
Forum Pohon Langka Indonesia mengungkap pergeseran habitat dua spesies penting hutan tropis yang kini bertahan di kawasan pegunungan.
Tagar.co — Kesadaran akan pentingnya konservasi tumbuhan langka kembali digaungkan dalam webinar edukatif yang digelar Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Sabtu (25/4/26).
Melalui program Selasar Konservasi #4, forum ini mengangkat tema “Menelusuri Jejak Saninten dan Tungurut di Jawa: Di Mana Habitat yang Bertahan di Era Perubahan Iklim?”, yang diikuti akademisi, mahasiswa, serta pemerhati lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Takakura dan Ecobrick, Cara Siswa SMK Negeri 3 Malang Mengubah Sampah Jadi Solusi
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube ini membuka ruang diskusi mengenai tantangan konservasi di tengah perubahan iklim. Dalam sambutannya,
Sekretaris FPLI, Muhammad Nurzaman, menegaskan bahwa pelestarian tumbuhan langka tidak bisa hanya bertumpu pada kalangan akademik. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat luas menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan spesies yang kian terancam.
Materi utama disampaikan oleh Agung Hasan Lukman dari Universitas Bengkulu yang mengupas dua spesies pohon dari genus Castanopsis, yakni Saninten (Castanopsis argentea) dan Tungurut (Castanopsis tungurrut).
Kedua spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan pegunungan tropis.

Dalam pemaparannya, Agung Hasan Lukman menjelaskan bahwa persebaran Saninten dan Tungurut di Pulau Jawa saat ini tidak merata, dengan adanya celah distribusi di wilayah tengah hingga timur. Secara historis, sekitar 21 ribu tahun lalu pada masa zaman es terakhir, hampir seluruh wilayah Jawa merupakan habitat yang sesuai bagi kedua spesies tersebut.
Namun, perubahan iklim menyebabkan penyempitan sekaligus pergeseran habitat, terutama menuju kawasan pegunungan. Kini, keduanya umumnya ditemukan pada ketinggian 800–1.200 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan sebagai faktor utama yang memengaruhi distribusinya.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga wilayah refugia iklim, yaitu area yang relatif stabil dan tetap mampu mendukung kehidupan spesies di tengah perubahan iklim. Di Pulau Jawa, kawasan ini banyak ditemukan di pegunungan bagian barat hingga tengah, baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi formal.
Sebagai langkah strategis konservasi, Agung Hasan Lukman mepaparkan sejumlah upaya yang perlu dilakukan, mulai dari perlindungan habitat, pemulihan populasi melalui penanaman, hingga pengelolaan dan monitoring berbasis data ilmiah. Selain itu, pelestarian sumber benih dari pohon induk dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan spesies.
Webinar ini juga menjadi bagian dari pengayaan akademik bagi mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang yang tengah menempuh mata kuliah Kajian Model Konservasi Ekosistem di bawah bimbingan Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si dan Bagus Priambodo, S.Si, M.Si, M.Sc.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Beragam pertanyaan dan pandangan yang muncul mencerminkan meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian biodiversitas di tengah tantangan perubahan iklim. (#)
Jurnalis Eka Imbia Agus Diartika Penyunting Mohammad Nurfatoni











