
Nasyiatul Aisyiyah Brondong menyelenggarakan Pelatihan Mubaligat. Ketua PCM Brondong, Mat Iskan berpesan agar seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah berorganisasi secara kafah; bersungguh-sungguh, berkomitmen, rela hati, tak hanya berpikir imbalan duniawi.
Tagar.co – Hotel Mahkota Tuban dipadati kader-kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) Se-Cabang Brondong, Lamongan, Jawa Timur pada Kamis, (8/1/2026).
Mereka rela “hijrah” sementara dari Brondong ke Tuban untuk mengikuti Pelatihan Mubaligat Nasyiatul Aisyiyah (PMNA). Kurang lebih 50 kader antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini.
Pada sesi pembukaan, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong, Drs. Mat Iskan mengaku bersyukur karena masih bisa membersamai kader-kader NA dalam berkegiatan.
Dia berpesan kepada seluruh kader, ketika sudah menetapkan pilihan menjadi personilia PCNA, maka harus dilaksanakan sepenuh hati. “Jika tidak dilakukan dengan sepenuh hati, maka itu akan membebani kita” ucapnya.
Selain itu, dia juga mengajak kader-kader Nasyiatul Aisyiyah untuk tidak merasa berat, sebaliknya menjalankan roda organisasi secara kafah; sungguh-sungguh, rela hati, sehingga hasilnya tidak akan mengecewakan.
“Dalam berorganisasi, jika urusan finansial dihitung dengan matematika manusia, maka akan rugi. Jadi saya mengajak agar semua berorganisasi ini jangan dihitung dengan matematika manusia. Tapi yakinlah ada imbalan yang jauh lebih dahsyat, yang terkadang kita tidak sadari itu,” tandasnya.
Untuk Perjuangan, Semua Harus Loss
Bagi Mat Iskan, hidup itu tidak cukup dengan spiritual yang tertutup, tetapi harus dengan usaha. Karena adakalanya kita merasa benar, tetapi justu tersesat di jalan yang salah. “Maka lebih baik kita merasa salah, namun tersesat di jalan yang benar,” ucapnya.
Dalam menjalankan urusan perjuangan, Mat Iskan mengajak semua kader Nasyiah untuk loss saja (all out). “Insya Allah pasti ada jalan. Jangan merasa sulit. Semua itu bisa, tinggal kita mau atau tidak berkomitmen membagi waktu,” tegasnya.
Menurut Mat Iskan, dalam berorganisasi memang harus ada komitmen, namun jangan ada dusta. Maka dia yakin, pelatihan ini akan menjadi ajang menempa mental untuk menjadi mubaligat.
“Orang baik kalau hanya berteman dengan orang baik, jelas tetap baik. Namun kalau orang baik berteman dengan tidak baik, dan dia tetap baik, maka dia adalah baik yang sesungguhnya,” ucapnya.

Jaga Semangat dan Istikamah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Brondong, Musfiroh mengucapkan terima kasih kepada para kader dan personalia cabang atas partisipasinya dalam mengikuti kegiatan ini. “Terima kasih sudah rela boyongan dari Brondong ke Tuban,” ujarnya dengan tersenyum.
Firoh mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan di luar Brondong agar ada suasana baru dalam bernasyiah. “Namun sebaik apapun kita mendesain acara, tetapi kalau tidak ada yang terpikat, ya sama saja,” ulasnya.
Oleh sebab itu, dia mengajak semua kader untuk menjaga semangat dan keistikamahan, karena dalam berjuang di Muhammadiyah itu tidak akan pernah ada habisnya.
“Bergabung dengan nasyiah itu lebih banyak enaknya atau tidak enak?” tanyanya kepada para kader. Lantas banyak yang menjawab “Enakkk”
Dia pun menyitir Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 110 sebagai panduan semangat bagi para kader. “Harapannya, sepulang dari sini, masing-masing ranting harus sudah siap menjadi mubaligat,” ucapnya.
Firoh mengajak para peserta untuk mengikuti kegiatan ini secara tulus, niat lillahi taala untuk belajar. “Digembleng selama dua hari satu malam, semoga apa yang kita pelajari ini bisa kita niatkan dengan niat yang lurus dan tulus. Mari kita sukses bersama. Setelah menjadi mubalighat di ranting, semoga bisa mengupgrade diri untuk menjadi daiyah-daiyah yang luar biasa,” pungkasnya. (#)
Jurnalis Lilik Maftuhatul Jannah Penyunting Nely Izzatul












