
Lima puluh empat siswa SD Almadany Kebomas memborong ilmu dan inspirasi di Festival Literasi Out of the Book WEP Gresik, menikmati pengalaman belajar menyenangkan sambil menyalakan semangat membaca sejak dini.
Tagar.co – Deretan meja penuh buku dengan papan bertuliskan “14 Buku Cuma 100.000” menyambut rombongan siswa SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Grisk begitu mereka melangkah masuk ke Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP), Senin (13/10/2025).
Suasana ramai, riuh, dan penuh warna seolah menjadi surga kecil bagi para pencinta buku cilik. Sebanyak 54 siswa hadir bersama tujuh guru pendamping, menjelajahi setiap sudut arena pameran dengan rasa ingin tahu yang besar.
Baca juga: Jelajah Dunia Literasi: Beragam Petualangan Jurnalis Cilik Mugeb di OOTB
Mereka bukan sekadar berwisata, melainkan berziarah ke dunia literasi—belajar, berinteraksi, dan menyalakan api cinta membaca di Festival Literasi Out of the Book (OOTB) Gudang Buku Keliling yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Gresik bekerja sama dengan penerbit Mizan.
Lebih dari Sekadar Bazar Buku
Festival literasi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kunjungan Perpustakaan dan menjadi bagian dari program nasional Out of The Book yang telah berkeliling ke enam kota: Tuban, Tasikmalaya, Salatiga, Pekanbaru, Gresik, dan Kudus. Di Gresik, agenda berlangsung sejak 23 September hingga 14 Oktober 2025.
Tak hanya bazar buku dengan potongan harga hingga 60 persen, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti lomba baca puisi, pelatihan aksara Jawa dan bahasa isyarat, hingga forum diskusi para pegiat literasi se-Gresik.
Ribuan pengunjung datang, termasuk para guru dan siswa dari berbagai sekolah, menjadikannya ajang kolaborasi antara pelajar, penerbit, dan pemerhati literasi.
“Ajang ini bukan sekadar jual-beli buku, tetapi ruang bertemu ide dan pengetahuan,” ujar salah satu guru pendamping SD Almadany. Anak-anak pun terlihat antusias memborong buku favorit mereka—dari komik edukatif, ensiklopedia sains, hingga novel anak islami.

Gudang Buku dan Harapan Baru
Festival kali ini menampilkan lebih dari 20 juta buku dari berbagai genre—mulai dari buku anak, fiksi, nonfiksi, edukasi, politik, hingga pengembangan diri. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menemukan beragam mainan edukatif dan alat tulis dari ratusan penerbit nasional maupun internasional.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan masyarakat dengan sumber bacaan berkualitas.
“Bazar buku ini kami hadirkan agar masyarakat lebih mudah mengakses buku-buku bermutu tanpa harus pergi jauh. Harapannya, kegemaran membaca terus tumbuh dan rasio ketersediaan buku meningkat dari satu buku untuk empat orang menjadi empat buku untuk satu orang per tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, peningkatan itu diharapkan dapat mengangkat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Gresik ke kategori “sangat baik”.
“Dengan demikian, budaya literasi benar-benar menjadi gaya hidup masyarakat Gresik,” ujarnya optimistis.
Belajar, Bermain, dan Bertutur
Selain bazar, rangkaian kegiatan bertajuk Back to Books juga digelar. Program ini meliputi lomba-lomba literasi bagi siswa SD, SMP, dan SMA; lomba bertutur untuk anak SD; kelas literasi berupa pelatihan huruf Jawa dan huruf Poesponegoro; serta kegiatan dongeng dan read aloud bagi anak-anak TK dan SD.
Bagi siswa SD Almadany, kegiatan ini menjadi pengalaman tak terlupakan. “Senang sekali bisa lihat buku sebanyak ini. Aku beli buku tentang hewan dan cerita sahabat Nabi,” kata seorang siswa dengan mata berbinar.
Dari tumpukan buku dan keriuhan anak-anak yang tertawa, terselip pesan besar: literasi bukan sekadar membaca, tetapi membentuk cara berpikir dan menumbuhkan rasa ingin tahu. Dan hari itu, di WEP, api cinta literasi kembali menyala—dinyalakan oleh tangan-tangan kecil yang berani bermimpi. (#)
Jurnlis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni












