
Moderasi adalah cerminan kedewasaan iman. Ia bukan sekadar konsep, tetapi akhlak yang hidup dalam keseharian.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, penulis tinggal di Semarang.
Tagar.co – Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, keseimbangan adalah kunci yang menjaga hati tetap jernih, pikiran tetap lurus, dan amal tetap bernilai di sisi Allah.
Islam tidak pernah mengajarkan sikap berlebihan, juga tidak membenarkan kekurangan yang disengaja.
Di antara dua kutub itulah terdapat jalan lurus yang penuh hikmah, yang membawa manusia pada ketenangan dan keselamatan dunia serta akhirat.
Islam sejak awal telah meletakkan fondasi moderasi sebagai prinsip hidup yang kokoh. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Al-Qur’an tentang umat ini sebagai umat pertengahan:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 143).
Ayat ini bukan sekadar pujian, tetapi juga amanah. Menjadi umat pertengahan berarti menjaga keseimbangan dalam keyakinan, ibadah, akhlak, hingga interaksi sosial. Tidak condong kepada sikap berlebihan, tidak pula tenggelam dalam kelalaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip moderasi ini tampak nyata dalam berbagai ajaran. Salah satunya dalam hal berinfak. Allah سبحانه وتعالى mengingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا
Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (boros) karena itu engkau menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isra: 29).
Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan dalam kebaikan seperti memberi, manusia tetap dituntut untuk bijak. Kedermawanan yang melampaui batas hingga melalaikan tanggung jawab juga bukan sikap yang diridai.
Moderasi juga tercermin dalam urusan hati, yang sering kali menjadi sumber kegelisahan manusia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan tuntunan yang begitu halus namun mendalam:
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya saja, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau cintai. (HR Tirmidzi).
Hadis ini menembus lapisan terdalam jiwa manusia. Ia mengajarkan bahwa perasaan pun harus berada dalam kendali iman, bukan dikuasai oleh emosi yang meluap-luap.
Sering kali manusia terjatuh dalam dua ujung yang berbahaya: terlalu keras atau terlalu longgar.
Dalam ibadah, ada yang memaksakan diri hingga melampaui batas kemampuan, lalu akhirnya lelah dan berhenti. Ada pula yang terlalu meremehkan hingga ibadahnya kosong dari kesungguhan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan dikalahkan olehnya. (HR. Bukhari).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju Allah bukanlah jalan yang memberatkan, tetapi jalan yang konsisten dan seimbang.
Moderasi dalam Islam bukan berarti lemah atau tanpa prinsip. Justru ia adalah bentuk kekuatan yang terkontrol.
Seseorang yang moderat mampu menahan diri ketika marah, bersikap adil saat senang, dan tetap lurus ketika diuji. Ia tidak mudah terprovokasi oleh kebencian, juga tidak larut dalam euforia yang melalaikan.
Dalam konteks sosial, sikap moderat melahirkan harmoni. Ia menjauhkan umat dari konflik yang tidak perlu, dari sikap saling menghakimi, dan dari perpecahan yang merusak persaudaraan.
Seorang mukmin yang memahami moderasi akan lebih memilih jalan dialog daripada pertikaian, lebih mengedepankan hikmah daripada emosi.
Pada akhirnya, moderasi adalah cerminan kedewasaan iman. Ia bukan sekadar konsep, tetapi akhlak yang hidup dalam keseharian.
Ia tampak dalam cara seseorang berbicara, bersikap, memberi, mencintai, bahkan dalam cara ia membenci. Semua berada dalam bingkai keseimbangan yang diridhai Allah.
Maka, ketika dunia sering menarik manusia ke arah ekstrem, Islam justru memanggil untuk kembali ke tengah.
Di sanalah ketenangan berada, di sanalah keadilan ditegakkan, dan di sanalah cahaya petunjuk bersinar. Sebab jalan yang lurus bukanlah jalan yang berlebihan, melainkan jalan yang seimbang, yang mengantarkan hamba kepada Rabb-nya dengan penuh kebijaksanaan dan ketundukan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












