Feature

“Ia Sudah Memaafkanmu. Tapi Kamu Tidak Pernah Tahu”

87
×

“Ia Sudah Memaafkanmu. Tapi Kamu Tidak Pernah Tahu”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang lelaki tua selalu duduk di teras musala setiap malam. Ia tidak menunggu siapa pun—atau setidaknya, begitulah yang orang-orang kira.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di kampung Kedungjati, orang-orang mengenal Pak Karim sebagai lelaki yang hampir tidak pernah marah.

Bukan karena hidupnya mudah.

Justru sebaliknya—tak ada yang benar-benar tahu apa saja yang pernah ia kehilangan.

Setiap sore menjelang malam, ia duduk di teras musala. Bersandar pada tiang kayu yang mulai lapuk, memandang jalan tanah yang memanjang di antara rumpun bambu. Anak-anak berlarian di halaman, suara tawa mereka berbaur dengan kokok ayam yang hendak naik ke kandang.

Lampu musala menyala kekuningan saat azan Magrib berkumandang.

Baca cerpen lainnya: Drama Semalam di IGD

Pak Karim selalu ada di sana.

Diam. Mengamati. Tersenyum seperlunya.

Malam itu, selepas salat Isya, angin berembus lebih dingin dari biasanya. Daun pisang bergesekan pelan, dan suara jangkrik terdengar lebih jelas dari kebun di belakang mushala.

Beberapa pemuda masih duduk di teras. Fikri salah satunya.

Ia menatap Pak Karim cukup lama, seolah menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

“Pak… boleh saya bertanya?”

Pak Karim menoleh, matanya tenang.

“Silakan.”

Fikri ragu sejenak.

“Saya sering lihat Bapak, seperti tidak pernah marah. Bagaimana bisa?”

Baca Juga:  Mimpi di Bawah Gunung Sampah

Pak Karim tidak langsung menjawab.

Ia memandang jalan kampung yang gelap. Lama.

Seolah ada sesuatu di sana yang hanya bisa dilihat olehnya.

“Ada masa,” katanya akhirnya pelan, “saya tidak seperti itu.”

Para pemuda saling berpandangan.

Pak Karim menarik napas dalam.

“Dulu saya punya usaha kecil. Tidak besar, tapi cukup untuk hidup.”

Suaranya tetap tenang, tapi jari-jarinya pelan menggenggam lututnya.

“Saya punya teman. Saya percaya padanya seperti saudara sendiri.”

Ia berhenti sejenak.

“Suatu pag saya buka laci tempat uang disimpan.”

Sunyi.

“Laci itu kosong.”

Angin malam terasa lebih dingin.

“Semua hilang. Dan dia… juga hilang.”

Pak Karim tidak melihat para pemuda. Pandangannya tetap lurus ke depan.

“Malam itu saya tidak tidur.”

Suara dia sedikit berubah—lebih dalam.

“Saya duduk di lantai ruma menghitung sisa uang yang tidak ada.”

Ia tersenyum tipis, getir.

“Besoknya saya mulai mencari. Bertanya ke orang-orang. Tidak ada yang tahu.”

Ia menggeleng pelan.

“Yang saya temukan hanya satu: marah.”

Ia menutup mata sejenak.

“Saya mengulang kejadian itu terus di kepala. Membayangkan kalau bertemu dia apa yang akan saya lakukan.”

Tidak ada yang berbicara.

“Bertahun-tahun saya membawa itu.”

Pak Karim membuka mata.

Baca Juga:  Azan Terakhir Pak Sam

“Tapi kemudian saya kehilangan sesuatu yang lain.”

Kali ini, suaranya jauh lebih pelan.

“Anak saya sakit.”

Ia menelan napas.

“Saya ingat malam di rumah sakit. Bau obat. Lampu putih. Suara alat yang tidak saya mengerti.”

Para pemuda kini benar-benar diam.

“Saya duduk di sampingnya. Tangannya kecil, hangat.”

Ia berhenti.

“Lalu pelan-pelan  dingin.”

Tidak ada yang berani bergerak.

Pak Karim menunduk.

“Di situ saya merasa dunia berhenti.”

Sunyi panjang.

“Dan anehnya di saat itu juga kemarahan saya pada orang yang dulu itu.”

Ia mengangkat kepala.

“…tiba-tiba terasa sangat kecil.”

Fikri menelan ludah.

“Lalu, Bapak memaafkannya?”

Pak Karim mengangguk.

“Tidak sekaligus.”

Ia tersenyum tipis.

“Awalnya saya hanya berhenti membencinya.”

“Lalu berhenti berharap buruk padanya.”

“Lal suatu hari saya sada saya tidak lagi marah.”

“Tanpa bertemu lagi?” tanya Fikri.

“Tanpa syarat.”

“Sulit sekali, Pak!”

Pak Karim tertawa kecil.

“Yang sulit itu bukan memaafkan.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Yang sulit itu terus membawa marah ke mana-mana.”

Angin malam kembali berembus.

Lampu musala berpendar lembut di wajah mereka.

Pak Karim berdiri perlahan.

“Sudah malam. Pulanglah.”

Para pemuda bangkit. Menyalami beliau satu per satu.

Fikri menjadi yang terakhir.

Baca Juga:  Istidraj di Balik Kepakaran

Ia berhenti di anak tangga.

“Pak …”

“Iya?”

“Kalau orang itu kembali?”

Pak Karim tersenyum. Kali ini lebih hangat.

“Saya akan memeluknya.”

Fikri mengangguk kecil, lalu berjalan pulang menyusuri jalan gelap.

Langkahnya pelan.

Seolah membawa sesuatu yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.

Teras musala kembali sepi.

Pak Karim duduk lagi.

Sendiri.

Ia memandang jalan kampung yang lengang. Lama sekali.

Seolah menunggu seseorang yang tak kunjung muncul.

Perlahan, ia mengeluarkan dompet tua dari saku bajunya.

Tangannya sedikit gemetar.

Dibukanya dompet itu.

Di dalamnya, terselip sebuah foto kecil.

Seorang anak laki-laki tersenyum ke arah kamera.

Di balik foto itu, tulisan tangan yang mulai pudar masih bisa dibaca.

Untuk Ayah
— Fikri

Napas Pak Karim tertahan.

Matanya kembali ke arah jalan.

Kosong.

Lalu kembali ke foto.

Air mata jatuh tanpa suara.

Bukan deras. Tapi cukup.

Cukup untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum pernah benar-benar pergi.

Ia menggenggam foto itu erat.

Bibirnya bergerak pelan.

“Ya Allah”

Suara itu hampir tak terdengar.

“…aku sudah memaafkannya.”

Angin malam lewat tanpa menjawab.

Dan di jalan kampung yang gelap itu—tidak ada siapa pun yang datang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni