
Para petinggi media sosial justru membatasi anak-anak mereka dari layar. Fenomena ini menyimpan pesan serius bagi para orang tua tentang bahaya algoritma dan masa depan generasi digital.
Oleh Ansorul Hakim, Guru PAI SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Di tengah derasnya arus digital yang menembus hampir setiap sudut kehidupan, media sosial (medsos) telah menjelma menjadi ruang utama tumbuh kembang anak dan remaja. Mereka hidup dalam dunia yang dipenuhi layar, notifikasi, dan algoritma.
Namun ironisnya, justru para petinggi teknologi—orang-orang yang membangun dan mengendalikan platform tersebut—memilih bersikap sangat hati-hati dalam memperkenalkan media sosial kepada anak-anak mereka sendiri.
CEO YouTube, Neal Mohan, misalnya, menerapkan aturan ketat terkait penggunaan media sosial di lingkungan keluarganya. Ia tidak sedang memusuhi teknologi.
Mohan dalam wawancara terbaru mengatakan bahwa dirinya dan istrinya berupaya membatasi waktu penggunaan platform seperti YouTube oleh anak-anak mereka dan menekankan pentingnya kontrol orang tua atas aktivitas online keluarga.
Sebaliknya, ia memahami betul betapa kuatnya pengaruh algoritma dalam membentuk kebiasaan, pola pikir, bahkan emosi penggunanya. Tanpa batas yang jelas, pengaruh itu dapat merembes ke hampir seluruh aspek kehidupan, terutama pada anak yang masih membangun identitas diri.
Baca juga: Dekat dengan Layar, Jauh dari Hati
Algoritma tidak pernah netral. Ia dirancang untuk membaca kebiasaan, lalu menyajikan konten yang membuat pengguna betah berlama-lama. Bagi orang dewasa yang telah matang secara emosional, mekanisme ini mungkin masih dapat dikendalikan.
Namun bagi anak-anak dan remaja, algoritma dapat dengan mudah menggeser nilai, membentuk selera, serta memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
Sejalan dengan Petinggi Lainnya
Sikap Neal Mohan sejalan dengan sejumlah tokoh besar teknologi lainnya yang berasal dari pusat industri digital dunia, Silicon Valley, wilayah di Amerika Serikat yang menjadi jantung inovasi perusahaan-perusahaan teknologi global.
Dari sana lahir nama-nama besar seperti Steve Jobs, pendiri Apple, yang dikenal sangat membatasi penggunaan gawai pada anak-anaknya.
Steve Jobs memang dikenal membatasi penggunaan gadget, termasuk iPad dan iPhone, untuk anak-anaknya ketika masih hidup. Beberapa sumber menyebut bahwa ia dan istrinya lebih memilih aktivitas non-layar bagi anak-anak mereka ketika produk itu pertama kali muncul.
Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft, juga menerapkan aturan ketat terkait durasi layar di rumah. Evan Spiegel, CEO Snap Inc., bahkan secara terbuka menegaskan pentingnya kontrol orang tua dalam konsumsi digital anak.
Fenomena ini menghadirkan pertanyaan kritis: jika para pencipta dan pengelola teknologi saja begitu waspada, mengapa banyak orang tua justru menyerahkan gawai sepenuhnya kepada anak tanpa pendampingan?
Media sosial bukan sekadar sarana hiburan. Ia adalah ruang pembentukan opini, emosi, dan identitas. Arus konten yang terus mengalir tanpa jeda dapat memengaruhi kesehatan mental, menurunkan kemampuan fokus, serta mengikis kesabaran dalam menghadapi proses kehidupan yang tidak serba instan. Anak yang terlalu lama tenggelam dalam layar berisiko kehilangan kepekaan sosial dan ketangguhan emosional.
Di sinilah urgensi literasi digital menemukan maknanya. Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai atau mengikuti tren aplikasi terbaru, melainkan kecakapan memahami dampak, mengenali batas, dan menyadari kapan harus berhenti. Anak perlu dibekali kesadaran bahwa tidak semua yang muncul di layar layak ditiru, dan tidak semua yang viral pantas dijadikan standar hidup.
Peran orang tua menjadi sangat menentukan. Pendidikan digital tidak cukup berhenti pada larangan dan pembatasan, tetapi harus dilengkapi dengan pendampingan dan dialog. Aturan screen time, kesepakatan penggunaan gawai, serta kebiasaan beraktivitas tanpa layar merupakan bagian dari pendidikan karakter di era digital.
Lebih dari itu, anak belajar terutama dari teladan. Sulit mengharapkan anak bijak bermedia jika orang tua sendiri tidak pernah lepas dari layar.
Scrolling media sosial memang menawarkan kesenangan, bahkan kecanduan. Namun jeda adalah kebutuhan, bukan kemunduran. Jeda memberi ruang bagi anak untuk berpikir, berkreasi, berinteraksi secara nyata, dan mengenali dirinya tanpa tekanan algoritma. Para petinggi teknologi memahami bahwa masa kanak-kanak dan remaja adalah fase krusial pembentukan karakter, bukan sekadar masa konsumsi konten.
Ketika para tokoh besar dunia digital memilih membatasi anak-anak mereka dari media sosial, itu bukan kemunafikan, melainkan peringatan serius. Teknologi adalah alat yang sangat bermanfaat, tetapi tanpa kebijaksanaan, ia dapat berubah menjadi bumerang.
Bagi para orang tua hari ini, pesan ini layak menjadi refleksi bersama: mendidik anak di era digital bukan tentang menjauhkan mereka dari teknologi, melainkan membekali mereka dengan kesadaran, kendali diri, dan keberanian untuk berhenti sejenak. Dari rumah yang sadar digital, generasi yang lebih sehat, kritis, dan berdaya dapat tumbuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












