
Di Lak Bulu, kami belajar berenang, berbagi dengan alam, dan memahami rapuhnya hidup. Kini, pusaran airnya masih ada, tetapi kepedulian manusia kian menghilang.
Cerpen oleh Qosdus Sabil
Tagar.co – Hari Ahad genap hampir selalu kami tunggu kedatangannya. Bukan karena hari libur. Madrasah Nidhomiyah, sekolah dasar paling maju se-kecamatan di desa kami, justru tidak libur. Madrasah menetapkan Jumat sebagai hari liburnya.
Usai salat berjemaah Subuh di masjid, para murid madrasah sudah siap dengan kostum olahraga warna kuning hijau yang ceria. Mereka berbaris dengan rapi. Guru memberikan komando kepada para muridnya untuk berhitung.
“Berhitung mulai!”
Murid-murid dari deretan barisan terdepan sebelah kiri segera memulai hitungan.
“Satu, dua, tiga, ……, tiga puluh dua, ……, empat puluh satu.”
“Berhitung selesai,” lapor seorang murid yang menjadi komandan barisan.
Seperti biasa, Pak Hamim, guru olahraga madrasah kami, setiap pekan kedua dan keempat akan mengajak kami lari pagi dan berenang di Lak Bulu. Jaraknya hampir tiga kilometer dari madrasah kami.
Baca cerpen lainnya: Mitos Ular Cabe
Lak Bulu adalah dam air yang dibangun sejak zaman Belanda masih berkuasa menjajah negeri ini. Dinamakan Lak Bulu karena lak tersebut berada di Desa Bulu. Keberadaan Lak Bulu berfungsi penting untuk mengatur dan mengendalikan aliran air di kawasan rawa-rawa di pinggiran desa kami.
Tanah rawa biasa ditanami padi gogo saat awal musim penghujan mulai datang. Penduduk desa akan saling membantu saat menanami lahannya. Padi gogo tumbuh tinggi hingga sedada orang dewasa. Padi ini dipilih karena kemampuannya beradaptasi dengan air rawa yang terus meninggi selama musim penghujan.
Setelah mencapai usia delapan bulan setelah tanam, padi gogo mulai mekathak kekuningan. Bulir-bulir padinya yang bulat sedikit lonjong tampak begitu montok, seperti pipi bayi yang tercukupi asupan gizi.
Rombongan burung nyoreng, blekok, hingga sekawanan burung emprit terbang ke sana kemari sambil mematuk bulir padi yang mulai menguning keemasan. Saat itu, para petani di desaku sangat bersahabat dengan kawanan burung-burung ini.
Mereka menjaga kearifan untuk saling berbagi dengan makhluk hidup lainnya. Toh, kawanan burung itu hanya memakan sedikit bulir padi. Keberadaan burung ini justru menjadi predator alami bagi wereng cokelat atau walang sangit yang memakan dan merusak batang padi sehingga menyebabkan padi bisa mati.
Tak jarang kami menemukan sarang burung nyoreng di rerimbunan batang padi. Sarangnya penuh dengan telur, sedikit lebih besar dari ukuran telur puyuh. Kami mengumpulkan dan membawa pulang telur-telur itu, lalu merebusnya saat sore menjelang.
Sesekali penduduk desa membawa jaring untuk dipasang di sekeliling sawahnya. Banyak burung yang terperangkap karenanya. Setelah dirasa cukup, penduduk akan melepas kembali jaringnya. Mereka tahu batas. Mereka tidak pernah berlebihan dalam menangkap burung-burung itu sehingga keberadaan burung-burung tetap lestari terjaga dari kepunahan. Mereka menjadikan daging burung sebagai tambahan lauk bagi keluarganya.
Tidak ada yang tahu bagaimana awal mulanya penduduk menjaring burung. Umumnya jaring dibuat untuk menangkap ikan. Mungkin mereka pernah mendengar kisah Bani Israil yang meminta kepada Nabi Musa agar memohon kepada Tuhan untuk menurunkan makanan dari langit. Maka Allah menurunkan manna wa salwa.
Manna dan salwa adalah makanan yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai rezeki dari Allah untuk Bani Israil saat mereka berada di padang pasir bersama Nabi Musa. Manna adalah makanan yang turun dari langit. Banyak ulama menjelaskan manna sebagai makanan manis seperti madu, embun manis, atau getah tumbuhan yang bisa langsung dimakan.
Setelah puas menikmati manna, Bani Israil kembali meminta agar mereka bisa memakan daging. Lalu Nabi Musa memerintahkan mereka membuat jaring. Setelah jaring dibentangkan, dari kejauhan tampak gumpalan hitam bergerak mendekat.
Rupanya gumpalan hitam itu adalah serombongan salwa. Salwa diartikan sebagai burung puyuh yang mudah ditangkap. Daging burung puyuh enak dimakan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.
##
“Hai… jaga barisan. Hati-hati, sudah mulai banyak kendaraan lewat,” seru Pak Hamim mengingatkan kami. Jalan menuju ke Lak Bulu sebenarnya terbilang sepi. Angkutan umum sangat jarang. Kalaupun ada, biasanya hanya pada jam-jam tertentu saat orang berangkat atau pulang kerja saja.
Kendaraan seperti truk atau pikap justru tampak mendominasi. Mereka lalu-lalang mengangkut berbagai hasil bumi, sembako, dan hasil-hasil perikanan dari tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Brondong. Jika terpaksa karena tidak ada angkutan penumpang umum, maka kami akan menumpang naik truk yang sedang lewat.
Pohon trembesi sudah mulai terlihat jelas. Itu pertanda Lak Bulu sudah semakin dekat. Pohon ini mungkin sudah berusia ratusan tahun. Trembesi tumbuh besar menaungi Lak Bulu. Banyak musafir yang berhenti sejenak, sekadar berteduh dari panasnya siang.
Setelah kami semua sampai di Lak Bulu, kami segera berbaris rapi dan mengatur jarak mengikuti arahan Pak Hamim. Kami melakukan pemanasan dengan senam kesegaran jasmani. Usai senam, baru kami diizinkan berenang. Tidak ada gaya renang yang secara khusus diajarkan, sekadar belajar bagaimana kami mengapung agar tidak tenggelam di air.
Nabi memerintahkan kepada umatnya untuk mengajari anak-anaknya tiga keterampilan dasar, yakni berkuda, memanah, dan berenang. Maka, belajar berenang adalah bagian dari pelaksanaan sunah Nabi.
Pak Hamim membagi dua kelompok besar. Satu sisi dangkal untuk murid-murid yang baru mulai belajar berenang dan satu sisi lebih dalam untuk mereka yang sudah mahir berenang.
Area di bawah jembatan menjadi lokasi favorit kami. Selain karena arus deras, aliran air di sini terasa lebih hangat, mungkin karena arus yang terus bergerak tiada henti.
Sesaat perhatian kami tertuju ke bawah jembatan. Tampak Arif kelagapan nyaris tenggelam. Tubuhnya masuk ke dalam pusaran air. Jari telunjuknya mengacung-acung memberi isyarat minta pertolongan.
Yanto yang ada di dekat Arif segera melompat mencoba menyelamatkan. Namun keduanya bahkan hampir tenggelam bersamaan. Arif meronta-ronta, sementara tubuh Yanto yang kurus tidak kuasa menahan beban Arif yang panik.
Pak Hamim segera ikut melompat masuk. Diraihnya kepala Arif, dijambak rambutnya, lalu diteriakkan perintah supaya tenang. Arif berhasil diselamatkan. Namun Yanto menghilang, hanyut terseret arus. Tubuh Yanto sesekali tampak muncul ke permukaan.
Pak Hamim mengambil langkah penyelamatan berikutnya. Tubuhnya terjun kembali mengikuti aliran arus deras yang membentuk pusaran. Sesaat kemudian diraihnya lengan Yanto, lalu menggamitnya sembari berenang ke tepian.
Tampak wajah Yanto pucat kemerahan. Dari mulutnya keluar air rawa yang sempat masuk ke dalam tubuhnya. Cukup banyak, hingga beberapa liter air dimuntahkannya. Sementara Arif tampak lebih baik daripada kondisi Yanto. Begitulah jika seseorang hampir tenggelam, ia akan meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk menyelamatkan diri.
Secara refleks, gerakannya bisa lebih membahayakan bagi orang yang menolongnya, apalagi jika yang memberikan pertolongan tidak memiliki keahlian dan ketenangan menghadapi situasi berbahaya.
Konon, pernah ada seorang anak pemancing yang hilang di Lak Bulu. Berhari-hari dilakukan pencarian, tidak kunjung ditemukan. Hingga didatangkan penyelam dari TNI Angkatan Laut. Namun hasilnya tetap nihil.
Polisi lalu mengundang seorang pawang untuk menemukan korban tenggelam. Setelah melakukan ritual, sang pawang melompat terjun ke pusaran deras di tengah Lak Bulu. Lima menit. Sepuluh menit. Sang pawang belum juga muncul ke permukaan. Kami yang menyaksikan ikut waswas dipenuhi kekhawatiran.
Beberapa saat kemudian, tubuh sang pawang menyembul ke permukaan air rawa. Tangan kanannya mengayuh cepat, sementara tangan kirinya terlihat menarik baju korban. Semua masyarakat tampak ikut lega menyaksikan jasad korban telah berhasil ditemukan.
Kisah tenggelamnya orang di Lak Bulu telah banyak terjadi. Namun tetap saja masyarakat setempat menjadikan Lak Bulu sebagai kolam renang terbuka. Airnya yang dingin menyegarkan menjadi sebab orang selalu datang berenang. Sesekali seperti ada aroma pupuk urea yang menyengat.
Lebaran yang lalu, saat aku melewatinya, Lak Bulu telah berubah menjadi sebuah tempat persinggahan yang cukup ramai pengunjung. Deretan penjual es tebu, dawet siwalan, pentol bakso, dan pedagang rujak sibuk menggelar dagangannya.
Pohon trembesi masih berdiri tegak dengan gagahnya.
Saat aku memandangi pusaran airnya, terasa ada kenangan penuh suka dan luka. Suka, karena mungkin kami termasuk generasi yang dibesarkan oleh kelembutan kasihnya. Luka, saat melihat permukaan airnya dipenuhi sampah dan enceng gondok yang tumbuh merajalela tak terkendali.
Sungguh nestapa keadaanmu kini. Tiada lagi orang yang peduli pada nasibmu… oh, Lak Bulu. (#)
Ciputat, Rajab 1447
Penyunting Mohammad Nurfatoni












