Feature

Sekolah Kreatif Indonesia Teguhkan Komitmen Pendidikan Inklusi Berkeadilan

57
×

Sekolah Kreatif Indonesia Teguhkan Komitmen Pendidikan Inklusi Berkeadilan

Sebarkan artikel ini
Widya Nurcahyanti (kiri) dan Ida Afifah (kanan), pemateri focus group Ddiscussion sesi 2 dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-VI Sekolah Kreatif Indonesia di SD Muhammadiyah Kota Madiun, Ahad (25/1/2026). (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Berbagi praktik baik dan penguatan manajemen sekolah inklusif menjadi penegasan bahwa pendidikan ramah bagi semua anak harus hadir sebagai budaya, bukan sekadar program.

Tagar.co — Komitmen Sekolah Kreatif Muhammadiyah Indonesia dalam menghadirkan layanan pendidikan yang ramah, bermartabat, dan berkeadilan bagi semua anak kembali ditegaskan melalui Silaturahmi Nasional (Silatnas) VI.

Agenda nasional ini digelar selama tiga hari, Sabtu–Senin (24–26/1/2026), di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah, Jalan Raya Ponorogo–Madiun No. 3, Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur.

Baca juga: Dari Sekolah Tak Berdaya ke Sekolah Pilihan: Spirit Silatnas VI Sekolah Kreatif Indonesia

Sekitar 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam forum ini. Mereka terdiri atas kepala sekolah, guru, serta praktisi pendidikan kreatif Muhammadiyah yang selama ini aktif mengembangkan pembelajaran berbasis karakter, kreativitas, dan keberpihakan pada kebutuhan peserta didik.

Silatnas menjadi ruang strategis untuk saling belajar, berbagi praktik baik, sekaligus memperkuat jejaring antar-Sekolah Kreatif.

Salah satu sesi yang paling menyedot perhatian peserta adalah: Best Practice Pendidikan Inklusi. Sesi ini mengulas praktik nyata dan strategi pengelolaan sekolah inklusif, sekaligus menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya layanan pendidikan yang manusiawi bagi peserta didik penyandang disabilitas.

Baca Juga:  Buka Puasa Keliling Sekolah Kreatif Baratajaya, Ramadan Jadi Ruang Belajar Karakter

Diskusi dipandu oleh Marisa Izzah, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Bangil. Dengan gaya khas yang hangat dan komunikatif, ia membuat suasana aula lantai 3 Gedung Muhtadin terasa hidup dan interaktif.

Bukan Sekadar Wacana

Tepat pukul 13.00 WIB, pemateri pertama, Ida Afifah, S.Pd. dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, memaparkan pengalaman praktik pendidikan inklusi yang telah dijalankan di sekolahnya. Ia menegaskan bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar wacana, melainkan harus diwujudkan melalui langkah-langkah konkret.

“Alhamdulillah, kami memiliki kampus 2 yang difungsikan sebagai rumah terapis bagi peserta didik penyandang disabilitas. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk memberikan pelayanan terbaik dan bermartabat bagi setiap anak,” ujarnya penuh semangat.

Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, lanjut Ida Afifah—yang akrab disapa Afi—menerima banyak peserta didik inklusi dengan beragam kebutuhan khusus. Menurutnya, amanah tersebut harus dijaga dengan sepenuh hati.

Baca juga: Silatnas VI Sekolah Kreatif Indonesia: Meneguhkan Karakter dan Arah Baru Pendidikan

“Setiap siswa yang datang kepada kita harus kita jaga, kita openi. Ini akan mendatangkan rezeki, sebagaimana arahan penggagas sekolah kreatif, Ustaz Heru Tjahyono: utamakan pelayanan untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita,” tegasnya.

Baca Juga:  Dua Ton Beras ZIS Sekolah Kreatif Baratajaya Mengalir ke 400 Warga

Langkah tersebut mendapat apresiasi tinggi dari peserta silatnas karena dinilai mencerminkan keseriusan sekolah dalam menjawab kebutuhan peserta didik secara holistik—tidak hanya aspek akademik, tetapi juga terapi dan pendampingan.

Sesi berikutnya diisi oleh Widya Nurcahyanti, S.Psi. dari Sekolah Kreatif Tulangan yang menyampaikan materi How to Manage Inclusive School. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi harus diawali dari manajemen sekolah yang kuat, terencana, dan berkelanjutan.

Beberapa poin kunci yang disampaikan antara lain perumusan visi-misi inklusif, pembentukan struktur program inklusi, pembangunan jejaring dengan lembaga terkait, klasifikasi kebutuhan peserta didik, layanan khusus bagi siswa dan orang tua, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta budaya berbagi praktik baik antar sekolah.

Respon Positif

Antusiasme peserta terlihat dari derasnya pertanyaan yang mengalir. Wiwik Kurniasih, S.Pd. dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 3 Samarinda menanyakan strategi mengelola inklusi yang dinamis namun tetap humanis.

Robbian Nurul Hidayah dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Bontang mengulas strategi penanganan peserta didik inklusi, sementara Bahril Maulana, S.Pd.I., M.M. dari Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 2 Samarinda menyoroti strategi komunikasi dengan wali murid yang mengharapkan perubahan instan.

Baca Juga:  Tip Menjadi Sekolah Unggul Dikupas di Acara Ini

Seluruh pertanyaan dijawab tuntas oleh para pemateri melalui uraian pengalaman lapangan. Praktik pengelolaan inklusi yang dijalankan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya dan Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah Tulangan pun dinilai layak menjadi role model bagi Sekolah Kreatif se-Indonesia.

Melalui sesi ini, peserta Silatnas VI memperoleh pemahaman utuh bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar program tambahan, melainkan budaya sekolah yang dibangun dengan komitmen, kolaborasi, dan kesinambungan. Silatnas VI menjadi momentum strategis untuk menguatkan peran Sekolah Kreatif Muhammadiyah sebagai pelopor pendidikan inklusif yang berkeadilan dan berkemajuan di Indonesia. (#)

Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni