetap rendah hati, dan tidak sombong.”

Ruangan mendadak hening. Pak Lurah sampai menjatuhkan pulpen.

“Kalau begitu, beras ini harus diapakan, Burung?” tanya Bu Rini gemetar.

Burung grejo tersenyum atau paruhnya sedikit melengkung ke atas. “Beras ini… harus dijadikan pupuk. Dari pupuk lahirlah padi baru, dari padi lahirlah kehidupan. Jangan dimakan, nanti malah sakit perut.”

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Semua orang angguk-angguk. Mereka bertepuk tangan meriah. Burung itu mengepakkan sayap, lalu keluar ruangan dengan aura pahlawan.

Hari-hari berikutnya, pegawai kelurahan mengubah beras jatah jadi pupuk. Sawah-sawah jadi subur, panen berlipat. Desa itu akhirnya dikenal sebagai “Kampung Padi Abadi.” Warga senang, pegawai bangga.

Namun suatu malam, Pak Darto terbangun karena mendengar suara aneh di dapur. Saat ia intip, betapa terkejutnya: burung grejo sedang duduk manis di kursi, makan nasi hangat dengan lahap.

“Nggak salah kan, burung makan nasi?” katanya sambil nyengir. “Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Nasi itu lebih enak, Bro. Gue cuma ngibul kemarin biar beras jatah nggak kalian makan. Kualitasnya emang jelek, mending beli di warung sebelah.”

Pak Darto terpaku. Keesokan paginya, ia hendak membongkar rahasia itu. Tapi begitu sampai kantor, ia melihat sesuatu yang bikin kaget: di halaman kelurahan sudah berdiri tugu baru patung burung grejo, dengan tulisan: “Pahlawan Beras Jatah, Penyelamat Negeri.”

Semua orang hormat pada patung itu setiap pagi.

Sementara burung grejo aslinya? Masih nongkrong di dapur rumah Pak Darto, makan nasi uduk lengkap dengan sambal terasi, sambil tertawa terbahak-bahak. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…