
Sekolah Pesantren Enterpreneur Al-Maun (SPEAM) Pasuruan membuka seleksi santri baru 2026 dengan program unggulan bahasa, wirausaha, dan tahfiz untuk mencetak generasi tangguh, mandiri, serta berakhlak mulia.
Tagar.co — Langkah para orang tua dan calon santri mulai memadati ruang digital dan fisik pendaftaran Sekolah Pesantren Enterpreneur Al-Maun Muhammadiyah (SPEAM) Kota Pasuruan. Pondok pesantren ini bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan kawah candradimaka bagi mereka yang bermimpi menjadi pengusaha sekaligus hafiz.
SPEAM membagi konsentrasinya pada dua lokasi strategis: santri putra menempati Jalan Ade Irma Suryani Nomor 1, Kelurahan Sebani. Sementara santri putri menempa diri di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 1, Kelurahan Karangketug.
Memasuki tahun ajaran 2026–2027, SPEAM menawarkan tiga pilar utama yang menjadi magnet bagi wali santri. Program Bahasa mengasah kecakapan santri dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Program Entrepreneur membekali mereka dengan mentalitas mandiri dan keterampilan berwirausaha. Terakhir, Program Tahfiz hadir sebagai fondasi spiritual untuk membentengi akhlak dan karakter para santri.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ini telah bergulir sejak Agustus 2025 dan akan berakhir pada Mei 2026. Panitia melakukan tes seleksi secara bertahap untuk memastikan kualitas input santri. Materi ujian mencakup literasi, numerasi, kemampuan membaca Al-Qur’an, hafalan, praktik ibadah, hingga wawancara mendalam dengan wali santri. Proses ini bertujuan menyelaraskan visi antara sekolah dan keluarga demi keberhasilan pendidikan anak di masa depan.
Baca Juga: Penanaman Pohon Matoa di SPEAM Tandai Hari Amal Bakti Kemenag
Ujian Daring dan Ketegangan Tes Ibadah
Sabtu pagi, 10 Januari 2026, menjadi momen krusial bagi calon santri putri. Meskipun berlangsung secara daring, suasana serius tetap menyelimuti setiap layar perangkat peserta.
Tepat pukul 08.00 WIB, para calon santri berjibaku menyelesaikan soal numerasi dan literasi. Mereka harus mengirimkan tangkapan layar hasil pengerjaan kepada panitia sebagai bukti otentik kerja keras mereka selama satu jam penuh.
Ketegangan berlanjut saat jarum jam menunjukkan pukul 09.30 WIB. Melalui sambungan video call. Ustadzah Fazat Azizah, S.H., M.H., menguji satu per satu peserta. Ia menyimak dengan teliti lantunan ayat suci, menguji kekuatan hafalan, serta memantau ketepatan gerakan dan bacaan salat peserta. Ujian lisan ini bukan sekadar formalitas, melainkan cara sekolah memetakan potensi awal setiap calon penjaga Al-Qur’an.
Sesi terakhir beralih kepada para orang tua. Ustaz Dadang Prabowo, M.Ag., memimpin sesi wawancara untuk menggali motivasi keluarga. Ia melontarkan pertanyaan kunci mengenai asal informasi sekolah, prestasi yang anak miliki, hingga ekspektasi jangka panjang terhadap SPEAM. Melalui dialog ini, pengelola pesantren ingin memastikan bahwa pendidikan santri merupakan kolaborasi aktif antara sekolah dan rumah, bukan sekadar menitipkan anak kepada lembaga.
Harapan Besar dari Rahim Aisyiyah
Di antara barisan orang tua yang penuh harap, muncul sosok Haryanti. Sebagai salah satu pimpinan Aisyiyah, ia menyimpan mimpi besar bagi putrinya yang sedang mengikuti seleksi. Haryanti mengakui, tantangan zaman yang semakin kompleks membutuhkan fondasi agama yang sangat kokoh. Ia merasa dukungan lembaga pendidikan formal seperti SPEAM sangat krusial untuk menambal kekurangan orang tua dalam memberikan bekal spiritual.
“Saya ingin putri saya memiliki fondasi agama yang kuat sebagai bekal menghadapi masa depan yang penuh tantangan,” ungkap Haryanti dengan nada penuh keyakinan.
Baginya, SPEAM adalah tempat yang tepat untuk menguatkan pendidikan karakter. Ia berharap sekolah ini mampu mendampingi proses tumbuh kembang sang anak menjadi pribadi yang mandiri.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, Haryanti memimpikan putrinya tumbuh menjadi kader yang siap berkhidmat. “Saya berharap kelak putri saya dapat menjadi kader yang siap berkontribusi untuk Aisyiyah maupun Muhammadiyah,” tambahnya.
Bagi para wali santri, SPEAM adalah ladang kebaikan untuk menyemai akhlak dan ilmu. Mereka percaya, pendidikan yang seimbang antara dunia dan akhirat akan menjadi jalan pembuka menuju masa depan yang penuh berkah. (#)
Jurnalis Haryanti Estuningdyah Penyunting Sayyidah Nuriyah












