Opini

Di Lingkaran Tawaf, Semangat Tiada Batas

35
×

Di Lingkaran Tawaf, Semangat Tiada Batas

Sebarkan artikel ini
Fanis, jemaah umrah dari Kazan, Republik Tatarstan, Rusia, dengan tonkat melakukan tawaf di lantai dua Masjidilharam (Masroin Assafani for Tagar.co)

Di lantai dua Masjidilharam, Fanis dari Kazan melangkah perlahan dengan dua tongkat, menenun doa di setiap putaran, mengajarkan bahwa iman selalu lebih kuat daripada lelah, dan semangat tak pernah mengenal batas.

Oleh Masroin Assafani

Tagar.co – Subuh Rabu 7 Pebruari 2026 baru saja berlalu ketika sebuah keinginan muncul: menunaikan tawaf sunah di lantai dua Masjidilharam.

Bukan tanpa pertimbangan. Tawaf di lantai dua menuntut jarak tempuh lebih panjang dan tenaga yang lebih prima. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Jalurnya lebih lengang, doa bisa dilantunkan lebih khusyuk, tanpa desak tubuh dan riuh langkah.

Dengan niat yang dibulatkan, tawaf pun dimulai dari lampu hijau. Tangan kanan diangkat, telapak terbuka, dan bibir melafalkan: “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

Baca juga: Menemukan Makna Tauhid di Antara Jeddah dan Madinah

Langkah kaki bergerak perlahan, sementara zikir mengalun:

Subḥānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm.

Di area Hijir Ismail, doa Nabi Ibrahim, Ashabulkahfi, dan Nabi Zakaria terucap sebagai simbol perjalanan iman: tentang keluarga yang diridai, tentang keteguhan iman, tentang harapan akan generasi penerus.

Baca Juga:  Menimba Spirit Perjuangan di Masjid Quba dan Jabal Uhud

Rabbi’j‘alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min ẓurriyyati
Rabbanā ātinā milladunka raḥmah
Rabbi lā tażarnī fardan wa anta khairul-wāriṡīn.

Langkah terus berputar. Di antara Hijir Ismail dan Rukun Yamani, selawat terlantun penuh kerinduan. Dan ketika tiba di Rukun Yamani, doa dunia–akhirat pun mengalir:

Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘ażāban-nār.

Doa-doa itu diulang berkali-kali. Hingga di tengah kekhusyukan, mata ini tertumbuk pada sebuah pemandangan yang mengguncang hati: seorang lelaki tua berjalan tawaf dengan dua tongkat. Langkahnya lambat, tubuhnya ringkih, tetapi tekadnya tegak.

Masyaallah.

Penulis dan Fanis, jemaah umrah dari Kazan, Republik Tatarstan, Rusia (Masroin Assafani for Tagar.co)

Dalam hitungan kasar, satu putaran tawaf di lantai dua memerlukan sekitar sepuluh menit bagi pejalan normal. Tujuh putaran berarti lebih dari satu jam. Dan lelaki tua itu menempuhnya tanpa keluhan, tanpa berhenti.

Di situlah makna tawaf menampakkan wajah sejatinya: di lingkaran ini, semangat tidak pernah memiliki batas usia.

Saya mendekatinya, mengajaknya berbincang. Namanya Fanis, berasal dari Kazan, Republik Tatarstan, Rusia. Senyumnya tulus, matanya berbinar. Kami berswafoto bersama.

Baca Juga:  WC 6 dan Seni Bertahan di Labirin Masjidilharam

Saya mengepalkan tangan sebagai isyarat semangat. Ia membalas dengan senyum lebih lebar, lalu bertanya asal saya. “Indonesia,” jawab saya. Ia tampak semakin gembira.

Kami bersalaman. Saya mengucapkan salam. Ia mengangguk penuh hangat.

Lalu kami kembali melanjutkan tawaf, masing-masing membawa pulang sebuah pelajaran sunyi:

Bahwa iman sejati tidak diukur dari kekuatan tubuh, melainkan dari keteguhan langkah menuju Allah.

Dan di lingkaran tawaf itu, saya benar-benar merasakan: semangat memang tidak pernah mengenal batas. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni