Telaah

Epistemologi Qurani: Fondasi Pembebasan dari Jahiliah Modern

232
×

Epistemologi Qurani: Fondasi Pembebasan dari Jahiliah Modern

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Sebuah kajian tentang bagaimana wahyu membimbing akal manusia keluar dari krisis pengetahuan dan moralitas di era modern.

Oleh Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Ada satu kesalahan besar yang terus diulang dalam peradaban manusia: mengira bahwa kebodohan hanya milik masa lalu. Kita sering membayangkan jahiliah sebagai sesuatu yang primitif—tanpa ilmu, tanpa peradaban, penuh mitos dan penyembahan berhala.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, jahiliah bukan sekadar kondisi historis, melainkan kondisi epistemologis: cara berpikir yang tidak dibimbing oleh wahyu. Dan jika definisi ini kita gunakan, maka harus diakui—jahiliah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk.

Baca juga: Iqra dan Arsitektur Keadilan: Meneguhkan Arah Negara dari Epistemologi Qur’ani

Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad turun di tengah masyarakat yang disebut jahiliah. Bukan karena mereka tidak berpikir, tetapi karena cara berpikir mereka tidak terarah oleh kebenaran ilahiah. Mereka percaya, tapi tanpa verifikasi. Mereka mengikuti tradisi, tapi tanpa kritik. Mereka memiliki keyakinan, tapi tidak memiliki landasan yang benar.

Baca Juga:  Dari Peristiwa Langit Menuju Evaluasi Salat di Bumi

Maka wahyu datang bukan sekadar membawa ajaran baru, tetapi membongkar cara berpikir lama: memaksa manusia keluar dari taklid buta, dari mitos yang diwariskan, menuju keyakinan yang teruji dalam cahaya wahyu.

Di sinilah letak revolusi epistemologi qur’ani. Ia tidak mematikan akal—justru mengaktifkannya secara maksimal. Ia tidak menolak realitas—justru memerintahkan manusia untuk membacanya. Namun semua itu dibingkai dalam satu prinsip utama: akal harus berjalan dalam bimbingan wahyu.

Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ditegaskan bahwa berpikir bukan sekadar kemampuan, tetapi kewajiban eksistensial. Manusia dituntut untuk cerdas, tetapi kecerdasan itu tidak boleh liar. Ia harus terarah, terverifikasi, dan terikat pada kebenaran yang datang dari Tuhan.

Masalahnya, hari ini kita justru menyaksikan kebangkitan bentuk baru dari jahiliah—yang lebih halus, lebih canggih, dan lebih sulit dikenali. Jahiliah modern tidak datang dalam bentuk penyembahan berhala, tetapi dalam bentuk penyembahan akal yang dilepas dari wahyu.

Rasionalisme ala René Descartes mengajarkan manusia untuk berpikir, tapi tanpa batas ilahiah. Empirisme John Locke dan David Hume membatasi kebenaran hanya pada yang terindra. Positivisme Auguste Comte bahkan secara sistematis menyingkirkan Tuhan dari ruang pengetahuan.

Baca Juga:  Idulfitri dan Revolusi Jiwa: Naskah Khotbah Idulfitri

Semua ini tampak sebagai kemajuan, padahal menyimpan paradoks: manusia semakin pintar, tapi semakin kehilangan arah. Kita mampu menguasai alam, tapi gagal menguasai diri.

Kita bisa memproduksi pengetahuan dalam jumlah tak terbatas, tapi tidak mampu memastikan apakah pengetahuan itu membawa kebaikan atau justru kehancuran. Inilah jahiliah dalam bentuk baru—bukan karena manusia tidak berpikir, tetapi karena berpikir tanpa bimbingan wahyu.

Akibatnya, lahirlah ilmu yang kehilangan adab—ilmu tanpa etika. Ilmu yang tidak lagi bertanya “apakah ini benar?”, tapi hanya “apakah ini mungkin?”. Di titik ini, kecerdasan berubah menjadi ancaman. Teknologi berkembang tanpa arah moral. Pengetahuan tumbuh tanpa tanggung jawab. Dan manusia menjadi makhluk yang canggih secara intelektual, tetapi rapuh secara eksistensial.

Epistemologi Qur’ani datang untuk memutus rantai jahiliyah ini. Ia menegaskan bahwa setiap manusia wajib mengoptimalkan akalnya—bukan untuk membenarkan dirinya, tetapi untuk menemukan kebenaran. Ia membebaskan manusia dari taklid, dari mitos, dari asumsi tanpa dasar, menuju keyakinan yang terverifikasi oleh wahyu. Ia mengajarkan bahwa berpikir adalah ibadah, selama ia berada dalam jalur yang benar.

Baca Juga:  Dari Petunjuk ke Pembeda: Jalan Qur’ani Membentuk Sikap

Karena pada akhirnya, jahiliyah bukan soal masa lalu atau masa kini. Ia adalah soal cara berpikir. Dan selama manusia masih berani memisahkan akal dari wahyu, selama itu pula jahiliyah akan terus hidup—meskipun dibungkus dengan gelar, data, dan teknologi.

Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah kita hidup di zaman modern atau tidak.
Tetapi: apakah cara kita berpikir sudah terbebas dari jahiliyah… atau justru sedang terjebak di dalamnya? (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni