Opini

Green Ramadan: Puasa sebagai Gerakan Mengurangi Sampah dengan Prinsip 7R

72
×

Green Ramadan: Puasa sebagai Gerakan Mengurangi Sampah dengan Prinsip 7R

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ramadan bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga momentum menata ulang pola konsumsi. Melalui prinsip 7R, masyarakat diajak menjadikan ibadah puasa sebagai gerakan nyata mengurangi sampah dan menjaga keseimbangan alam.

Oleh Mochammad Nor Qomari, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik

Tagar.co – Ramadan selalu hadir sebagai ruang pembelajaran. Di dalamnya, umat Islam diajak menahan diri, menata ulang kebiasaan, serta memperhalus relasi dengan Tuhan dan sesama manusia.

Namun, ada satu relasi yang kerap luput dari perhatian: hubungan manusia dengan alam. Padahal, Islam sejak awal menempatkan keseimbangan (mīzān) sebagai prinsip hidup, sekaligus melarang sikap berlebih-lebihan (isrāf) yang merusak tatanan kehidupan.

Baca juga: Puasa dan Etika Energi, Seruan Aisyiyah Sambut Ramadan Lebih Ramah Lingkungan

Dalam konteks ini, Ramadan sesungguhnya bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga kesempatan besar untuk memperbaiki pola konsumsi dan pengelolaan sampah. Mengonsumsi makanan secukupnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola sisa makanan dengan bijak bukanlah sekadar tindakan ekologis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.

Lonjakan Sampah di Bulan Suci

Realitas di lapangan memperlihatkan tantangan yang tidak ringan. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik menunjukkan bahwa selama Ramadan 1446 H (2025), volume sampah di wilayah Gresik meningkat signifikan.

Puncaknya terjadi pada 20 Maret 2025 dengan jumlah sekitar 296 ton per hari. Kenaikan ini terutama dipicu oleh aktivitas berburu takjil, penggunaan kemasan sekali pakai, serta budaya konsumsi berlebihan ketika berbuka puasa.

Baca Juga:  Harga Plastik Naik, Momentum Beralih ke Gaya Hidup 7R

Sampah plastik bahkan dilaporkan meningkat sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa. Menjelang Idulfitri, volume sampah kembali melonjak sebelum akhirnya perlahan normal setelah perayaan berakhir. Fenomena ini menunjukkan paradoks: di bulan yang mengajarkan pengendalian diri, justru terjadi lonjakan konsumsi dan limbah.

Pemerintah Kabupaten Gresik sebenarnya telah menghadirkan payung hukum melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai. Regulasi ini membatasi kantong plastik, styrofoam, dan sedotan sekali pakai sekaligus mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan.

Kampanye “Eco-Takjil” juga digencarkan sebagai upaya edukasi publik. Namun, kebijakan tidak akan berarti banyak tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Green Ramadan sebagai Gerakan Kolektif

Karena itu, Green Ramadan 1447 perlu dipahami sebagai gerakan bersama, bukan sekadar jargon musiman. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan secara nyata adalah prinsip 7R: Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, dan Rot. Prinsip ini sederhana, tetapi mampu menciptakan dampak besar jika dijalankan secara konsisten.

Pertama, Rethink: Pikirkan Ulang

Setiap orang diajak berhenti sejenak sebelum membeli: apakah benar-benar dibutuhkan? Godaan “lapar mata” ketika berburu takjil sering membuat makanan berakhir menjadi sampah. Membiasakan perencanaan konsumsi berarti mengurangi limbah sejak awal.

Baca Juga:  Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

Kedua, Refuse: Menolak

Menolak plastik sekali pakai adalah langkah kecil dengan dampak besar. Jamaah dapat membawa wadah sendiri saat membeli takjil, sementara pedagang didorong menyediakan alternatif kemasan ramah lingkungan. Masjid dan mushala pun dapat memberi contoh dengan kebijakan bebas styrofoam.

Ketiga, Reduce” Mengurangi

Kegiatan buka bersama sebaiknya diatur dengan porsi secukupnya. Prinsip sederhana ini bukan hanya mengurangi sisa makanan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kesederhanaan yang menjadi ruh puasa.

Keempat, Reuse: Menggunakan Kembali

Peralatan makan yang dapat dipakai ulang semestinya menjadi standar dalam kegiatan keagamaan. Rumah tangga juga dapat memanfaatkan kembali wadah atau toples bekas, sehingga budaya sekali pakai perlahan tergeser.

Kelima, Repair: Memperbaiki

Daripada mengganti barang yang rusak, memperbaikinya adalah pilihan bijak. Sikap ini sekaligus mendukung ekonomi lokal melalui jasa reparasi dan memperpanjang usia pakai barang.

Keenam, Recycle: Mendaur Ulang

Pemilahan sampah sejak sumber menjadi langkah kunci. Sekolah, masjid, dan komunitas dapat bekerja sama dengan bank sampah, sementara pemerintah memastikan fasilitas pemilahan tersedia dan mudah diakses masyarakat.

Ketujuh, Rot: Mengomposkan

Sisa makanan dan sampah organik dari dapur dapat diolah menjadi kompos. Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, langkah ini juga mendukung ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan kembali unsur hara tanah.

Tanggung Jawab Bersama

Keberhasilan Green Ramadan tidak dapat dibebankan pada satu pihak saja. Perubahan harus melibatkan berbagai elemen secara simultan.

Baca Juga:  Sepeda Ontel dan Jalan Sabar Buk Jam

Keluarga menjadi fondasi perubahan perilaku melalui kebiasaan konsumsi bijak dan pemilahan sampah sejak rumah. Pedagang dan produsen berperan menentukan jenis kemasan yang digunakan. Masjid dan mushala berfungsi sebagai pusat keteladanan dengan mengajak jamaah hidup sederhana serta ramah lingkungan.

Institusi pendidikan dan organisasi masyarakat memiliki peran strategis dalam edukasi gaya hidup ekologis. Sementara itu, pemerintah daerah bertugas memperkuat regulasi, pengawasan, sekaligus menyediakan infrastruktur pendukung seperti bank sampah dan tempat pembuangan terpilah.

Kesalehan Spiritual dan Ekologis

Green Ramadan bukan sekadar soal sampah. Ia merupakan refleksi bahwa kesalehan spiritual seharusnya berjalan seiring dengan kesalehan ekologis. Jika puasa mengajarkan pengendalian diri, maka salah satu bentuk nyata pengendalian itu adalah menahan diri dari konsumsi berlebihan dan produksi limbah yang tidak perlu.

Ramadan 1447 dapat menjadi titik balik kesadaran ekologis umat. Dari meja makan keluarga hingga halaman masjid, dari kebiasaan kecil hingga gerakan kolektif, semua dapat bermula dari niat sederhana: menjadikan ibadah bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga membawa rahmat bagi lingkungan.

Dari Gresik, semoga lahir teladan bahwa ibadah yang paripurna tidak hanya membersihkan hati, tetapi juga membantu membersihkan bumi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…