
Al-Qur’an adalah cahaya ilahi yang membimbing manusia menuju jalan ketakwaan. Namun, menurut Abdul Mu’ti, cahaya itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang membersihkan hati, menjaga kesucian diri, serta bersungguh-sungguh memahami maknanya.
Tagar.co – Tidak semua orang mampu menangkap cahaya Al-Qur’an. Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, hanya hati yang bersih dan pikiran yang jernih yang dapat menerima petunjuk kitab suci tersebut.
Pesan itu ia sampaikan dalam tausiah bertema “Al-Qur’an: Cahaya Ilahi di Tengah Tantangan Zaman” pada kegiatan Teladan Mengaji dan Berbagi yang digelar alumni SMA Negeri 3 Jakarta di Masjid At-Taqwa Mabes TNI AD, Jakarta, Sabtu (7/3/26).
Baca juga: Abdul Mu’ti Singgung “Inflasi Ceramah” Ramadan, Ajak Perkuat Literasi Al-Qur’an
Dalam tausiahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan cahaya Ilahi yang membimbing manusia untuk membedakan antara jalan ketakwaan dan jalan yang menjauhkan manusia dari Allah Swt.
“Al-Qur’an hadir sebagai pedoman yang menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih baik, baik dalam dimensi spiritual maupun sosial,” ujarnya.
Menurutnya, Allah Swt. telah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman-Nya dalam Al-Baqarah 2:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa seseorang dapat memperoleh petunjuk Al-Qur’an apabila memiliki keyakinan yang kuat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah yang diturunkan sebagai pedoman hidup bagi manusia.
Keyakinan tersebut berkaitan erat dengan rukun iman, yaitu iman kepada Allah, yang menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk menerima dan mengimani Al-Qur’an sepenuhnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Waqi‘ah 77–79:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”
Menurut Abdul Mu’ti, para mufasir memaknai istilah al-mutaharun tidak hanya sebagai kesucian fisik, tetapi juga kesucian hati dan pikiran. Artinya, seseorang yang ingin memperoleh cahaya Al-Qur’an perlu membersihkan hati dari berbagai penyakit batin sekaligus menjaga kejernihan pikiran.
Selain kebersihan hati, kesucian dari hadas juga menjadi bagian penting dalam memuliakan Al-Qur’an. Dengan menjaga kesucian diri, seorang Muslim dapat membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan penuh penghormatan sehingga lebih mudah merasakan keberkahan dan petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan konsentrasi dan kesadaran. Karena itu, sebelum membaca Al-Qur’an dianjurkan membaca ta‘awuz sebagai bentuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam An-Nahl 98:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Abdul Mu’ti menambahkan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual sangat tinggi. Bahkan ketika Al-Qur’an dibacakan, umat Islam dianjurkan untuk mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Ia mengutip Al-A‘raf 204:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dengan baik dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”
Menurut Abdul Mu’ti, interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca dan mendengarkan. Umat Islam juga perlu berusaha memahami kandungannya melalui tafsir agar dapat menangkap pesan Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Setelah membaca dan memahami Al-Qur’an, langkah berikutnya adalah melakukan muhasabah atau refleksi diri. Setiap Muslim perlu menilai dirinya terhadap ayat-ayat yang dibaca. Jika terdapat larangan, ia perlu bertanya kepada dirinya apakah telah menjauhinya.
Sebaliknya, jika terdapat perintah kebaikan, ia perlu menilai sejauh mana dirinya telah mengamalkannya.
Pada akhirnya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami, direnungkan, dan diamalkan dalam praktik kehidupan,” tegasnya. (#)
Jurnalis Yahya Fathur Rozy | Penyunting Mohammad Nurfatoni












