Feature

ADHD Bukan Penghalang: Array Raih Lima Medali Renang dalam Dua Bulan

46
×

ADHD Bukan Penghalang: Array Raih Lima Medali Renang dalam Dua Bulan

Sebarkan artikel ini
Harun Rasyid Ar-Rais dengan medali yang dia peroleh (Tagar.co/Istimewa)

Didiagnosis ADHD sejak dini tak menghalangi Array menorehkan prestasi. Lewat disiplin latihan renang dan pendampingan penuh cinta, bocah 10 tahun asal Bogor ini berhasil meraih lima medali di kejuaraan regional.

Tagar.co – Prestasi membanggakan ditorehkan Harun Rasyid Ar-Rais. Bocah 10 tahun yang akrab disapa Array itu berhasil meraih lima medali dari sejumlah kejuaraan renang series tingkat regional. Capaian ini terasa istimewa karena Array merupakan anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Siswa kelas 4 SD Ibnu Miskawaih Bogor, Jawa Barat, tersebut membuktikan bahwa perbedaan kondisi neuropsikologis bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan latihan terarah dan pendampingan konsisten, Array justru mampu tampil kompetitif di arena olahraga.

Baca juga: Menguak Potensi Terpendam Remaja di Seminar Edukasi Santri Ummul Quro

Tiga medali—dua emas dan satu perunggu—diraih Array pada kejuaraan renang yang digelar di Kompleks Renang PVSC Sentul, Bogor, 24 Januari 2026. Ajang tersebut diikuti atlet-atlet muda dari berbagai klub renang di Bogor dan sekitarnya, dan menjadi arena persaingan ketat bagi peserta usia sekolah dasar.

Sementara itu, dua medali lainnya—satu emas dan satu perak—berhasil dibawa pulang Array dari kejuaraan renang series yang berlangsung pada Desember 2025. Total lima medali itu diraih dalam rentang waktu yang relatif singkat, seiring meningkatnya intensitas latihan yang disiplin dan terstruktur.

Nuraini, M.Pd., ibunda Array, menilai capaian tersebut bukan semata soal podium dan medali. Ia melihat perubahan besar pada putranya, terutama dalam hal fokus, pengelolaan emosi, dan kedisiplinan. Menurutnya, renang menjadi sarana efektif untuk menyalurkan energi Array yang sangat tinggi sekaligus melatih konsentrasi.

Perkembangan positif itu juga mendapat apresiasi dari lingkungan sekolah dan pelatih renang. Array dinilai semakin mampu mengikuti instruksi, menyelesaikan perlombaan dengan fokus, serta menunjukkan semangat kompetitif yang sehat.

Kisah Array menjadi pengingat bahwa anak dengan ADHD memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan dukungan keluarga, lingkungan yang inklusif, serta pendekatan pengasuhan yang tepat, keterbatasan dapat berubah menjadi kekuatan.

Anak dengan ADHD Itu Istimewa

Nuraini, dosen sekaligus Ketua Program Studi Bimbingan Konseling Islam Institut Ummul Quro’ Al Islami Bogor, itu menegaskan memiliki anak dengan ADHD bukanlah beban, melainkan amanah yang sarat makna pengasuhan.

Menurut dia, tanda-tanda ADHD pada Array sudah tampak sejak usia dini, bahkan sebelum tiga tahun. Energi yang berlebih, sulit diam, serta respons yang sangat cepat terhadap rangsangan lingkungan menjadi sinyal awal. Alih-alih menyangkal, keluarga memilih belajar dan mendampingi dengan pendekatan berbasis ilmu.

Tantangan semakin terasa saat Array memasuki playgroup hingga taman kanak-kanak. Aktivitasnya yang sangat tinggi kerap membuat pendidik kewalahan. Namun, Nuraini menolak pendekatan pembatasan berlebihan. Ia memilih mengarahkan energi anak ke aktivitas terstruktur agar potensinya berkembang secara positif.

Ujian emosional datang ketika Array duduk di kelas 1 sekolah dasar. Nuraini mengenang satu peristiwa ketika aktivitas sekolah sempat terganggu akibat perilaku putranya. “Sebagai orang tua, kami harus kuat menghadapi stigma dan kesalahpahaman sosial,” tuturnya.

Pendampingan kemudian difokuskan pada olahraga dan aktivitas kreatif. Renang dipilih sebagai sarana utama penyaluran energi, disertai kegiatan berkuda serta aktivitas konstruktif seperti merangkai dan bermain imajinatif. Dari proses itu, terlihat bahwa Array memiliki kecerdasan spasial dan imajinasi yang kuat.

Salah satu momen paling berkesan terjadi pada peringatan HUT RI 2023. Saat itu, Array tampil membaca puisi di hadapan publik. “Untuk anak ADHD, berdiri diam selama satu menit saja sangat sulit. Tapi Array mampu tampil hampir dua menit dan mendapat aplaus,” kenang Nuraini. Momen tersebut menjadi tonggak penting tumbuhnya kepercayaan diri.

Kini, Array duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar dengan kondisi psikologis yang relatif stabil. Nuraini pun mengajak para orang tua untuk tidak khawatir berlebihan. ADHD bukan penyakit, bukan kenakalan, dan bukan kegagalan pengasuhan, melainkan perbedaan pola perkembangan dalam mengelola perhatian, energi, dan impuls.

“Dengan lingkungan yang suportif serta fasilitasi minat dan bakat yang tepat, anak dengan ADHD justru berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, tangguh, dan berprestasi,” ujarnya.

Kisah Array menjadi bukti nyata bahwa di balik energi yang berlimpah, tersimpan potensi luar biasa—asal dirawat dengan kesabaran, cinta, dan keyakinan. (#)

Jurnalis Muhammad Roissudin Penyunting Mohammad Nurfatoni