Feature

Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Jadi Wadah Belajar Monetisasi Medsos

28
×

Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Jadi Wadah Belajar Monetisasi Medsos

Sebarkan artikel ini
Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran membuka ruang bagi generasi Z lewat workshop monetisasi media sosial, menegaskan peran masjid sebagai pusat peradaban dan pengembangan soft skill anak muda.
Dzaky Amir M Saat menyampaikan materi Monetasi dan Affilate Tiktok. (Tagar.co/Syahensyah Raiq)

Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran membuka ruang bagi generasi Z lewat workshop monetisasi media sosial, menegaskan peran masjid sebagai pusat peradaban dan pengembangan soft skill anak muda.

Tagar.co — Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban yang hidup—tempat nilai, ilmu, dan kreativitas bertemu. Pada era digital seperti sekarang, tantangannya, bagaimana masjid mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi. Di Buduran, semangat itu tampak nyata di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah, yang kini menjadi ruang terbuka bagi kalangan muda untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi.

Ahad, 2 November 2025, halaman dan aula Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, puluhan anak muda berdatangan dengan semangat dan raut penasaran. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tetapi mayoritasnya adalah generasi Z—generasi yang akrab dengan dunia digital, sekaligus generasi yang menjadi harapan untuk menjaga keberlanjutan peran masjid pada masa depan.

Kegiatan pagi itu merupakan bagian dari rangkaian “Muda Berkiprah Semarak Milad Muhammadiyah ke-113”, yang diselenggarakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Buduran. Mengusung tema “Strategi Monetisasi Media Sosial sebagai Sumber Penghasilan”, kegiatan ini dikemas dalam bentuk workshop digital yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan zaman.

Baca Juga:  Nasyiatul Aisyiyah Barito Timur Terlahir Kembali

Workshop ini berhasil menarik minat anak-anak muda untuk hadir ke masjid—bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga menimba ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan mereka. Berbagai organisasi kepemudaan serta para santri dari MBS Porong turut hadir, menambah suasana hangat dan kolaboratif di ruang masjid yang biasanya lebih hening pada pagi hari.

Bangun Personal Branding

Sesi pertama workshop diisi oleh Zarnuzi, atau yang akrab disapa Mas Zar, pemilik dari Media Baik. Ia membagikan pengalaman membangun konten positif dan berdampak di media sosial. Sesi kedua berlanjut dengan Dzaky Amir M., S.Tr.T., CDM, Founder Gado Creative Agency sekaligus Satu Kelas Projects, yang mengupas strategi kreatif membangun personal branding serta peluang monetisasi di berbagai platform digital.

Melalui dua narasumber ini, peserta diajak memahami bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk hiburan atau “scroll-scroll tanpa arah”, melainkan ruang besar yang dapat mereka optimalkan untuk belajar, berkarya, bahkan menghasilkan pendapatan.

Ketua Panitia Pelaksana, Tiara Isny Azizah, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi awal bagi para peserta untuk memanfaatkan media sosial secara produktif.

Baca Juga:  Iftar Gathering: Siswa Spemdalas Kuatkan Ukhuah dan Lokomotif Kebaikan

“Kami ingin teman-teman muda bisa memiliki soft skill dalam mengelola media sosial, tidak hanya sebagai pengguna pasif, tetapi sebagai kreator yang bermanfaat dan mandiri secara ekonomi,” ujar Tiara penuh semangat.

Pentingnya memberi ruang bagi anak muda di masjid juga ditegaskan oleh Ridwan Manan, Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.

“Kami harus mendukung kegiatan positif seperti ini. Anak muda mempunyai energi besar, kita harus memberikan ruang dan panggung bagi mereka. Masjid tidak boleh menutup diri dari perubahan, justru harus menjadi rumah bagi mereka,” ujarnya.

“Apalagi mereka lebih dekat dengan teknologi—jika kita berikan kepercayaan, mereka bisa membawa masjid melangkah lebih jauh ke masa depan,” tambahnya.

Relevansi Masjid dan Harapan Generasi Penerus

Dari kegiatan sederhana ini, tersirat pesan besar: Masjid bukan sekadar bangunan, melainkan tempat yang hidup ketika generasi mudanya hadir dan terlibat. Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran telah memberikan contoh bahwa keterbukaan terhadap perubahan tidak mengurangi kesakralan, justru menumbuhkan relevansi.

Sebab, sejatinya, menjaga masjid bukan hanya dengan memakmurkannya melalui ibadah, tetapi juga dengan menanamkan rasa memiliki di hati generasi penerusnya. Masjid kini bertransformasi menjadi titik temu antara spiritualitas dan keterampilan hidup modern, membuktikan dirinya sebagai simpul peradaban yang berkesinambungan. (#)

Baca Juga:  PKDA Spemdalas: Siswa Diajak Mendalami Sirah Nabawi

Jurnalis Bayu Firdaus Penyunting Sayyidah Nuriyah