
Prestasi membanggakan kembali diraih SMA Muhammadiyah 1 Gresik setelah dua tim berhasil menembus seleksi proposal OPSI 2026 dan bersiap melanjutkan ke tahap penelitian.
Tagar.co – SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dua tim berhasil lolos dalam seleksi proposal penelitian ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengumuman tersebut dirilis secara daring pada Senin malam (6/4/2026).
Dua tim yang berhasil melaju adalah tim Kitoza dan tim Sawit Baddie. Tim Kitoza dibina oleh Terry Angria Putri Perdana, S.Si., dengan anggota Handaru Zaki Cahya Gumelar (X-6) sebagai ketua dan Auliya Afiqah Hanisah (XI Saintek 2).
Sementara itu, tim Sawit Baddie berada di bawah bimbingan Fatma Nuril Masitah, S.Si., M.Pd., dengan Charletha Mayla Putri (XI Saintek 2) sebagai ketua dan Davina Khairunnisa (XI Saintek 2) sebagai anggota.
Keberhasilan ini disambut dengan rasa terkejut sekaligus syukur oleh kedua tim. Charletha mengaku baru mengetahui hasil pengumuman pada waktu subuh karena kendala akses laman pada malam hari.
“Saya baru mengecek pengumuman saat Subuh karena sampai sekitar pukul 22.00 laman belum bisa diakses. Akhirnya saya ketiduran, dan ternyata teman-teman lain juga baru bisa mengaksesnya pada Selasa pagi,” ujarnya.
Ia menambahkan, rasa bahagia yang muncul hanya berlangsung singkat karena langsung diikuti dengan kekhawatiran menghadapi tahap selanjutnya.
“Jujur kaget, bersyukur, dan senang, tetapi langsung memikirkan tahap berikutnya. Jadi, euforianya hanya sebentar, sedangkan rasa bingungnya cukup panjang sampai sekarang,” tuturnya sambil tertawa.
Hal senada disampaikan Auliya yang mengaku tidak menyangka bisa lolos dalam ajang bergengsi tersebut. Menurutnya, OPSI sebelumnya hanya ia saksikan sebagai penonton.
“Saya tahu OPSI adalah kompetisi besar karena kakak kelas saya tahun lalu lolos ke tahap final dan pameran di Ubaya. Saat itu, saya dan teman-teman sempat datang untuk melihat langsung karya-karya penelitian yang sangat kreatif,” jelasnya.
Kini, ia justru berkesempatan terlibat langsung. “Tidak menyangka, sekarang saya yang ikut berproses di OPSI tahun ini,” imbuhnya.

Dalam kompetisi ini, kedua tim mengangkat subbidang yang berbeda. Tim Kitoza memilih subbidang Agro Kompleks dengan fokus pada penelitian pertanian. Handaru menjelaskan bahwa ide penelitian mereka berangkat dari permasalahan nyata di lapangan.
“Kami terinspirasi dari greenhouse melon milik Bu Terry yang sering mengalami serangan jamur embun tepung. Seiring waktu, jamur tersebut menjadi semakin sulit dikendalikan dan mulai resisten terhadap fungisida kimia,” paparnya.
Sebagai solusi, timnya mencoba memanfaatkan bahan alternatif yang belum banyak digunakan.
“Kami mengombinasikan nano kitosan dari limbah cangkang kerang di Sidayu dengan ekstrak daun mimba yang memiliki senyawa antifungi. Harapannya, ini bisa menjadi solusi alternatif yang efektif,” jelasnya.
Sementara itu, tim Sawit Baddie mengangkat subbidang Optik-Fotonika dan Optoelektronika Terapan dengan fokus pada fisika terapan. Davina menjelaskan bahwa penelitian mereka berkaitan dengan keamanan penggunaan minyak goreng.
“Kami merancang alat untuk mendeteksi apakah minyak goreng masih layak digunakan atau tidak. Saat ini, banyak pedagang yang menggunakan minyak secara berulang. Alat ini memanfaatkan sensor optik dengan LED inframerah untuk menghasilkan nilai indeks bias minyak,” tuturnya.
Ia menambahkan, alat tersebut dirancang dengan biaya terjangkau sehingga berpotensi digunakan secara luas.

Setelah pengumuman, kedua tim mulai mempersiapkan diri untuk tahap penelitian. Charletha menyebutkan bahwa timnya telah merevisi proposal berdasarkan masukan juri sebelum melanjutkan ke tahap perancangan alat.
Ia juga menilai kekompakan tim menjadi salah satu kekuatan utama. “Saya dan Davina sudah bersama sejak awal, bahkan sejak pertama kali bertemu di ruang BK. Kami sama-sama siswa pindahan, sehingga kerja sama dalam penelitian ini terasa lebih mudah,” ujarnya.
Davina mengakui bahwa tahap berikutnya akan lebih menantang. “Penyusunan proposal kemarin sudah cukup melelahkan, mungkin 9 dari 10. Tahap selanjutnya bisa jadi 10 dari 10 tingkat kesulitannya. Karena itu, kami harus saling melengkapi,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah. “Saya berterima kasih kepada Smamsatu Gresik yang telah mempercayai kami, serta memberikan pembina yang luar biasa. Sekolah sangat suportif,” ucapnya.
Dari tim Kitoza, Handaru juga menyampaikan harapannya agar proses penelitian berjalan lancar hingga mencapai hasil terbaik.
“Saya masih kelas X dan belum pernah menyusun proposal penelitian yang kompleks seperti ini. Bidang pertanian juga masih baru bagi saya. Beruntung, Bu Terry selalu membimbing kami. Semoga kami bisa meraih hasil terbaik,” harapnya.
Pembina tim Sawit Baddie, Fatma Nuril Masitah, menilai tantangan terbesar ke depan adalah manajemen waktu.
“Tantangan berikutnya adalah mengatur waktu antara kegiatan sekolah dan penelitian yang memiliki tenggat sekitar empat bulan. Kami akan menjaga komunikasi agar prosesnya tetap terpantau,” jelasnya.
Ia juga berpesan agar para siswa tetap semangat, berdoa, dan menjaga kerendahan hati dalam setiap proses.
Sementara itu, Koordinator Bina Prestasi Smamsatu Gresik, Siti Mufarohah, S.Pd., mengungkapkan kebanggaannya atas capaian tersebut.
“Tahun lalu, satu tim kami berhasil lolos hingga tahap final dan menjadi satu-satunya dari Kabupaten Gresik. Tahun ini, capaian tersebut meningkat dengan lolosnya dua tim ke tahap penelitian,” ungkapnya.
Ia pun optimistis kedua tim mampu melangkah lebih jauh. “Saya yakin keduanya tidak hanya bisa melaju ke final, tetapi juga berpeluang meraih juara,” ujarnya. (#)
Jurnalis Terry Angria Putri Perdana Penyunting Mohammad Nurfatoni












