Feature

Ceramah Tarawih Abdul Mu’ti: Lima Kemuliaan Ramadan yang Perlu Dimaksimalkan

85
×

Ceramah Tarawih Abdul Mu’ti: Lima Kemuliaan Ramadan yang Perlu Dimaksimalkan

Sebarkan artikel ini
Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan ceramah tarawih tentang lima kemuliaan Ramadan di Masjid Al-Falah, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). (Tagar.co/Ari Susanto)

Dalam ceramah tarawih di Masjid Al-Falah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menguraikan lima kemuliaan Ramadan dan mengajak umat Islam mengoptimalkan puasa, tilawah, sedekah, serta penguatan ukhuah.

Tagar.co – Ramadan merupakan bulan yang sarat kemuliaan. Setiap fadilah yang terkandung di dalamnya akan mencapai kesempurnaan apabila diisi dengan berbagai amal dan ibadah yang disyariatkan.

Pesan itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam ceramah tarawih pada Senin (23/2/2026) di Masjid Al-Falah, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Baca juga: Bangsa Unggul Butuh Budaya Ilmu, Ini Tiga Strategi Abdul Mu’ti

Dalam tausiah tersebut, ia menguraikan lima kemuliaan utama bulan Ramadan yang perlu dimaksimalkan oleh umat Islam.

1. Syahrul Magfirah (Bulan Ampunan)

Mengawali paparannya, Mu’ti menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum meraih ampunan Allah. Ia mengutip hadis:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (Bukhari dan Muslim).

Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar. Salah satu doa yang dianjurkan adalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Baca Juga:  Resmikan Revitalisasi 37 Sekolah di Sidoarjo, Abdul Mu’ti Ingatkan Ancaman Scroll Generation

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku (Tirmizi dan Ibnu Majah).

“Ampunan Allah akan dapat kita raih kalau meminta ampun kepada Allah dengan beribadah dan berdoa,” ujar Mu’ti.

2. Syahrul Siam (Bulan Puasa)

Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa keutamaan Ramadan sangat terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Menurutnya, Ramadan benar-benar menjadi bulan puasa bagi mereka yang menjalankannya, karena fadilah tersebut hanya diraih oleh hamba yang berpuasa.

Bagi musafir atau orang sakit terdapat rukhsah untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain waktu. Sebagian lainnya dapat membayar fidiah. Namun yang lebih utama yang ditekankan adalah berpuasa.

“Walau ada keringanan berpuasa itu lebih baik bagi kamu sekalian. Puasa kita akan terasa lebih ringan selain melaksanakan dengan keringanan dan juga dilakukan bersama-sama,” tutur Mu’ti.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kekuatan menjalankan puasa juga dipengaruhi lingkungan sosial.

“Yang dorongan itu bisa dipengaruhi oleh lingkungan sosial, dipengaruhi kesalehan sosial, didapat dari mana lingkungan berada. Kalau dalam lingkungan bekerja berpuasa, maka semakin kuat untuk berpuasa, jika di keluarga berpuasa, juga demikian semakin mendorong untuk berpuasa,” terangnya.

Baca Juga:  Masjid Al-Qasem IAD Diresmikan, Rektor: Mahasiswa Lebih Betah di Masjid daripada di Cafe

3. Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an)

Memasuki kemuliaan berikutnya, Mu’ti menjelaskan bahwa Ramadan memiliki keterkaitan erat dengan turunnya Al-Qur’an. Ia memaparkan makna ini dalam dua perspektif. Pertama, secara historis, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda.

“Manusia jika mendapat petunjuk, maka dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil, dan akan terlihat mana yang mengikuti Al-Qur’an dan jauh dari Al-Qur’an,” tandas Mu’ti.

Ia juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bertadarus bersama Malaikat Jibril setiap malam Ramadan.

“Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk tadarus Al-Qur’an (mudarosah).”

Berangkat dari teladan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan tartil.

“Fadilah kemuliaan Al-Qur’an dengan membaca Al-Qur’an, memperbanyak itu menekankan frekuensi bukan jumlah. Membaca Al-Qur’an dengan tartil,” kata Mu’ti.

4. Syahrus Shadaqah (Bulan Sedekah)

Selain sebagai bulan ibadah personal, Ramadan juga dikenal sebagai momentum berbagi. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak sedekah dalam berbagai bentuk, seperti berbagi makanan, santunan, dan lainnya. Hal ini meneladani Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai manusia paling dermawan, terlebih pada bulan Ramadan.

Baca Juga:  Tiga Pesan Abdul Mu’ti tentang Masa Depan Muhammadiyah dan Bangsa

“Memberikan harta yang sesuai, yang baik dan memberikan dengan rasa cinta, bukan karena ibah atau merasa lebih hebat. Ini yang menjadi gerakan filantropi Islam,” ujarnya.

5. Syahrul Ukhuah (Bulan Persaudaraan)

Sebagai penutup rangkaian kemuliaan Ramadan, Mu’ti menegaskan pentingnya memperkuat ukhuwah. Ramadan menjadi momentum penguatan persaudaraan, salah satunya melalui tradisi berbagi dan buka puasa bersama.

Ia mengutip hadis: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).

Menurut Mu’ti, di Indonesia tradisi buka bersama bahkan melibatkan lintas agama.

“Maka Ramadan menjadi bulan ukhuwah,” ungkap Mu’ti.

Menutup ceramahnya, Mu’ti mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas diri. Ia menekankan pentingnya mengisi bulan suci ini dengan ibadah, sedekah, serta berbagai kegiatan bermanfaat yang memperkuat ukhuah dan persatuan. (#)

Jurnalis Ari Susanto Penyunting Mohammad Nurfatoni