
Pesan Subuh Mendikdasmen Abdul Mu’ti memotivasi santri supaya mempunyai cita-cita tinggi dengan kebiasaan baik. Kebiasaan itu pengalaman hidupnya sejak kecil.
Tagar.co – Waktu Subuh Masjid KH Djabbar Asyiri Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar, dipenuhi jemaah pada Sabtu (28/3/2026).
Hari itu ceramah Subuh diisi oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen).
Membuka ceramahnya, Abdul Mu’ti mengapresiasi persiapan acara yang dilakukan dengan sangat cepat. “Ini semua adalah bentuk pengamalan kita terhadap fastabiqul khairat dengan memaknainya sebagai berlomba-lomba menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Abdul Mu’ti mengingatkan, seorang muslim harus memiliki aspirasi besar diiringi dengan usaha terbaik dalam belajar. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ
Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling utama dan paling tinggi. (HR Tirmidzi)
“Dari hadis ini kita belajar bahwa seorang muslim tidak boleh memiliki cita-cita yang rendah. Mintalah yang terbaik, berusahalah dengan sungguh-sungguh dalam belajar,” kata Mendikdasmen.
Lalu dia mengajak jemaah merenungkan betapa banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang ilmu. “Saya merekomendasikan kepada ustaz dan ustazah agar ayat-ayat seputar ilmu ini dijadikan mahfuzhat untuk memotivasi anak-anak kita,” sarannya.
Nama Al-Quran
Dia memaparkan fakta sekitar 12 persen ayat Al-Qur’an berbicara tentang ilmu pengetahuan. Bahkan nama-nama lain dari Al-Qur’an juga mengindikasikan pentingnya ilmu dan pengetahuan.
Dijelaskan, Al-Qur’an disebut Al-Kitab yang berarti kitab yang ditulis, menunjukkan bahwa ia adalah kumpulan pengetahuan yang terhimpun.
Disebut Al-Furqan yang berarti pembeda, karena ilmu mengajarkan manusia membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Juga disebut Adz-Dzikra (peringatan), At-Tanzil (yang diturunkan), Asy-Syifa (obat penawar), dan Al-Huda (petunjuk).
“Semua nama ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna untuk membimbing manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat,” jelasnya.
Mu’ti kemudian menegaskan, manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi karena ilmu. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mampu menjalankan amanah kepemimpinan itu.
Ia kemudian mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai babul ilmi (pintu ilmu):
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa menghendaki dunia, maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menghendaki keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”
Generasi Emas, Bukan Generasi Cemas
Abdul Mu’ti kemudian mengaitkan pesan mencari ilmu dengan program kementerian yang tengah menyiapkan generasi emas Indonesia 2045.
“Kita tidak ingin generasi cemas, tetapi generasi emas yang unggul dan kompetitif. Ini sejalan dengan asta cita Bapak Presiden dan firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 9,” ujarnya.
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Menurut Mu’ti, generasi emas 2045 akan dipegang oleh santri-santri Gombara yang saat ini masih duduk di bangku pendidikan.
“Sembilan belas tahun lagi, mereka akan menjadi pemimpin. Kunci untuk semua cita-cita itu adalah ilmu,” tegasnya.
Pembiasaan Baik untuk Mencapai Cita-Cita
Untuk mencapai cita-cita yang tinggi, Mu’ti menekankan perlunya himmah (tekad) yang kuat, yang dimulai dari pembiasaan. Ia kemudian memperkenalkan konsep Tujuh KAIH, yaitu tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang ia praktikkan sejak kecil.
Pertama, Bangun Pagi.
“Bangun untuk tahajud. Dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan maqaman mahmudan (kedudukan terpuji) bagi mereka yang bangun malam,” ujarnya mengutip surah Al-Isra ayat 79.
Kedua, Rajin Beribadah.
Mu’ti menyindir fenomena generasi barcode yang mudah gelisah dan stres. “Segala masalah sedikit, langsung gesek nadi tangan. Padahal, berdoalah. Yaumul hisab itu adalah hari matematika, karena semua amal akan dihitung. Penerapan matematika dalam urusan beragama itu banyak, seperti penentuan arah kiblat, waktu salat, dan pembagian waris. Ini semua butuh ilmu,” jelasnya.
Ia kemudian bercerita tentang para ulama besar. “Imam Bukhari, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah contoh bagaimana kesungguhan dalam belajar membuahkan hasil. Nama ‘Ibnu Hajar’ yang berarti ‘anak batu’ diambil dari kisahnya yang melihat tetesan air mampu melubangi batu besar. Dari situlah ia belajar arti kesungguhan,” tuturnya.
Ketiga, Rajin Olahraga.
Jasmani yang sehat akan mendukung prestasi akademik dan spiritual.
Keempat, Rajin Belajar.
Mu’ti menekankan pentingnya banyak bertanya, gemar membaca, dan menulis. “Jangan jadi generasi scroll. Ajaran Ali bin Abi Thalib, ikatlah ilmu dengan menulis. Tulis apa yang kalian pelajari. Di dalamnya juga termasuk menghafal Al-Qur’an, karena itu bagian dari belajar yang mulia,” pesannya.
Kelima, Makan Sehat Bergizi.
Ini adalah pengamalan dari firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”
Keenam, Gemar Bermasyarakat.
Santri harus hidup di tengah masyarakat, berinteraksi, dan memberikan manfaat.
Ketujuh, Tidur Cepat.
“Jangan begadang untuk hal yang tidak bermanfaat. Tidur yang cukup akan membuat tubuh segar, pikiran jernih, dan semangat beribadah di pagi hari terjaga,” pesannya.
Cerita Pengalaman
Lantas Mu’ti bercerita pernah ditanya oleh seorang anak SD tentang dasar dari 7KAIH ini, Mu’ti menjawab dengan lugas, “Ini adalah kebiasaan saya sejak kecil.”
Mu’ti juga berbagi pengalaman kebiasaan-kebiasaan baik membawanya meraih cita-cita.
“Suatu ketika, saya diwawancarai Radio Australia setelah terpilih menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah. Saya ditanya, di mana belajar bahasa Inggris? Saya jawab, dari Radio Australia. Saya belajar dari mendengarkan siaran mereka. Itu karena saya rajin dan punya cita-cita,” kenangnya.
Mengakhiri ceramahnya, Mu’ti berpesan, tanamkan motivasi kepada anak-anak kita untuk bercita-cita tinggi.
Lakukan pembiasaan baik, dan tinggalkan kegiatan yang tidak bermanfaat. Janji Allah itu benar. Agar cita-cita anak tercapai, lakukan Tujuh KAIH. Dengan begitu, mereka akan menjadi kader persyarikatan, kader umat, kader bangsa, dan kader kemanusiaan. (#)
Jurnalis Azaki Khoirudin Penyunting Sugeng Purwanto












