Feature

Penyuluh Agama Berkumpul Perkuat Kolaborasi

62
×

Penyuluh Agama Berkumpul Perkuat Kolaborasi

Sebarkan artikel ini
Penyuluh Agama Islam mengadakan Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Islam se-Solo Raya yang diadakan di Ngargoyoso, Karanganyar, Rabu (22/4/2026).
Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Islam se-Solo Raya,

Tagar.co – Penyuluh Agama Islam mengadakan Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Islam se-Solo Raya yang diadakan di Ngargoyoso, Karanganyar, Rabu (22/4/2026).

Rakor mengusung tema Penyuluh Agama Islam sebagai Garda Terdepan Collaboration and Tolerance Centre (CTC) dan 48 Layanan KUA: Peran, Tantangan, dan Perlindungan Hukum.

Rakor dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar Dr. Hidayat Maskur, S.Ag., M.S.I., Kasi Bimas Islam H. Ruslan, S.H., M.H., Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Karanganyar H. Moh. Aziz Marnawi, S.Ag., M.Ag.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya H. Akhmad Farkhan, S.Ag, M.HI. selaku Kabid Urais dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Muhammad Doni Arifin, M.H. Ketua Tim Kepenghuluan Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan Direktur Kantor Hukum D-Ags Law Firm Maria, S.H., M.H.

Dalam pemaparannya, Akhmad Farkhan menyampaikan pentingnya peran Penyuluh Agama sebagai ujung tombak dalam menjaga harmoni dan kerukunan umat.

Menurutnya, konsep Collaboration and Tolerance Center (CTC) merupakan inovasi strategis Kementerian Agama dalam membangun ruang kolaborasi lintas sektor.

”Tujuannya memperkuat moderasi beragama, meningkatkan toleransi sosial, serta mencegah potensi konflik berbasis identitas keagamaan di tengah masyarakat yang semakin kompleks.” jelasnya.

Sementara Muhammad Doni Arifin menekankan pentingnya inovasi dalam metode penyuluhan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Terutama dalam menghadapi tantangan era digital dan keberagaman perspektif.

Konsep Collaboration and Tolerance Center (CTC) menjadi arah baru dalam gerakan Penyuluh Agama, yaitu mendorong kerja sama lintas sektor dan lintas komunitas guna menciptakan lingkungan yang harmonis, damai, dan inklusif.

CTC menjadi pendekatan strategis dalam memperkuat sinergi lintas sektor dan lintas kelompok masyarakat.

“Penyuluh Agama harus mampu menjadi penggerak moderasi beragama, sekaligus menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. CTC ini menjadi wadah penting untuk membangun komunikasi yang sehat dan memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pembicara lain Maria memberikan perspektif mengenai pentingnya pendekatan hukum dan perlindungan hak dalam membangun masyarakat yang inklusif dan toleran.

Ia mengajak para Penyuluh untuk tidak hanya berperan dalam edukasi keagamaan, tetapi juga menjadi fasilitator dalam penyelesaian konflik sosial secara bijak.

Di acara ini ada penguatan ekoteologi dengan penyerahan bibit tanaman cengkeh kepada perwakilan peserta. Aksi ini menjadi simbol komitmen Penyuluh Agama dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan, sekaligus mendorong kesadaran bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah.

Di sela Rakor ada penampilan harpa KRA Harmoni Karanganyar. Dengan balutan nada-nada lembut yang mengalun syahdu menyampaikan pesan tentang harmoni, kebersamaan, dan indahnya perbedaan.

Peserta Rakor dari berbagai kabupaten/kota Solo Raya berkumpul menyatukan visi untuk menjadikan Penyuluh Agama tidak hanya sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai fasilitator dialog, jembatan komunikasi lintas kelompok, serta penggerak nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama dan kepedulian lingkungan di masyarakat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto