Telaah

Ilmu Tak Pernah Benar-Benar Milik Kita

90
×

Ilmu Tak Pernah Benar-Benar Milik Kita

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kita merasa memiliki ilmu. Padahal, mungkin kita hanya diberi kesempatan untuk memahaminya.

Oleh Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Ada satu lapisan makna yang sering luput ketika manusia membaca ayat ini. Ia terdengar sederhana—“Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia”—namun sebenarnya merupakan pintu menuju kesadaran paling dalam tentang hakikat ilmu.

Iqra adalah gerakan. Ia menggerakkan akal, membuka mata, dan menghidupkan rasa ingin tahu. Namun, gerakan itu tidak dibiarkan mengembara sendirian. Ia langsung diselimuti oleh satu kenyataan yang lebih luas: “warabbukal akram”.

Baca artikel terkait: Membaca Asal, Menundukkan Akal: Pesan Epistemologis Surah Al-Alaq

Seolah-olah manusia sedang berjalan di padang pengetahuan yang tak bertepi, lalu tiba-tiba diingatkan: langkahmu mungkin milikmu, tetapi cahaya yang membuatmu bisa melihat, bukan.

“Al-Akram” adalah sumber dari segala terang. Ia bukan hanya memberi ilmu, tetapi juga memberi kemungkinan untuk mengetahui. Bahkan sebelum manusia bertanya, jawaban itu telah disiapkan dalam kemurahan-Nya. Maka, setiap pengetahuan yang lahir sejatinya bukan hasil penaklukan manusia, melainkan penyingkapan yang diizinkan.

Baca Juga:  Lailatulqadar dan Rahasia Nilai Waktu dalam Al-Qur'an

Dalam perspektif Iqra sebagai epistemologi esensial manusia, di sinilah ilmu kehilangan klaim kepemilikannya. Ia bukan sesuatu yang direbut, melainkan sesuatu yang dihadiahkan. Manusia tidak benar-benar “memiliki” ilmu—ia hanya diberi akses untuk memahaminya.

Maka, semakin dalam seseorang membaca, seharusnya semakin ia merasakan satu hal yang paradoks: ia tahu lebih banyak, namun merasa semakin kecil.

Sebab, setiap pengetahuan yang terbuka selalu menyisakan kesadaran bahwa ada yang jauh lebih luas yang belum tersentuh. Di situlah “Al-Akram” berbicara—bahwa keterbatasan manusia bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa ia selalu berada dalam lingkaran pemberian Tuhan.

Namun, ketika kesadaran ini hilang, ilmu berubah wajah. Ia tidak lagi menjadi cahaya, tetapi bayangan ego. Manusia mulai merasa menemukan, bukan diberi. Ia merasa menguasai, bukan dipinjami. Di situlah pengetahuan kehilangan keberkahannya.

“Iqra’ wa rabbukal akram” sejatinya bukan hanya perintah, tetapi pengingat halus:
bahwa setiap kali manusia membaca, ia sebenarnya sedang menerima.
Setiap kali ia memahami, ia sedang disentuh oleh kemurahan.

Karena itu, ilmu yang benar tidak pernah melahirkan kesombongan. Ia justru melahirkan keheningan—sejenis kesadaran sunyi bahwa di balik semua yang diketahui, ada Yang Maha Memberi yang tidak pernah habis memberi.

Baca Juga:  Istidraj di Balik Kepakaran

Dan mungkin, di titik itulah manusia benar-benar mulai memahami:
bahwa membaca bukan sekadar mencari pengetahuan…
melainkan menyaksikan kemurahan Tuhan yang terus mengalir melalui apa yang ia ketahui. (#)

Penyunting Mohamamad Nurfatoni