Feature

Aneka Ujian Haji 2025: Sabar dan Cinta yang Naik Level

36
×

Aneka Ujian Haji 2025: Sabar dan Cinta yang Naik Level

Sebarkan artikel ini
Antre lift di hotel pascasalat wajib dari Masjidilharam (Tagar.co/Firman Arifin)

Haji 2025 bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi juga ujian cinta, sabar, dan husnuzan. Saat kloter terpisah, koper salah, hingga hotel belum siap, pahala sabar terus diam-diam mengalir.

Catatan dari Tanah Suci (Seri 2) oleh Firman Arifin, Jemaah Haji 2025, Kloter 92 Nurul Hayat

Tagar.co – “Sabar ya, Bu. Ini bukan hotel biasa, ini ‘hotel perjuangan’.”

Begitulah bisik-bisik penuh cinta di antara jemaah haji tahun 2025. Kalau biasanya drama terjadi di sinetron malam hari, kali ini dramanya ada di jadwal penerbangan, di atas bus, bahkan saat antre lift yang penuh dan tak kunjung bergerak.

Jadwal Kloter Hari Ini A, Besok Bisa Z

Sejak awal, haji tahun ini mengajarkan satu hal penting: yang tetap hanyalah perubahan. Jadwal kloter yang sudah diumumkan dan dicatat rapi di buku jemaah ternyata hanya “rencana.” Bisa saja malam diumumkan berangkat pukul 09.00, eh, paginya berubah jadi pukul 23.00.

Seorang jemaah sempat berseloroh, “Saya ini haji apa daftar waiting list maskapai ekonomi promo, ya?”

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Suami-Istri Terpisah, Ujian Cinta Level Haram

“Pak, saya cari suami saya, kok nggak ada di kloter ini?”

“Oh, Ibu, beliau di kloter 91. Ibu 92.”

Sejak itu, bermunculan wajah-wajah sendu, terutama dari para istri yang biasanya suaminya yang membawakan koper. Kali ini, koper harus ditarik sendiri … plus bawa tas oleh-oleh yang belum dibeli.

Baca juga: Ka’bah dan Medan Magnet Rohani

Tapi jangan salah, ini justru menguatkan doa. Banyak yang meneteskan air mata saat tawaf bukan hanya karena haru, tapi juga karena kangen pasangan yang tak kunjung muncul.

Hikmahnya? Romantisme naik level. Didukung doa di Multazam. Kepemilikan tertinggi itu nyata. Berebes mili.

Orang Tua Vs. Anak: Kursi Roda Tak Menjamin Dekat

Anak yang ingin mendampingi ibunya naik kursi roda ternyata malah dapat kloter atau hotel berbeda.

Ada yang awalnya ingin menjadi “malaikat penjaga mama,” malah jadi “pencari mama dari kamar ke kamar.”

Seorang jemaah berkata sambil senyum getir, “Saya sampai lebih khusyuk doanya. Gak tahu mama di mana, tapi yakin Allah jaga.”

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Hotel? Belum Jelas, Makanan? Apalagi!

Banyak jemaah akhirnya paham makna sabar secara live streaming langsung dari hati. Begitu tiba di Makkah, ternyata hotel belum disiapkan. Akhirnya duduk di lobi, selawatan, ngaji Yasin, dan tentu saja buka camilan bekal di tas yang sudah jadi ‘harta karun’ dari Tanah Air.

Kalimat viral di grup WhatsApp jemaah: “Kalau hotel belum jelas, pasti makan juga belum jelas. Tapi tenang, pahala insyaallah jelas.”

Hikmahnya? Banyak, tapi yang Paling Penting: Kesabaran Kolektif

Haji 2025 ini bukan sekadar ibadah, tapi semacam pelatihan jiwa. Mulai dari pelatihan fleksibilitas, kepemimpinan (khususnya bagi karu dan karom [kepala rombongan] yang jadi penanggung jawab komunitas tersesat sesaat termasuk mengurus kartu Nusuk yang tercecer), hingga pelatihan seni bersyukur.

Karena ternyata…

Saat kita tidak tahu kamar kita, kita jadi lebih banyak mengingat rumah kita.
Saat makanan belum datang, kita jadi lebih ingat nikmatnya lauk tempe di Tanah Air.
Dan saat terpisah dari orang-orang tercinta, kita jadi lebih mengandalkan Allah sepenuhnya.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Jadi, kalau kita sedang di Tanah Suci dan merasa hidup teracak… tenang saja. Ini bukan ketidakberesan. Ini adalah versi spesial dari perjalanan haji, hanya untuk mereka yang diundang langsung oleh Allah di tahun 2025.

Karena di balik kloter yang terpisah, koper yang salah, hotel yang belum siap, makanan yang belum datang… ada pahala sabar yang diam-diam bertambah banyak tanpa harus dicatat manual.

Selamat menikmati Haji Bahagia 2025.

Karena bahagia itu bukan hanya saat ada hotelnya, tapi saat hati tetap husnuzan, termasuk saat antre lift yang justru jadi bahan kenalan dan menambah pahala silaturahim. Onok ae, Rek! (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni