
Pendidikan sejati tidak lahir dari ruang kelas semata, melainkan dari pengalaman hidup, keluarga yang kuat, dan masyarakat yang berdaya.
Daniel Mohammad Rosyid; Rosyid College of Arts
Tagar.co – Senin lalu saya menghadiri pengukuhan Dr. Tarzan Purnomo—sahabat lama kami di HAPPI Jawa Timur—sebagai profesor bidang Ekologi Laut dan Pesisir di FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Saya dan istri terkesan dengan kampusnya yang luas dan megah. Cak Hasan, sapaan akrab Rektor Unesa Prof. Dr. Nur Hasan, M.Kes., tampil meyakinkan saat menutup rapat terbuka senat akademik Unesa tersebut.
Baca juga: Empat Monopoli yang Merusak Republik
Berikut ini catatan saya ketika mencermati orasi para guru besar baru Unesa, sekaligus refleksi pribadi setelah lebih dari dua puluh tahun bergelut di dunia pendidikan.
Pertama, inovasi di bidang strategis ini belum banyak menyentuh aspek kelembagaan pendidikan. Banyak inovasi dilakukan di ruang kelas dengan obsesi kuat pada higher order thinking skills (HOTS) dan digitalisasi, tetapi kurang memperhatikan aspek institusional yang menyediakan pendidikan sebagai public goods.
Pendekatan persekolahan masih mendominasi dunia pendidikan kita, seolah sekolah adalah satu-satunya tempat belajar. Akibatnya, kesempatan belajar menjadi barang langka yang makin mahal. Padahal, ketersediaan internet seharusnya dimanfaatkan untuk memungkinkan belajar di mana saja, tidak hanya di sekolah.
Kedua, pendidikan harus dipahami sebagai kesempatan belajar, bukan semata kesempatan bersekolah. Tidak bersekolah sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika warga muda tetap dapat belajar, terutama di rumah dan di masyarakat.
Pada hakikatnya, pendidikan adalah sarana budaya untuk memperbaiki keluarga dan masyarakat. Pembangunan—terutama pendidikan—tidak boleh berlangsung di atas puing-puing keluarga dan masyarakat. Tripilar pendidikan Ki Hadjar Dewantara perlu dicermati kembali: keluarga, masyarakat, dan perguruan.
Bahkan, pendidikan sejatinya bersifat sebagai perguruan, bukan sekadar persekolahan, yang gagasan dasarnya diambil dari Barat sebagai bagian tak terpisahkan dari Revolusi Industri dua abad lalu.
Ketiga, belajar adalah proses memaknai pengalaman. Papan tulis utama belajar adalah pengalaman tiga dimensi (3D), bukan sekadar pengetahuan dari buku atau gawai dua dimensi (2D). Pendidikan dasar sembilan tahun harus menitikberatkan pengalaman 3D ini, terutama bagi anak laki-laki.
Berlama-lama di kelas merupakan cara belajar yang buruk. Semakin dewasa, proses belajar dapat lebih menekankan pengetahuan 2D berbasis internet. Menurut hemat saya, HOTS justru lebih mudah dibangun dengan memperbanyak pengalaman luar sekolah.
Keempat, pendidikan yang mendewasakan hanya dapat terjadi jika anak cukup terpapar risiko nyata. Sekolah umumnya terlalu nyaman, teratur, dan tertib. Inilah kurikulum yang sesungguhnya terlaksana—bukan yang tertulis dan berganti tiap pergantian menteri.
Kehidupan nyata tidak selalu demikian. Akibatnya, terlalu lama di sekolah justru memperpanjang childishness warga muda. Lulusan SMA belum siap hidup mandiri secara sosial, apalagi membangun keluarga. Menikah pada usia delapan belas tahun dianggap terlalu dini, padahal secara biologis mereka sudah siap.
Kelima, sebagaimana politik tidak boleh dimonopoli partai politik dan keamanan tidak boleh dimonopoli kepolisian, pendidikan pun tidak boleh dimonopoli sekolah. Peran pendidikan harus dirancang dan dijalankan pula oleh keluarga dan masyarakat.
Keluarga perlu diperkuat agar mampu mengemban tugas-tugas pendidikan. Institusi lain—seperti polsek, kebun binatang, pasar, kantor pos, bengkel, dan masjid—perlu diberi peran edukatif. Selanjutnya, dapat dibangun jejaring belajar atau learning networks, di mana sekolah bukan satu-satunya simpul penyedia kesempatan belajar.
Keenam, peran guru akan tetap penting, tetapi berbeda dengan figur guru profesional yang kita kenal hari ini. Guru masa depan lebih berperan sebagai sociopreneur yang memfasilitasi perluasan kesempatan belajar, bukan membatasinya hanya di sekolah.
Pembangunan harus dipahami sebagai ikhtiar memperluas kemerdekaan, sementara pendidikan merupakan sarana belajar merdeka. Pendidikan bukan sekadar menyiapkan tenaga kerja terampil untuk menjalankan mesin, sekaligus cukup patuh untuk setia bekerja bagi pemilik modal.
Dengan memperkuat keluarga dan masyarakat, biaya pendidikan yang besar dapat dipikul bersama oleh banyak stakeholder pendidikan. Pendidikan pun menyatu dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengalaman.
Potensi agromaritim Indonesia yang melimpah dapat lebih diakrabi dan diolah bagi ketahanan pangan, energi, dan air. Jangan sampai persekolahan justru mengasingkan warga muda dari pengalaman hidup mereka sendiri. It takes a village to raise a child.
Surabaya, 30 Desember 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni











