Cerpen

Kemuning dan Api yang Menyadarkannya

37
×

Kemuning dan Api yang Menyadarkannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kemuning percaya, bekerja di jalan Allah adalah ibadah. Namun ketika panggilan pengabdian bertabrakan dengan tanggung jawab rumah tangga, ia belajar: rida suami juga bagian dari surga.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah, Guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Nama itu pemberian Bapak: Kemuning. Nama yang melambangkan kebaikan, pengingat agar aku selalu menebar kebaikan kapan pun dan di mana pun.

Masa kecilku banyak kuhabiskan di sawah. Membantu Bapak membajak, bermain lumpur, menangkap capung, berburu belalang, atau mengusir burung yang mencuri padi.

Seusai panen, saat hamparan sawah kering, kami menjadikannya lapangan layang-layang. Meski satu-satunya perempuan, aku tak pernah kalah.

Baca cerpen lainnya: Sepuluh Tahun Mengabdi, Lalu Dikhianati

“Maafkan Bapak,” ucapnya lirih suatu sore, saat tak lagi mampu membiayai sekolahku selepas SMP. Bapak yang hanya buruh tani dengan penghasilan tak tentu terpaksa memintaku melepaskan mimpi berseragam putih abu-abu.

Hati teriris setiap kali melihat teman-temanku berangkat sekolah. Aku hanya bisa berjalan di pematang sawah bersama Bapak. Mereka sungguh beruntung, batinku. Tapi segera kutepis rasa itu, berharap takdir kelak berpihak.

Jejak di Kampung Duku

Semilir angin hampir membuatku terlelap di gubuk sawah setelah makan siang bersama Bapak. Tiba-tiba Mila, teman sebayaku, datang tergopoh-gopoh sambil melambai.

“Kertas apa itu, Mila?” tanyaku.

“Ini, Ning. Ada brosur Paket C di Kampung Duku. Bayarnya murah, waktunya cepat,” ujarnya bersemangat.

Aku menatap kertas lusuh itu. “Kalau kita daftar sekarang, nanti bisa lulus bareng teman-teman kita,” bujuk Mila.

Aku mengangguk, dan kami sepakat mencarinya esok pagi.

Keesokan harinya, kami berjalan kaki menuju Kampung Duku. Tak ada uang saku, tak ada bekal, hanya keyakinan ingin kembali sekolah. Puluhan kilometer kami lewati, tapi alamat tak juga ditemukan. Menjelang Magrib, kami mulai putus asa.

Baca Juga:  Ardan dan Cerita yang Tidak Selalu Utuh

“Kalian anak Kampung Beringin, kan?” tanya seorang lelaki berkulit sawo matang yang berhenti dengan motor tuanya.

“Iya, Pak,” jawabku lemah.

“Ayo, naik. Bapak antar pulang,” katanya.

Namanya Pak Sabri. Di perjalanan ia bertanya, “Kalian nggak kabur dari rumah, ‘kan?”

“Kami cari sekolah Paket C, Pak. Katanya di Kampung Duku, tapi nggak ketemu,” jawab Mila polos.

Pak Sabri tertawa kecil. “Oalah… sekolah kejar paket itu sudah lama pindah, Nduk.”

Dari dialah kami tahu alamat yang benar. Dan begitulah, perjalanan panjang kami menemukan arah baru kehidupan.

Jalan Panjang Pengabdian

Aku dan Mila akhirnya lulus Paket C. Tak lagi aku merasa rendah di hadapan teman-teman sebayaku. Tak lama kemudian, Allah mempertemukanku dengan jodoh. Kami tinggal di Surabaya, lalu kembali ke desa setelah suamiku kehilangan pekerjaan.

Suatu hari, Bu Fatma—pemilik yayasan pendidikan terbesar di kampungku—datang ke rumah.

“Kemuning, maukah kamu bergabung di sekolah Ibu?” tanyanya.

Aku sempat ragu. Aku hanya lulusan Paket C. Tapi Bu Fatma menenangkanku, bahkan menjanjikan biaya kuliah dari gajiku.

Pagi aku menjadi guru TK, sore mengajar mengaji di TPQ. Gajiku tak pernah kupegang; semua langsung dibayarkan untuk kuliah.

Suamiku awalnya keberatan—anak pertama kami belum genap setahun. Tapi karena melihat semangatku, ia akhirnya memberi izin.

Sejak itu, aku menjadi pengajar penuh waktu. Pagi di TK, siang menyusui anak, sore mengajar ngaji. Kadang pulang larut malam karena kegiatan sekolah.

Dilema Seorang Kemuning

Suamiku sering menegurku. Katanya aku terlalu sibuk. Tapi aku yakin, ini perjuangan di jalan Allah. Sampai suatu hari, ia jatuh sakit keras. Aku tetap merasa pekerjaan ini ibadah yang mulia.

Baca Juga:  Anak Pulau dan Ombak yang Menguji Mimpi

“Kemuning, kalau kamu tak bisa merawat suamimu, biarkan kami membawanya pulang ke desa,” kata ibu mertuaku. Dengan berat hati, aku mengizinkan. Tapi tak lama kemudian, kabar buruk datang—suamiku kritis.

Tanganku gemetar. Aku segera pulang ke desa dan merawatnya. Sepekan kemudian, Bu Fatma menelpon:

“Kamu ini punya tanggung jawab besar. Ini urusan akhirat, kamu berjuang di jalan Allah. Suamimu masih ada keluarga yang bisa merawat.”

Kata-katanya seperti buah simalakama. Aku terdiam. Mau mengajar, suami terlantar. Mau merawat suami, pekerjaan bisa hilang.

Akhirnya aku membawa suamiku kembali ke Kampung Duku, meski sempat berselisih dengan ibu mertua.

“Bang Arif itu sudah berkeluarga, Bu. Dia suami saya. Saya berhak merawatnya,” kataku dengan suara gemetar.

Air mata ibu mertua menetes. Tapi tekadku bulat. Dan benar, setelah dirawat di rumah, suamiku perlahan membaik.

Api di Depan Rumah

Beberapa bulan berlalu. Aku kembali tenggelam dalam rutinitas. Di bulan Ramadan, kesibukan makin bertambah: santunan yatim, pondok Ramadan, berbagi takjil, rapat panitia.

“Maaf, ya, aku belum bisa pulang,” kataku lewat pesan.

“Pulang, atau aku bakar semua baju seragammu!” balas suamiku singkat.

Aku tak mengira ancamannya sungguhan. Saat pulang pukul sembilan malam, dari kejauhan kulihat kobaran api di depan rumah. Semua seragam, tas, dan perlengkapan kerjaku hangus terbakar.

Aku berlutut menangis, meminta maaf. Tapi suamiku berlalu tanpa kata. Tetangga hanya menatap, tak berani mendekat.

Berhari-hari aku berpikir untuk berhenti, tapi niat itu masih setengah hati. Aku masih ingin menyelesaikan studi. Selama sepekan aku mengajar tanpa seragam, menutupi luka dengan senyum.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

Saat Rida Menjadi Cahaya

Sampai suatu sore, Bu Fatma datang ke rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada ibuku di depan tetangga.

“Tidak tahu terima kasih, sudah disekolahkan malah berbuat seperti itu,” katanya keras.

Ibuku memanggilku. “Apa benar yang dikatakan Bu Fatma?” tanyanya.

Aku hanya menunduk. Dalam hati, kecewa bercampur sedih—kenapa Bu Fatma tak bisa menjaga rahasia.

Bapak yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan,

“Kamu memang sudah menikah, dan Bapak sudah pasrahkan kamu pada suamimu. Tapi kalau suamimu berbuat jahat, kamu masih punya Bapak.”

Tangisku pecah. Kuceritakan semuanya. Bapak memegang tanganku, “Kamu sudah dewasa. Ambil keputusan terbaik. Apa pun itu, Bapak yakin kamu tahu jalanmu.”

Malam itu juga, aku menulis surat pengunduran diri. Bu Fatma marah besar, menuduhku tidak tahu balas budi. Tapi aku mantap. Aku ingin menyelamatkan rumah tanggaku.

Beberapa pekan kemudian, Bu Khadijah datang menawarkan tempat di lembaganya—dengan satu syarat: izin suami.

Kali ini suamiku memberiku restu, bahkan mengantarku saat wawancara.

Kemuning yang Tumbuh Kembali

Sepuluh tahun sudah aku mengabdi di tempat Bu Khadijah. Aku tetap mengajar, tetap belajar, tapi kini tak melupakan rumah dan cinta.

Suamiku pun kerap membantu sekolah saat ada yang perlu diperbaiki.

Perjalanan panjang ini mengajarkanku banyak hal. Sebaik apa pun pekerjaan yang kita miliki, jika suami tak rida, semuanya sia-sia.

Kini aku mengajar dengan hati yang lebih lapang. Sebab aku tahu, pengabdian sejati bukan hanya pada lembaga atau ilmu, tetapi juga pada keluarga yang menjadi ladang rida Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…