
Ketika layar televisi menertawakan pesantren, santri menjawab dengan pena dan doa. Inilah babak baru perjuangan: menjaga martabat lewat revolusi adab di era bising media.
Oleh Abdullah Al-Mustofa, Ketua Al-Fahmu Institute Perwakilan Jawa Timur
Tagar.co – Bayangkan suasana pondok pesantren di pagi hari. Santri-santri bangun sebelum Subuh, berwudu dengan air yang dinginnya menggigit, lalu berbaris menuju musala. Dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan hati.
Namun beberapa hari lalu, keheningan dunia pesantren itu tiba-tiba terusik. Sebuah tayangan di televisi—Xpose Uncensored di Trans7—menyajikan kehidupan santri dengan nada mengejek, seolah dunia pesantren hanyalah tempat konyol dan kolot.
Baca juga: Trans7 dan Krisis Pemahaman atas Budaya Pesantren
Gelombang reaksi pun datang deras, seperti ombak yang menghantam pantai. Media sosial mendidih. Alumni pesantren, kiai, dan masyarakat menuntut klarifikasi.
Tapi di balik riuhnya kemarahan itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara: apakah ini hanya soal tayangan yang salah arah, atau ada sesuatu yang lebih dalam sedang diuji?
Api Lama yang Menyala Lagi
Hari Santri Nasional—22 Oktober—ditetapkan untuk mengenang momen bersejarah Resolusi Jihad tahun 1945. Saat itu ribuan santri bangkit melawan penjajahan. Mereka tak memegang mikrofon atau kamera, tetapi bambu runcing dan tekad yang tak tergoyahkan. Seruan K.H. Hasyim Asy’ari menggema: membela Tanah Air adalah bagian dari iman.
Namun 80 tahun berselang, bentuk “penjajahan” berubah rupa. Tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa narasi yang menyesatkan. Jika dulu santri berhadapan dengan tentara asing, kini mereka menghadapi opini publik yang mudah terbentuk hanya karena potongan video.
Xpose Uncensored hanyalah satu contoh dari banyaknya tontonan yang mencoba memutar makna—bahwa kesopanan dianggap kuno dan adab dianggap ketinggalan zaman.
Pertempuran Baru di Dunia yang Berisik
Bayangkan: para santri yang setiap hari belajar sopan santun dan menahan amarah, tiba-tiba menjadi bahan candaan di layar nasional. Tapi alih-alih melawan dengan kata-kata kasar, mereka menulis surat terbuka. Mereka berdiskusi, berdoa bersama, dan menegur dengan santun. Inilah gaya perjuangan santri masa kini—bukan dengan amarah, melainkan dengan adab.
Inilah revolusi adab—versi baru dari resolusi jihad. Jika dulu santri mengusir penjajah dari Tanah Air, kini mereka berjuang melawan penjajahan moral dan logika. Senjatanya bukan lagi bambu runcing, melainkan pena, naskah, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah bisingnya dunia digital.
Dan di sinilah kisahnya menjadi semakin menarik. Bayangkan seorang santri muda yang duduk di depan televisi, melihat tayangan itu dengan dada berdebar. Ia marah, tapi juga sadar: ini bukan waktu untuk berteriak, ini waktu untuk membuktikan dengan tindakan.
Maka ia mulai menulis, berdakwah, dan menunjukkan keindahan pesantren lewat konten positif. Satu unggahan kecilnya mulai viral, dan publik mulai sadar—pesantren bukan tempat gelap, melainkan taman ilmu dan cahaya.
Ketika Adab Jadi Benteng Terakhir
Kasus Xpose Uncensored sesungguhnya memberi pelajaran yang lebih besar daripada sekadar kritik media. Ia membuka mata bangsa bahwa pesantren bukan tinggalan masa lalu, melainkan benteng moral masa depan.
Saat dunia kehilangan sopan santun, santrilah yang mengajarkan cara bicara dengan hati. Saat media kehilangan arah, santrilah yang mengingatkan bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah kebodohan yang disiarkan.
Dan di momen Hari Santri ini, gema resolusi jihad kembali terasa—bukan dalam bentuk perang fisik, melainkan perang makna. Karena di zaman ini, kebenaran sering kalah oleh suara paling nyaring.
Santri tahu, jihad bukan soal membenci, tetapi menjaga cinta: cinta pada kebenaran, cinta pada adab, cinta pada bangsa. Maka mereka melawan bukan untuk menang, melainkan untuk menjaga martabat.
Ketika layar kaca retak oleh kesalahan, santri hadir untuk memperbaikinya dengan ketenangan. Karena mereka tahu, tugas mereka bukan hanya membaca kitab, tetapi juga membaca zaman.
Dan di situlah getaran adrenalin sejati Hari Santri terasa—bukan dalam pekikan perang, melainkan dalam keheningan seorang santri yang menegakkan adab di tengah dunia yang kian kehilangan arah. Wallahualam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












