Cerpen

Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

165
×

Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seorang pegawai kelurahan mengira ia hanya menjalankan rutinitas administratif. Hingga sebuah nama pada surat keterangan miskin membuka kenyataan yang mengguncang hatinya—tentang kebaikan yang datang terlalu terlambat untuk dibalas.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di kantor kelurahan kecil yang sibuk oleh antrean warga, seorang pegawai pelayanan mulai terbiasa menyaksikan ironi manusia. Banyak orang memohon kekayaan kepada Tuhan, namun datang ke kantor pemerintah untuk meminta surat keterangan tidak mampu.

Suatu pagi, seorang lelaki rapi mengajukan permintaan yang sama. Permintaan sederhana itu kemudian membuka kisah tentang harga diri, pengorbanan, dan kesalahpahaman manusia.

Baca juga: Langkah Kecil yang Mengubah Segalanya

Pagi itu udara di kantor kelurahan terasa lembap, seperti map arsip yang terlalu lama terkurung di lemari besi.

Antrean warga telah mengular bahkan sebelum loket pelayanan dibuka. Beberapa orang duduk di kursi plastik yang mulai retak, sementara yang lain berdiri sambil memegang map cokelat berisi dokumen kehidupan mereka.

Di balik meja pelayanan, Bima menyesap kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Sudah lima tahun ia bekerja di sana—cukup lama untuk memahami satu kenyataan sederhana tentang manusia: penampilan sering kali tidak mencerminkan kenyataan hidup seseorang.

Sekitar pukul sembilan pagi, seorang lelaki paruh baya maju ke loketnya.

Kemejanya rapi, sepatunya bersih, dan jam tangannya tampak mahal meski terlihat usang, seolah menyimpan jejak masa lalu yang lebih baik.

“Pak, saya ingin membuat surat keterangan tidak mampu,” katanya dengan suara tenang.

Bima mengangkat kepala. Tatapannya berhenti beberapa detik pada lelaki itu—bukan untuk menghakimi, melainkan karena pengalaman membuatnya peka terhadap ironi.

Baca Juga:  Niat yang Terlewat, Puasa Tetap Sah?

“Surat tidak mampu?” tanyanya pelan.

“Iya. Untuk keperluan rumah sakit.”

Bima tidak langsung mengetik. Matanya kembali menyapu penampilan lelaki itu.

Ia teringat pada puluhan orang yang pernah meminta surat serupa. Ada yang benar-benar miskin, ada pula yang datang dengan mobil yang harganya lebih mahal dari bangunan kantor kelurahan.

“Boleh saya tanya sesuatu, Pak?” kata Bima.

“Silakan.”

“Bapak benar-benar tidak mampu?”

Lelaki itu tersenyum tipis, menyiratkan kelelahan yang sulit dijelaskan.

“Saya juga tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tapi syaratnya memang harus ada surat ini.”

Bima menghela napas, lalu tersenyum kecil.
“Kadang saya merasa manusia itu lucu, Pak.”

“Kenapa?”

“Kalau berdoa kepada Tuhan, mintanya kaya.”

Lelaki itu mengangguk pelan.

“Tapi kalau datang ke kelurahan, mintanya surat miskin.”

Lelaki itu tertawa kecil. Tawa yang terdengar ringan, tetapi entah mengapa terasa getir.

“Begitulah hidup,” katanya pelan.

Bima mulai mengetik: nama, alamat, tanggal lahir. Jarinya bergerak cepat seperti ritual yang terlalu sering diulang. Namun sebelum mencetak surat, ia kembali bertanya.

“Pekerjaan Bapak?”

“Dulu pedagang.”

“Dulu?”

“Sekarang hanya mencoba bertahan hidup.”

Jawaban itu membuat Bima berhenti sejenak. Ada sesuatu dalam nada suara lelaki itu yang terasa tulus sekaligus menyimpan luka panjang. Namun ia tidak bertanya lebih jauh.

Beberapa menit kemudian, printer tua di meja kerjanya mulai bergerak. Kertas putih keluar perlahan dengan bunyi gesekan yang akrab. Bima menyerahkan surat itu.

Baca Juga:  Di Balik Tangis Zafran, Ada Doa yang Tak Pernah Putus

Lelaki tersebut menerimanya dengan hati-hati. Untuk sesaat, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Terima kasih, Pak,” katanya lirih.

Bima mengangguk. “Semoga urusannya lancar.”

Lelaki itu pergi meninggalkan kantor kelurahan dengan langkah tenang, seolah membawa beban yang tak terlihat.

Siang datang perlahan, dan antrean mulai menipis. Bima meregangkan punggungnya yang pegal ketika tiba-tiba telepon kantor berdering.

“Kelurahan Sukamaju dengan Bima.”

Suara dari seberang terdengar tergesa. “Pak, kami dari rumah sakit daerah ingin konfirmasi surat keterangan tidak mampu atas nama Harun Pratama.”

Bima langsung teringat lelaki yang datang pagi tadi. “Iya, benar. Suratnya kami keluarkan pagi ini.”

Di seberang telepon terdengar hening beberapa detik sebelum suara itu kembali terdengar.

“Pak, pasiennya baru saja meninggal.”

Bima terdiam. Tangannya yang memegang gagang telepon terasa dingin.

“Dia datang sendirian ke rumah sakit,” lanjut suara itu.
“Tidak ada keluarga?” tanya Bima.

“Ada, tapi mereka tidak mau menanggung biaya perawatannya. Katanya pasien sudah bangkrut.”

“Bangkrut?”

“Iya. Dulu dia pengusaha besar. Semua hartanya habis untuk biaya pengobatan anaknya.”

Bima menelan ludah.

“Anaknya sembuh,” lanjut suara itu, “tetapi perusahaannya hancur. Rumah dan mobilnya dijual. Hampir seluruh hartanya habis.”

“Dia benar-benar tidak mampu sekarang?” tanya Bima lirih.

“Benar, Pak.”

Telepon pun ditutup, meninggalkan kesunyian yang terasa menekan.

Ruangan pelayanan tiba-tiba terasa lebih sepi dari biasanya. Bima duduk lama tanpa bergerak. Di mejanya masih tergeletak salinan surat keterangan tidak mampu yang baru saja ia buat.

Tangannya perlahan meraih kertas itu. Matanya membaca kembali nama yang tertulis di sana: Harun Pratama.

Baca Juga:  Aib Lama yang Kembali Mengetuk

Entah mengapa nama itu terasa familiar.

Dengan perasaan tak menentu, Bima membuka laci meja kerjanya. Di dalamnya terdapat sebuah map lama yang jarang ia sentuh—map berisi dokumen bantuan pendidikan yang pernah ia terima saat masih kuliah.

Ia membukanya dengan hati-hati.

Di halaman pertama terdapat fotokopi surat donasi dari seorang dermawan yang membiayai puluhan mahasiswa kurang mampu bertahun-tahun lalu. Jantung Bima berdegup semakin cepat ketika matanya menangkap nama yang tertulis jelas di bagian atas dokumen itu.

Harun Pratama

Napas Bima tercekat. Ingatannya melayang pada masa-masa sulit ketika ia hampir putus kuliah karena keterbatasan biaya. Bantuan dari seorang donatur tak dikenal telah mengubah jalan hidupnya, memberinya kesempatan untuk berdiri di tempatnya sekarang.

Pagi itu, tanpa ia sadari, ia telah membuat surat keterangan miskin untuk orang yang dulu diam-diam membiayai masa depannya.

Orang yang bahkan tidak pernah ia temui.

Orang yang kini meninggal sendirian di rumah sakit.

Air mata perlahan mengaburkan pandangannya. Bima menggenggam erat surat tersebut, seolah ingin menahan sesuatu yang telah terlambat.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di kelurahan itu, ia merasa bahwa surat keterangan tidak mampu yang ia buat hari ini bukan sekadar dokumen administratif.

Melainkan sebuah pengakuan.

Pengakuan atas pengorbanan seorang ayah.
Pengakuan atas kebaikan yang tak pernah meminta balasan.
Dan pengakuan yang, sayangnya, datang terlalu terlambat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…