
Lewat drama kolosal bertajuk “Tanah Airku”, siswa-siswi SMP Muhammadiyah 7 Cerme (Spemaju) Gresik menghidupkan kembali kisah perjuangan para pahlawan di atas panggung. Dengan kolaborasi lintas sekolah dan semangat kebangsaan yang membara, pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa semangat juang tak pernah lekang oleh zaman.
Tagar.co — Dalam suasana khidmat dan penuh makna, siswa-siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 7 Cerme (Spemaju) Gresik memperingati Hari Pahlawan dengan cara yang berbeda, Senin (10/11/25).
Mereka menampilkan drama kolosal bertajuk “Tanah Airku”, sebuah pertunjukan yang menggugah emosi dan mengajak penonton merenungi kembali semangat perjuangan para pahlawan bangsa.
Pementasan ini menjadi puncak rangkaian kegiatan Hari Pahlawan Nasional di Spemaju, yang juga diisi dengan lomba puisi dan orasi kebangsaan antar siswa kelas VII hingga IX. Seluruh rangkaian kegiatan digelar dengan semangat kebersamaan dan kreativitas yang tinggi.
Dari Ide Gelisah Jadi Karya Bermakna
Gagasan menghadirkan drama kolosal lahir dari kegelisahan Kepala Sekolah Spemaju, Yuli Kusminarsih, S.Pd., yang ingin peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun ini dikemas lebih reflektif dan inspiratif.
Menyambut ide itu, Syamsul Arifin, guru seni budaya, mengusulkan untuk menampilkan karya teater yang menautkan pembelajaran pantomim dengan nilai-nilai kepahlawanan.
“Saya berani menyiapkan semua hanya dalam dua minggu, karena anak-anak kelas VIII sudah mempelajari teknik pemeranan. Jadi, mereka secara teknis siap. Drama kolosal ini menjadi ruang refleksi tentang perjuangan lewat seni teater,”
tutur Syamsul Arifin, penulis sekaligus sutradara Tanah Airku.
Proses persiapan melibatkan kelas seni Sinau Budaya Spemaju sebagai kru produksi, dengan dukungan teknis dari Matig Art Production SMK Muhammadiyah 3 Gresik. Kolaborasi lintas sekolah ini menambah nuansa profesional dan memperkuat pesan kebersamaan.

Kolaborasi yang Menghidupkan Semangat
Ketua Matig Art Production, Aqiilah Naisyah Zhaafirah, menilai proyek bersama ini bukan sekadar pementasan, tetapi juga proses pembelajaran lintas disiplin.
“Ini bukan hanya tentang adegan antara penjajah dan pejuang, tapi tentang kerja sama, disiplin, dan keberanian tampil. Saya bangga melihat semangat mereka tumbuh dari latihan hingga pementasan,” ujarnya.
Ketika tirai dibuka, suasana berubah menjadi teatrikal dan menggugah. Gerak para pemain, musik latar, dan narasi puitik berpadu menghadirkan potret perjuangan yang hidup. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton membahana, namun tak sedikit yang terdiam haru.

Belajar Makna Perjuangan Lewat Seni
Salah satu pemeran, Yasmine Ishtar Namita Rafanadyas, siswa kelas VIII A, mengaku mendapatkan pengalaman berharga.
“Seru banget! Aku belajar kerja sama dan bisa ngerasain gimana perjuangan para pahlawan lewat akting. Walau capek latihan, tapi rasanya bangga banget bisa tampil di Hari Pahlawan,” katanya penuh semangat.
Selain drama, lomba puisi dan orasi kebangsaan turut menambah semarak acara. Tiap peserta menampilkan ekspresi cinta tanah air dengan gaya khas masing-masing.

Pahlawan Zaman Kini: Belajar, Berprestasi, dan Bijak Bermedia
Acara ditutup dengan refleksi kebangsaan oleh Kepala Sekolah Spemaju, Yuli Kusminarsih, S.Pd., yang mengingatkan bahwa perjuangan generasi masa kini memiliki medan yang berbeda.
“Sebagai generasi alpha, perjuangan kalian bukan lagi melawan penjajah bersenjata, tapi melawan kemalasan, kebodohan, berita bohong, dan ujaran kebencian. Jadilah pahlawan di era digital dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, dan bijak bermedia,” pesannya.
Pementasan drama kolosal Tanah Airku menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang kuat. Di tangan para pelajar Spemaju, semangat juang para pahlawan tak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali—dengan panggung, cahaya, dan tekad yang sama: cinta kepada tanah air. (#)
Jurnalis Syamsul Arifin Penyunting Mohammad Nurfatoni












