Telaah

Ululalbab: Gelar Tertinggi dalam Proses Belajar

86
×

Ululalbab: Gelar Tertinggi dalam Proses Belajar

Sebarkan artikel ini

Al-Qur’an tidak menempatkan gelar akademik sebagai puncak ilmu. Ia justru mengarahkan manusia pada kualitas akal dan hati yang sadar, jujur, dan rendah hati—itulah Ululalbab.

Oleh Cak Muhid; Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Dalam perjalanan manusia mencari ilmu, banyak gelar diperoleh, banyak titel disematkan, dan banyak pengakuan sosial diraih.

Namun Al-Qur’an mengajarkan satu hal penting: gelar tertinggi dalam belajar bukanlah gelar akademik, melainkan gelar spiritual-intelektual yang Allah sendiri berikan, yaitu Ululalbab.

Baca juga: Rambut Pirang, Guru, dan Krisis Epistemologi Keadilan

Sejak awal, Islam tidak meletakkan ilmu pada formalitas. Wahyu pertama bukan perintah masuk institusi, melainkan iqra’—bacalah.

Iqra’ adalah perintah epistemologis yang menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk pembaca: membaca teks wahyu, membaca alam, membaca sejarah, dan membaca dirinya sendiri. Dari sinilah proses belajar manusia bermula, jauh sebelum ia mengenal ijazah atau titel.

Pendidikan formal boleh hadir sebagai sarana, gelar boleh menyertai sebagai penanda, tetapi keduanya tidak pernah menjadi puncak. Al-Qur’an justru mengarahkan manusia kepada kualitas yang jauh lebih dalam: kejernihan akal, ketulusan hati, dan kesadaran akan makna hidup. Inilah yang disebut Ululalbab—orang-orang yang memiliki inti akal, bukan sekadar tumpukan informasi.

Baca Juga:  Dari Petunjuk ke Pembeda: Jalan Qur’ani Membentuk Sikap

Ululalbab bukan mereka yang paling sering menyebut gelarnya, melainkan mereka yang menggunakan akalnya untuk mengingat Allah, merenungi ciptaan-Nya, dan menimbang kehidupan dengan jujur.

Mereka membaca, berpikir, dan berzikir secara bersamaan. Iqra’ berjalan seiring dengan kesadaran spiritual. Inilah epistemologi Qur’ani yang utuh: akal yang aktif, hati yang hidup, dan ilmu yang berbuah hikmah.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwa gelar akademik hanyalah tahapan administratif, bukan tujuan akhir belajar. Gelar menunjukkan seseorang pernah melewati proses tertentu, tetapi tidak otomatis mencerminkan kedalaman makna atau kematangan jiwa. Karena itu, Islam tidak menjadikan gelar sebagai ukuran kemuliaan, melainkan kualitas berpikir dan kesadaran diri.

Ketika gelar dijadikan sandaran, ilmu kehilangan amanahnya. Amanah menuntut kerendahan hati, sementara sandaran pada simbol sering melahirkan keangkuhan yang halus. Dalam Islam, ilmu tidak dimuliakan karena titel, melainkan karena kejujuran dalam menjaganya.

Kesadaran Ululalbab justru melahirkan kerendahan hati. Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk menegaskan statusnya, karena ia memahami bahwa ilmu adalah amanah, bukan kepemilikan. Ia siap belajar dari siapa pun, siap bertanya ketika tidak tahu, dan siap dikoreksi tanpa merasa terancam. Di sinilah guru diposisikan secara sehat: sebagai fasilitator dan penunjuk arah, bukan figur yang dikultuskan.

Baca Juga:  Ketika Allah Menjawab, Manusia Harus Merespons

Islam mengajarkan untuk bertanya kepada ahlinya ketika tidak mengetahui, tetapi juga menegaskan bahwa tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah Saw. Menghormati guru adalah adab, sedangkan mengkultuskannya adalah kekeliruan. Ululalbab tidak mematikan akal demi figur, dan tidak menolak bimbingan demi ego. Ia berjalan di tengah: mandiri dalam berpikir, rendah hati dalam belajar.

Dengan demikian, puncak proses belajar manusia menurut Al-Qur’an bukanlah profesor, doktor, atau gelar apa pun yang diakui manusia, melainkan pengakuan Allah terhadap kualitas akal dan hati. Ululalbab adalah mereka yang lulus dari ujian terdalam pendidikan: mampu membaca kehidupan dengan jujur, berpikir dengan jernih, dan hidup dengan penuh kesadaran akan Tuhan.

Jika gelar akademik adalah penanda perjalanan, maka Ululalbab adalah tujuannya. Jika sekolah adalah sarana, maka kesadaran adalah hasilnya. Dan jika belajar adalah proses seumur hidup, maka puncaknya bukan pada titel manusia, melainkan pada nilai di sisi Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…