
Ilmu tidak datang lewat klik dan unduh, tapi lewat sabar, guru, dan waktu. Imam Syafi‘i telah mengingatkan: siapa yang menolak pahitnya belajar sesaat, akan menelan pahitnya bodoh seumur hidup.
Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Tagar.co – Dalam perjalanan panjang menuju cahaya ilmu, manusia sering kali tersesat oleh rasa mudah dan kenyamanan palsu.
Padahal ilmu itu tak akan datang kepada yang malas menjemputnya.
Ia menuntut sabar, tunduk, dan kerendahan hati.
Baca juga: Jadilah seperti Air: Lembut, Tenang, tapi Tak Pernah Kalah!
Imam asy-Syāfi‘ī رحمه الله —sosok yang dikenal jenius dan tajam pikirannya—pernah berkata dalam bait yang mengguncang hati para penuntut ilmu:
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ
Barang siapa yang tak mau menelan pahitnya belajar sesaat, akan menelan kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya. (Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī)
Belajar itu seperti menempuh jalan panjang di bawah terik matahari—melelahkan, panas, penuh tantangan.
Tapi kebodohan itu seperti berteduh di bawah bayangan fatamorgana—tampak nyaman, padahal menipu.
Kamu merasa aman karena tak belajar, tapi diam-diam kehilangan arah hidupmu.
Dalam bait lain, beliau menegur dengan nada getir tapi penuh kasih:
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ
فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
Barang siapa yang kehilangan masa belajar di waktu mudanya,
maka ucapkanlah empat takbir atas kematiannya. (Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī)
Masa muda adalah musim tanam ilmu. Jika dibiarkan kosong oleh rebahan dan kesenangan semu, maka yang akan tumbuh bukan hikmah, melainkan penyesalan.
Kematian di sini bukan jasad, tetapi matinya potensi, idealisme, dan cahaya akal.
Dan tentang bekal yang harus dimiliki penuntut ilmu, Imam asy-Syāfi‘ī menulis syair paling legendaris yang hingga kini masih diajarkan di pesantren:
أَلَا لَا تُنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ
وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ
Ketahuilah, ilmu takkan diraih kecuali dengan enam hal.
Akan kuberitahukan rinciannya dengan jelas: kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang. (Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī)
Ilmu itu bukan hasil download cepat, tetapi hasil zikir panjang.
Ia tumbuh dari kecerdasan yang diasah, semangat yang tak padam, sabar yang diuji, bekal yang diusahakan, guru yang diteladani, dan waktu yang dimaknai.
Tanpa enam hal ini, ilmu hanya akan menjadi suara tanpa makna.
Lalu beliau menegur mereka yang ingin hasil tanpa jalan, doa tanpa usaha, harapan tanpa gerak:
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِينَةَ لَا تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
Kau berharap keselamatan tapi tak menempuh jalannya,
padahal kapal tak bisa berlayar di daratan. (Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī)
Doa tanpa usaha itu seperti kapal yang ingin berlayar di padang pasir — tampak indah dalam imajinasi, tapi takkan pernah bergerak.
Hidup butuh langkah nyata; bukan sekadar “semoga”, tapi “aku berjuang”.
Namun, meski demikian, Imam asy-Syāfi‘ī sendiri pernah merasakan gelapnya hafalan yang melemah.
Ia merasa aneh — otaknya yang tajam tiba-tiba sulit mengingat pelajaran.
Maka beliau mengadu kepada gurunya, Imam Wakī‘ ibn al-Jarrāḥ, hingga lahirlah syair yang abadi sepanjang zaman:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ
وَنُورُ اللّٰهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
Aku mengadu kepada guruku, Wakī‘, tentang buruknya hafalanku,
lalu ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat.
Ia berkata, “Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada pelaku maksiat.” (Dīwān al-Imām asy-Syāfi‘ī; juga diriwayatkan oleh Ibn al-Jawzī dalam Ṣifat aṣ-Ṣafwah)
Ilmu bukan sekadar kumpulan kata, tapi cahaya ilahi yang hanya menetap di hati yang bersih.
Maksiat adalah kabut yang menutupi pandangan jiwa, dan setiap dosa kecil bisa menjadi batu besar di jalan cahaya ilmu.
Sebelum semua itu, para ulama salaf telah mengingatkan dengan kalimat yang singkat tapi berisi samudra makna:
العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ
Ilmu diperoleh dengan belajar, dan keberkahan didapat dengan khidmah (melayani guru). (Dari hikmah para ulama salaf seperti Sufyān ats-Tsaurī dan Imām Mālik)
Ilmu tidak turun karena banyak baca, tapi karena rendah hati di hadapan guru.
Barokah bukan hasil dari kecerdasan, melainkan dari pengabdian dan adab.
Dan sebagai simpulan nilai manusia, Imam ʿAlī رضي الله عنه menegaskan:
وَذَاتُ الْفَتَى وَاللّٰهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى
فَإِنْ لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
Demi Allah, nilai seorang pemuda itu terletak pada ilmu dan ketakwaannya.
Jika keduanya tak ada, maka tiada nilai bagi dirinya.
(Dīwān al-Imām ʿAlī رضي الله عنه)
Keindahan sejati tak diukur dari wajah atau jabatan, tapi dari ilmu yang mencerahkan dan takwa yang menenangkan.
Ilmu tanpa takwa itu seperti pedang di tangan orang mabuk, sementara takwa tanpa ilmu itu seperti cahaya tanpa arah.
Penutup
Belajar adalah bentuk tertinggi dari tawakal: karena di situ kita percaya bahwa Allah memberi hasil pada usaha yang tulus, bukan instan.
Ilmu itu cahaya — dan cahaya itu hanya jatuh pada hati yang suci, sabar, dan beradab.
Karena seperti kata Imam asy-Syāfi‘ī:
“Barang siapa tak sabar terhadap pahitnya belajar sesaat, ia akan menyesap pahitnya kebodohan seumur hidupnya.”
Kalimat ini bukan sekadar nasihat, tapi tamparan lembut dari langit untuk generasi yang haus jalan pintas.
Kalau mau jadi besar, jadilah rendah di hadapan ilmu.
Kalau mau cemerlang, jadilah bersih di hadapan Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












