Telaah

Mendekatkan Remaja ke Masjid

131
×

Mendekatkan Remaja ke Masjid

Sebarkan artikel ini
Mendekatkan remaja ke masjid
Ilustrasi anak muda aktif mengaji di masjid.

Mendekatkan remaja ke masjid adalah investasi jangka panjang. Tidak instan, butuh proses pengaderan. Ini penting demi  menentukan masa depan umat.

Oleh Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Tagar.co – Salah satu tantangan besar umat hari ini adalah menjadikan masjid dekat di hati generasi muda.

Tidak sedikit remaja yang merasa masjid bukan ruang mereka. Terlalu “serius”, kurang ramah, atau tidak sesuai dengan dunia mereka.

Akibatnya, masjid hanya ramai oleh usia tua. Sementara generasi penerus jarang datang.

Padahal, dalam sejarah Islam, masjid justru menjadi pusat pembinaan generasi muda. Di masa Nabi Muhammad, para sahabat muda tumbuh di lingkungan masjid—belajar, berdiskusi, bahkan membangun karakter di sana.

Ini menunjukkan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pembentukan jiwa.

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt memuji generasi muda yang tumbuh dalam ketaatan, sebagaimana kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi: 13).

Ini menjadi isyarat masa muda adalah fase penting yang harus diarahkan dengan baik, dan masjid adalah salah satu tempat terbaik untuk itu.

Baca Juga:  Idulfitri Berlalu, Momentum Menjaga Spirit Ibadah

Namun, mendekatkan remaja ke masjid tidak cukup hanya dengan ajakan. Diperlukan pendekatan yang memahami dunia mereka, tanpa kehilangan nilai-nilai agama.

Pertama, masjid perlu menjadi ruang yang ramah bagi remaja. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara suasana.

Remaja membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa diterima, bukan dihakimi.

Dalam psikologi pendidikan, rasa memiliki (sense of belonging) menjadi faktor penting dalam keterlibatan seseorang di suatu lingkungan.

Ketika remaja merasa masjid adalah tempatnya, maka kedekatan akan tumbuh secara alami.

Kedua, penting menghadirkan program yang relevan. Kajian yang terlalu berat tanpa konteks sering membuat remaja sulit terhubung.

Sebaliknya, tema-tema seperti pergaulan, media sosial, motivasi, dan masa depan akan lebih mudah diterima jika dikaitkan dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, libatkan remaja sebagai pelaku, bukan sekadar peserta.

Beri mereka peran: menjadi panitia kegiatan, pengelola media sosial masjid, atau penggerak komunitas.

Ketika diberi kepercayaan, mereka akan merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab.

Keempat, gunakan pendekatan kreatif. Di era digital, dakwah tidak harus selalu formal.

Baca Juga:  Syariat Puasa dan Pesan Keseimbangan bagi Tubuh

Konten video, podcast, diskusi santai, hingga kegiatan sosial dapat menjadi pintu masuk bagi remaja untuk lebih dekat dengan masjid.

Kelima, hadirkan keteladanan. Remaja tidak hanya mendengar, tetapi melihat.

Sikap pengurus masjid, cara berinteraksi, dan suasana yang tercipta akan sangat memengaruhi persepsi mereka.

Dalam hal ini, kelembutan dan keterbukaan menjadi kunci.

Al-Ghazali menekankan pendidikan yang efektif adalah yang menyentuh hati, bukan sekadar memberi perintah.

Remaja yang hatinya tersentuh akan datang dengan kesadaran, bukan karena paksaan.

Di sisi lain, penting juga memahami menjauh dari masjid bukan selalu karena penolakan terhadap agama, tetapi bisa jadi karena belum menemukan alasan untuk mendekat.

Di sinilah peran masjid sebagai ruang yang menghadirkan makna, bukan sekadar aturan.

Mendekatkan remaja ke masjid adalah investasi jangka panjang. Ia tidak instan, tetapi sangat menentukan masa depan umat.

Karena jika remaja sudah menemukan tempatnya di masjid, maka mereka tidak hanya akan datang, tetapi juga akan menjaga, menghidupkan, dan meneruskan peran masjid itu sendiri. (#)

Baca Juga:  Positive Reframing

Penyunting Sugeng Purwanto