
Di saat dunia bergantung pada internet global, Iran justru membangun cara untuk hidup tanpa itu. Dari situlah lahir sebuah seni bertahan—sunyi, lambat, tapi menentukan arah konflik.
Catatan Ahmadie Thaha, Kolumnis
Tagar.co – Malam itu dunia seperti disadarkan oleh satu kalimat pendek yang nadanya dingin, tetapi maknanya panas: Iran menargetkan infrastruktur cloud di Qatar yang diduga menopang operasi militer lawan.
Dunia tersentak. Bukan karena rudalnya, tetapi karena alamatnya. Selama ini orang mengira perang itu urusan darat, laut, dan udara. Ternyata ada satu lagi: awan—cloud. Dan awan itu ternyata punya koordinat.
Baca juga: Aritmetika Perang 2.0: Ekonomi Pembunuhan Modern
Kita mulai dari sini. Sebab langkah Iran itu bukan sekadar aksi militer, melainkan puncak dari sebuah bangunan panjang bernama kemandirian digital.
Iran bukan negara paling canggih dalam teknologi informasi (TI). Namun, ia termasuk sedikit negara yang sengaja membangun sistem TI agar tetap hidup bahkan saat dunia “dimatikan” dari dirinya.
Mari kita buka dapurnya.
Di atas kertas, Iran memiliki sekitar tujuh puluh tiga juta pengguna internet, dengan penetrasi mendekati delapan puluh persen populasi.
Koneksi seluler di sana bahkan melampaui jumlah penduduk—artinya satu orang bisa memiliki lebih dari satu akses.
Hampir seluruh jaringan seluler mereka sudah berada pada level broadband, dengan cakupan yang menembus lebih dari sembilan puluh persen wilayah. Ini bukan angka kecil—ini fondasi.
Industri telekomunikasinya sendiri bernilai lebih dari sebelas miliar dolar, dengan pemain utama seperti Mobile Telecommunication Company of Iran, MTN Irancell, dan Telecommunication Company of Iran.
Kota seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz menjadi simpul utama—tempat jaringan, bisnis, dan negara bertemu dalam satu kabel yang sama.
Namun, kekuatan Iran tidak berhenti pada “banyak pengguna” atau “luas jaringan”. Itu hanya kulit. Dagingnya ada pada sesuatu yang jarang dimiliki negara berkembang: jaringan nasional yang berdiri sendiri.
Mereka menyebutnya National Information Network (NIN), sebuah sistem yang memungkinkan lalu lintas data domestik tetap berjalan bahkan jika koneksi global diputus.
Bayangkan sebuah negara yang bisa mematikan pintu internet internasional, tetapi bank tetap hidup, pemerintahan tetap berjalan, dan layanan digital tetap aktif.
Di banyak negara, itu kiamat. Di Iran, itu prosedur.
Jaringan intranet nasional beroperasi penuh. Target lalu lintas domestik: 70 persen konten di-hosting secara lokal. Latensi domestik bahkan bisa lebih cepat dibanding akses global.
Kapasitas lebar pita internal mereka tumbuh hingga puluhan Tbps. Inilah yang membedakan Iran: bukan sekadar internet, tetapi internet yang bisa “diputus dari dunia” tanpa mematikan negara.
Pusat data mereka berjumlah sekitar 70–100 fasilitas aktif. Mereka memiliki Internet Exchange Points (IXP) sebanyak 7–10 titik utama. Kapasitas hosting domestik terus meningkat. Diperkirakan lebih dari 60 persen lalu lintas nasional ditangani secara lokal melalui jaringan serat optik hingga ke desa.
Lebih dari itu, Iran tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga isi di dalamnya.
Mereka menciptakan alternatif lokal: platform belanja Digikala dengan 40 juta pengguna, aplikasi transportasi Snapp dengan 30 juta pengguna, serta layanan pesan seperti Soroush, Bale, dan Rubika dengan jutaan pengguna.
Bahkan, mereka memiliki mesin pencari sendiri seperti Yooz dan Parsijoo. Memang tidak dominan, tetapi strategis. Tidak semuanya unggul, tetapi cukup untuk menggantikan.
Dalam geopolitik, “cukup untuk menggantikan” sering kali lebih penting daripada “terbaik tetapi bergantung”.
Mereka merancang sistem yang tetap berjalan bahkan saat dunia dimatikan dari mereka.
Masuk ke lapisan berikutnya: pusat data.
Nilai industri pusat data Iran mendekati satu miliar dolar dan terus tumbuh menuju dua kali lipat dalam satu dekade.
Kapasitasnya memang belum sebesar Amerika atau Cina, tetapi pertumbuhannya agresif. Dari sekitar dua belas megawatt kapasitas aktif, mereka menargetkan lonjakan hingga puluhan megawatt dalam beberapa tahun.
Di Teheran saja, hampir setengah aktivitas data terpusat, sementara kota seperti Mashhad mulai tumbuh sebagai gerbang konektivitas regional.
Mayoritas fasilitas mereka sudah berada pada standar Tier III—artinya mampu beroperasi dengan tingkat keandalan tinggi, dengan downtime yang sangat minim.
Ini bukan eksperimen. Ini infrastruktur serius.
Dan yang lebih menarik: negara ikut bermain langsung. Investasi publik mencapai belasan miliar dolar untuk memastikan data tidak keluar dari Iran—dan jika keluar, itu atas izin.
Di sisi produksi, Iran memang belum menjadi raksasa semikonduktor. Mereka belum bisa menandingi pabrik chip kelas dunia.
Namun, mereka mampu memproduksi kabel serat optik, perangkat jaringan, dan sebagian perangkat keras komunikasi. Artinya, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada impor untuk menjalankan sistemnya.
Lalu kita masuk ke bagian yang paling sunyi, tetapi paling menentukan: sumber daya manusia.
Setiap tahun, ratusan ribu lulusan teknik dan sains (STEM) keluar dari universitas mereka. Mereka membanjiri sektor TI, riset, dan industri digital.
Dalam bidang tertentu seperti nanoteknologi dan kecerdasan buatan, publikasi ilmiah mereka menembus peringkat atas dunia.
Ini bukan kebetulan. Ini hasil tekanan embargo panjang yang memaksa mereka berinovasi di bawah keterbatasan.
Dan akhirnya, kita sampai pada ujung yang paling kontroversial: kekuatan siber.
Iran bukan pemain kecil. Mereka termasuk dalam lingkaran negara dengan kemampuan serangan siber yang serius.
Mereka tidak harus menang total. Cukup membuat lawan terganggu, sistem melambat, atau kepercayaan runtuh. Dalam dunia digital, itu sudah cukup untuk mengubah arah konflik.
Bagaimana Indonesia?
Sekarang bandingkan dengan kita.
Indonesia memiliki jaringan TI yang besar, ramai, dan cepat. Namun, dalam banyak hal, kita masih menjadi pengguna, bukan pengendali.
Data kita sering berada di luar wilayah, layanan kita bergantung pada pihak luar, dan ketika sistem global terganggu, kita belum tentu memiliki cadangan yang siap.
Iran memilih jalan yang tidak nyaman: lambat, dibatasi, dan sering terasa kaku. Namun, dari situ mereka mendapatkan sesuatu yang mahal: ketahanan.
Maka ketika mereka berani mengancam pusat cloud dunia seperti Amazon (AWS), itu bukan karena mereka paling kuat.
Melainkan karena mereka sudah menghitung satu hal yang sering kita abaikan: jika dunia luar mati, mereka masih hidup.
Dan di situlah pelajaran itu berdiri—diam, tetapi tajam.
Kemandirian digital bukan tentang menjadi yang tercepat, melainkan tentang tidak menjadi yang pertama tumbang.
Sebab dalam dunia yang semakin bergantung pada Cloud, yang paling berbahaya bukanlah hujan rudal—melainkan saat langit tiba-tiba kosong, dan kita tidak memiliki apa pun di bawahnya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












