Telaah

Ramadan Datang, Sudahkah Batin Kita Siap?

79
×

Ramadan Datang, Sudahkah Batin Kita Siap?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Freepik/AI

Banyak orang menyambut Ramadan secara fisik, tetapi belum menyiapkan rohani. Padahal, kesiapan hati menentukan apakah Ramadan menjadi momentum perubahan atau hanya tradisi tahunan.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Ramadan selalu datang tepat waktu. Ia tidak menunggu kesiapan siapa pun. Tahun demi tahun, bulan suci itu hadir sebagai tamu agung, sementara manusia sering kali masih sibuk dengan kebiasaan menunda, menyepelekan, dan merasa masih ada kesempatan nanti.

Padahal, tanpa persiapan iman, ilmu, dan amal, Ramadan bisa lewat begitu saja—sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, bukan momentum perubahan jiwa.

Baca juga: Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Di sinilah letak persoalannya. Ramadan bukan hanya bulan puasa, melainkan musim pembinaan spiritual. Ia adalah ruang latihan untuk menata hati, menahan hawa nafsu, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Namun bahaya yang kerap tidak disadari ialah masuknya Ramadan tanpa persiapan. Seseorang tetap sahur, tetap berbuka, bahkan tetap menjalankan ibadah formal, tetapi kehilangan ruhnya. Kekhusyukan menipis, semangat ibadah cepat pudar, dan peluang besar meraih ampunan berlalu tanpa bekas berarti.

Dalam tradisi para ulama, sikap meremehkan persiapan ini dikenal dengan istilah at-tahāwun—gampang menunda ketaatan dan menganggap enteng perkara amal. Padahal, Al-Qur’an telah memberi peringatan tentang konsekuensi sikap semacam ini. Allah berfirman:

Baca Juga:  Jangan Lelah Berbuat Baik

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan; tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka.” (At-Taubah: 46)

Walau ayat ini turun dalam konteks peperangan, para ulama memahaminya sebagai hukum umum kehidupan: siapa yang tidak menyiapkan diri untuk taat, akan kehilangan kekuatan ketika kesempatan datang.

Kesempatan itu bisa berupa Ramadan, dan kelemahan itu sering hadir dalam bentuk rasa malas, berat beribadah, atau hilangnya dorongan untuk mendekat kepada Allah.

Imam Abu Bakr Az-Zur’i rahimahullah menjelaskan bahwa sikap menunda ketaatan membawa dua dampak besar. Pertama, hati menjadi lemah untuk beramal. Kedua, seseorang terhalang dari rida Allah karena jiwanya tidak siap menerima kebaikan.

Maka, lemahnya semangat di awal Ramadan sesungguhnya bukan semata persoalan fisik, tetapi cerminan hati yang lama tidak dilatih.

Peringatan keras juga datang dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Sungguh celaka seseorang yang mendapati Ramadan, kemudian Ramadan berlalu sebelum dosanya diampuni.” (Tirmizi)

Baca Juga:  Mengapa Salat Wanita di Rumah Lebih Utama? Ini Penjelasan Syariat

Hadis ini menegaskan bahwa hadirnya Ramadan saja tidak cukup. Yang menentukan adalah kesungguhan menyambutnya. Tanpa kesiapan batin, seseorang bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah Ramadan tetapi tetap pulang tanpa perubahan berarti.

Persiapan itu sesungguhnya tidak rumit. Ia bermula dari hal-hal sederhana: meluruskan niat, memperbaiki kualitas salat, mulai membiasakan tilawah Al-Qur’an, serta memperbanyak istigfar dan taubat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (At-Tahrim: 8)

Tobat sebelum Ramadan ibarat membersihkan wadah sebelum diisi air yang jernih. Tanpa pembersihan hati, ibadah mudah terasa berat dan tidak meninggalkan bekas mendalam.

Teladan persiapan ruhani ini juga tampak jelas dalam kehidupan Rasulullah Saw. Dari Usamah bin Zaid r.a., disebutkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Syakban. Beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadan, tetapi tidak ada bulan yang paling banyak beliau isi dengan puasa selain Syakban.

Ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan dimulai pada hari pertama puasanya, melainkan jauh sebelum itu—melalui latihan bertahap yang menguatkan jiwa dan fisik.

Sebaliknya, mereka yang memasuki Ramadan tanpa persiapan biasanya mengalami kelelahan di pekan pertama. Tarawih terasa berat, Al-Qur’an sulit disentuh, dan berbagai alasan muncul untuk mengambil keringanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

Padahal, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (Al-Baqarah: 185)

Maka, menunggu Ramadan untuk mulai berubah adalah kekeliruan yang sering berulang. Perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba saat hilal terlihat, melainkan melalui kesiapan yang dibangun jauh hari sebelumnya.

Melatih diri dengan ibadah ringan tetapi konsisten, menjaga lisan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbanyak tobat adalah langkah konkret agar Ramadan benar-benar menjadi titik balik.

Pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah tidak sempat bertemu Ramadan, melainkan bertemu dengannya tetapi tidak memperoleh apa-apa selain rasa letih. Jangan sampai bulan suci berlalu, sementara hati tetap sama, dosa tetap menumpuk, dan tidak ada bekas kebaikan yang tertinggal.

Ramadan datang sebagai peluang besar; menyesal setelah ia pergi adalah kerugian yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk memperbaikinya lagi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni