
Ibadah yang masih dihitung seperti bisnis disebut Abdul Mu’ti masih “kelas TK”. Lalu bagaimana ibadah yang benar menurut syariat dan bagaimana umat meningkatkan kualitasnya di penghujung Ramadan?
Tagar.co — Abdul Mu’ti mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan ibadah sebagai aktivitas transaksional yang dihitung dengan logika untung-rugi. Menurutnya, cara pandang seperti itu menunjukkan bahwa kualitas ibadah masih berada pada tahap dasar.
“Jika ibadah masih hitungan, berarti ibadah masih TK atau kelas awal SD,” ujar Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu dalam ceramah di Masjid At-Tanwir, Ahad (16/3/2026).
Baca juga: Abdul Mu’ti Singgung “Inflasi Ceramah” Ramadan, Ajak Perkuat Literasi Al-Qur’an
Dalam ceramahnya, ia menjelaskan juga dua pendekatan dalam memahami ibadah Ramadan. Pertama, pendekatan psikologis. Hadis-hadis tentang fadilah ibadah, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan, menurutnya merupakan motivasi agar umat Islam tidak menyia-nyiakan sisa waktu.
Kedua, pendekatan teori marketing. Ia mengibaratkan semangat ibadah seperti respons seseorang terhadap diskon atau bonus.
“Diskon dan bonus itu hanya bermakna bagi orang yang ingin membeli,” jelas Abdul Mu’ti yang mengenakan kemeja batik lengan panjang bernuansa kuning keemasan dengan motif klasik yang berpadu aksen cokelat dan hitam.
Islam Tak Mengenal Ongkang-Ongkang
Mu’ti lalu menguraikan makna Lailatulqadar sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr. Ia menyampaikan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada malam tersebut, sebagaimana dipahami para ahli tafsir, dalam bentuk yang utuh seperti mushaf yang dikenal saat ini.
Mengutip penjelasan mufasir Indonesia, Prof. Quraish Shihab, ia menjelaskan bahwa kata kadar memiliki tiga makna. Pertama, kemuliaan, yaitu malam yang penuh kemuliaan.
Kedua, takaran atau ukuran yang berkaitan dengan ketentuan dan potensi makhluk. Ketiga, kesempitan, baik dari sisi waktu yang terbatas hingga fajar maupun karena banyaknya malaikat yang turun, termasuk Malaikat Jibril.
“Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi aturan-aturan. Jika manusia mengamalkannya, mereka akan mendapatkan kemuliaan,” tegasnya.
Mu’ti menekankan bahwa kemuliaan Lailatulqadar tidak datang begitu saja, melainkan harus diraih dengan kesungguhan menjalankan syariat. Ia juga menjelaskan makna “matlailfajr” sebagai berakhirnya malam saat fajar sekaligus simbol harapan akan hari baru.
Menurutnya, kemuliaan diperoleh melalui amal. “Dalam Islam tidak mengenal ongkang-ongkang (duduk manis),” ujar Abdul Mu’ti yang memakai peci hitam serta kacamata berbingkai gelap.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa tujuan tertinggi ibadah bukan sekadar meraih surga atau menghindari neraka, melainkan mendapatkan rida Allah Swt.
Adapun orientasi pahala, menurutnya, tetap merupakan bagian dari proses menuju kualitas ibadah yang lebih tinggi.
Mengakhiri ceramahnya, Mu’ti menegaskan bahwa ibadah harus berlandaskan tuntunan syariat, bukan dilakukan berdasarkan kehendak dan selera pribadi. Tanpa dasar tersebut, ibadah berpotensi kehilangan maknanya.
“Ibadah itu harus sesuai tuntunan. Tidak bisa dilakukan berdasarkan selera sendiri,” tuturnya. (#)
Jurnalis Ari Susanto Penyunting Mohammad Nurfatoni












