Feature

Muhammadiyah Jateng Gaspol Kelas Internasional, 200 Pendidik Digembleng di Solo

112
×

Muhammadiyah Jateng Gaspol Kelas Internasional, 200 Pendidik Digembleng di Solo

Sebarkan artikel ini
R. Alpha Amirrachman (kiri) saat menyampaikan keynote speech dalam Workshop Elevating ICP Excellence di Solo, Sabtu (25/4/2026). (Tagar.co/Hendra Apriyadi)

Lewat workshop ICP, sekolah Muhammadiyah didorong naik kelas menuju standar global tanpa meninggalkan nilai keislaman.

Tagar.co — Upaya memperkuat daya saing sekolah di tingkat global terus digencarkan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Salah satunya melalui workshop bertajuk “Elevating ICP Excellence: Global Benchmarking, Digital Transformation, and Pedagogical Mastery” yang digelar di Aston Solo Hotel, Sabtu (25/04/2026).

Baca juga Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia:

Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta guru bidang IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Workshop ini menjadi bagian dari strategi besar Muhammadiyah dalam mengembangkan International Class Program (ICP) yang tidak hanya unggul, tetapi juga berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan global.

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Tengah, Rohmat Suprapto, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan ICP merupakan program prioritas. Targetnya, Jawa Tengah memiliki sedikitnya 35 sekolah ICP di berbagai jenjang pendidikan sebagai pijakan menuju International School of Muhammadiyah (ISM).

Baca Juga:  Mahasiswa Biologi Uhamka Bedah Kurikulum Cambridge di Bio-Teach Talks

“Penguatan ICP bukan hanya soal akademik, tetapi transformasi menyeluruh—mulai dari tata kelola, kualitas SDM, digitalisasi, hingga pembentukan karakter,” ujarnya.

Ia juga menekankan tiga pilar utama transformasi sekolah Muhammadiyah: keunggulan akademik, keterampilan masa depan, dan karakter.

Keynote speech disampaikan oleh R. Alpha Amirrachman dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak boleh dimaknai sekadar label “kelas internasional”.

Menurutnya, ICP harus menjadi strategi peningkatan mutu yang komprehensif, mengintegrasikan kurikulum nasional, standar global, serta nilai keislaman.

Ia memaparkan tiga fondasi utama pengembangan ICP, yaitu global benchmarking, digital transformation, dan pedagogical mastery. Standar internasional seperti GSE dan CEFR disebut sebagai alat ukur objektif capaian pembelajaran, sementara digitalisasi berperan penting dalam sistem pembelajaran dan manajemen berbasis data.

Memasuki sesi inti, workshop dibagi ke dalam tiga kelas paralel. Di Ruang A, para kepala sekolah mendapatkan materi tentang manajemen strategis berbasis data, termasuk pentingnya branding dan keberlanjutan program ICP.

Di Ruang B, guru Bahasa Inggris dibekali pendekatan deep learning dan active learning, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan dalam asesmen pembelajaran. Sementara di Ruang C, guru IPA dan Matematika diajak memperkuat integrasi pemahaman konseptual, berpikir kritis, dan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Baca Juga:  Lebaran, Mudik, dan Kerinduan yang Tak Pernah Usai

Workshop ditutup dengan penyusunan action plan yang mendorong setiap sekolah merancang langkah konkret pengembangan ICP. Pendekatan yang digunakan menekankan tiga tahap utama: kesiapan, penguatan kapasitas, dan pengembangan skala secara bertahap.

Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi antara Muhammadiyah dengan mitra global seperti Pearson, CNL Books, dan Praxis Publishing Singapore. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah.

Secara keseluruhan, workshop ini memperkuat komitmen bersama bahwa sekolah Muhammadiyah harus mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri. Dengan langkah strategis ini, Muhammadiyah optimistis dapat menghadirkan model pendidikan yang unggul, adaptif, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. (#)

Jurnalis Hendra Apriyadi Penyunting Mohammmad Nurfatoni