
Dari bumi Majapahit, tiga santri PPIC eLKISI Mojokerto terpilih mewakili Jawa Timur di STQH Nasional XXVIII 2025 Kendari. Salah satunya mendapat amanah membacakan ikrar di hadapan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansaa
Tagar.co – Dari bumi Majapahit, kami membawa harapan sekaligus doa. Tiga santri Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI, Kabupaten Mojokerto, dipercaya mewakili Jawa Timur dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadis (STQH) Nasional XXVIII 2025 yang akan berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 9–19 Oktober 2025.
K,H. Dr. Fathur Rohman, Pengasuh PPIC eLKISI, menyampaikan rasa syukur sekaligus harapan besar agar para santri mampu menampilkan prestasi terbaik. “Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari dakwah hadis. Semoga ananda mampu membawa cahaya ilmu dan akhlak Rasulullah ke panggung nasional,” ujarnya penuh doa.
Harapan Gubernur Jawa Timur
Pada momen pelepasan kafilah Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyatakan optimismenya bahwa kontingen Jatim akan kembali meraih juara umum di STQH 2025. Ia mengatakan:
“Bismillah, Kafilah Jawa Timur akan mempertahankan juara umum. Insyaallah seluruh peserta akan diberikan kekuatan untuk tampil prima dan membawa kembali kejayaan Jatim di Kendari. Amin.”
Sebanyak 59 orang tergabung dalam kafilah Jatim yang akan berlaga di berbagai cabang—tilawah, tahfiz, tafsir, dan hadis. Khofifah juga mengingat prestasi sebelumnya: torehan 10 gelar juara dan 26 poin di STQH Nasional XXVII sebagai bukti bahwa Jatim memiliki tradisi keunggulan.
Harapan Gubernur itu selaras dengan ikrar peserta yang dibacakan oleh saya, Mujahid Asyaddu Hubballillah — ikrar untuk menjaga nama baik Jawa Timur, berlomba dengan sungguh-sungguh, serta menampilkan kemampuan terbaik.
Jejak Perjalanan Kami
Perjalanan kami menuju Kendari tentu tidak terjadi begitu saja. Ada doa orang tua yang terucap setiap malam, ada bimbingan guru yang sabar menuntun, dan latihan panjang yang menguji kesabaran. Dari situlah lahir kisah kami bertiga — santri eLKISI yang membawa tekad menjaga hadis sekaligus semangat untuk menebarkannya di pentas nasional.
Saya sendiri, Mujahid Asyaddu Hubballillah, putra dari Agus Very Himmawan asal Sawo, Kutorejo, Mojokerto, masih duduk di kelas XI Kader Ulama 1. Tahun ini saya akan tampil pada kategori 500 Hadis tanpa Sanad. Setiap hafalan saya jadikan jihad ilmu—bukti cinta kepada Rasulullah Saw.
Pada momen pelepasan kafilah Jawa Timur oleh Gubernur Khofifah, saya mendapat amanah khusus menjadi pembaca ikrar peserta. Membacakan ikrar di hadapan pemimpin daerah dan seluruh kafilah menjadi pengalaman yang sangat berkesan, sekaligus meneguhkan tanggung jawab untuk menjaga marwah Jawa Timur di ajang nasional.
Bersama saya, ada Amanda Renjana Shifa, putri dari Muh. Abdul Jumali asal Ngampelsari, Candi, Sidoarjo. Amanda, santri kelas XII Kader Ulama 2, juga berlaga di kategori 500 Hadis tanpa Sanad. Di balik kelembutannya, ia menaruh keteguhan iman, menjadikan hafalan hadis sebagai lentera hidup.
Kemudian Shabrina Zahra Rahmata, putri dari Juwadi asal Banjarbendo, Sidoarjo. Santri kelas XII Kader Ulama 2 ini tampil di kategori 100 Hadis Bersanad. Ia meyakini bahwa sanad bukan sekadar rantai nama, melainkan mata rantai emas yang menyambungkan hati hingga Rasulullah.
Amanah dan Semangat yang Kami Bawa
Lebih dari sekadar perlombaan, keberangkatan ini merupakan amanah. Ikrar yang saya bacakan di hadapan Gubernur Jawa Timur menjadi simbol bahwa perjuangan kami bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menjaga marwah Jawa Timur, pesantren, dan umat.
Doa guru, restu orang tua, dan dukungan teman-teman seangkatan kami jadikan bahan bakar spiritual yang tak terlihat, namun kuat menggerakkan langkah. Kami percaya bahwa setiap hadis yang terpatri dalam ingatan adalah cahaya yang akan terus menyinari perjalanan bangsa.
Semoga langkah kecil dari Mojokerto ini mampu membawa harum nama Jawa Timur di Kendari. Semoga juga menjadi bagian dari ikhtiar besar menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis di tengah masyarakat, menebar cahaya ilmu dan kasih kepada umat. (#)
Jurnalis Mujahid Asyaddu Hubballillah Penyunting Mohammad Nurfatoni












