
Ilmu yang kita miliki hari ini adalah buah dari ketulusan para ustaz. Jika tak mampu membalas dengan materi, doa tulus menjadi bentuk terima kasih paling mulia yang menghubungkan bumi dan langit.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tagar.co – Dalam kehidupan seorang muslim, kebaikan tidak selalu dibalas dengan harta atau materi. Ada kalanya kita hanya mampu membalas dengan doa yang tulus dan ucapan terima kasih yang jujur. Di situlah letak kemuliaan akhlak dalam Islam: menghargai jasa, menjaga lisan, serta mempererat ukhuwah melalui doa.
Para ustaz adalah pewaris ilmu para nabi. Mereka mengajarkan kebenaran dengan penuh keikhlasan, sering kali tanpa pamrih. Maka sudah sepantasnya kita membalas kebaikan mereka dengan doa-doa terbaik.
Baca juga: Menunda Tobat, Menunda Selamat
Di tengah hiruk pikuk kehidupan, kita sering lupa bahwa ilmu yang kita miliki hari ini bukanlah hasil usaha kita semata. Ada tangan-tangan tulus yang mengajarkan huruf demi huruf, mengenalkan halal dan haram, serta menuntun kita dari kegelapan menuju cahaya.
Mereka adalah para ustaz—guru agama—yang dengan sabar menanamkan nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia dalam diri kita.
Ketika kita tidak mampu membalas jasa mereka dengan sesuatu yang setimpal, Islam mengajarkan jalan yang agung: membalas dengan doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ
“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah dengan setimpal. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka doakanlah dia.”
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa doa adalah bentuk balasan yang sangat bernilai di sisi Allah. Bahkan, doa bisa lebih berharga daripada balasan materi, karena ia menghubungkan hati manusia dengan langit.
Lebih dari itu, Islam juga mengajarkan pentingnya berterima kasih kepada sesama manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”
Ucapan terima kasih bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas kebaikan yang telah kita terima. Dari sanalah tumbuh rasa cinta, penghormatan, dan persaudaraan yang kokoh.
Allah ﷻ juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan agar selalu berkata baik:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang terbaik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (Al-Isra’: 53)
Ayat ini menegaskan bahwa kata-kata yang baik bukan hanya memperindah komunikasi, tetapi juga menjaga persatuan dan mencegah perpecahan.
Para ustaz tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab. Mereka mengingatkan kita untuk menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat, karena perdebatan sering kali melahirkan kesombongan dan mematikan rasa cinta di antara sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar.”
Betapa mulianya orang yang mampu menahan diri dari perdebatan demi menjaga hati dan persaudaraan.
Mendoakan para ustaz adalah bagian dari menjaga hubungan yang penuh berkah. Doa itu tidak hanya kembali kepada mereka, tetapi juga kepada kita. Ketika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, para malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk kita. Inilah transaksi spiritual yang tidak pernah merugi.
Bayangkan seorang ustaz yang setiap hari mengajar, mungkin tanpa bayaran yang layak, tetapi tetap sabar menyampaikan kebenaran. Jika kita belum mampu membalasnya dengan harta, maka jangan sampai kita kikir dalam doa.
Doakan mereka: agar diberi kesehatan, dilapangkan rezekinya, diberkahi ilmunya, serta dianugerahi husnul khatimah. Bisa jadi, doa tulus kita menjadi sebab Allah mengangkat derajat mereka—dan juga derajat kita.
Lebih dalam lagi, mendoakan guru adalah bentuk tawaduk seorang murid. Ia menyadari bahwa dirinya tidak akan sampai pada pemahaman hari ini tanpa bimbingan orang lain. Inilah akhlak para ulama terdahulu, yang senantiasa mendoakan guru-guru mereka bahkan setelah wafat.
Akhirnya, marilah kita jadikan doa sebagai kebiasaan. Setiap kali mengingat nama ustaz kita, ucapkanlah:
“Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, berkahilah ilmunya, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang mengambil manfaat dari ilmunya.”
Dengan itu, kita tidak hanya menjaga hubungan antarmanusia, tetapi juga menanam amal jariah yang terus mengalir hingga hari kiamat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












