
Pemuda sejati bukanlah yang bersembunyi di balik kebesaran ayahnya, melainkan yang berani berkata “Inilah aku sekarang”. Ungkapan Arab klasik ini mengajarkan kejujuran pada asal-usul dan keberanian membangun eksistensi diri.
Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Tagar.co – Sering kali, orang lebih mudah bersembunyi di balik kebesaran leluhur daripada menampilkan dirinya apa adanya.
Namun, warisan paling berharga bukanlah nama besar yang ditinggalkan orang tua, melainkan keberanian membangun jati diri dengan usaha dan integritas. Ungkapan Arab klasik ini menarik untuk dikaji.
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ هَذَا أَبِي، وَلَكِنِ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ هَاأَنَا ذَا
“Bukan pemuda sejati dia yang berkata: ini ayahku, tetapi pemuda sejati adalah dia yang berkata: inilah aku sekarang.”
Jiwa yang Berdiri Sendiri
Ungkapan tersebut kerap diucapkan para bijak (ḥukamā’) untuk menggambarkan sosok yang tidak hanya hidup dari bayang-bayang kemuliaan ayahnya, tetapi berani menunjukkan jati dirinya sendiri.
Pemuda sejati (al-fatā al-ḥaqīqī) bukanlah mereka yang sibuk membanggakan darah keturunan, melainkan yang berani menampilkan hā anā dhā —
“هَا أَنَا ذَا”
“Inilah aku sekarang — hasil perjuanganku, bukan sekadar pantulan masa lalu.”
Keaslian Nasab: Titik Awal Kejujuran
Spirit ini sejalan dengan firman Allah ﷻ dalam surah Al-Ahzab [33]: 5:
ٱدْعُوهُمْ لِآبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ ٱللَّهِ ۚ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat) dengan nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah.”
Ayat ini turun untuk menegaskan pentingnya keaslian identitas. Dahulu Zaid bin Ḥārithah dipanggil Zaid bin Muḥammad, lalu Allah ﷻ menurunkan ayat ini agar namanya dikembalikan kepada yang sebenarnya:
زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ
bukan
زَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ.
Mengapa? Karena cinta dan kasih sayang boleh diadopsi, tetapi nasab tidak bisa diadopsi. Kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun kecil. Sebaliknya, kepalsuan tetaplah dosa, meski niatnya tampak baik.
Dari Ud‘uhum li-Ābā’ihim ke Hā Anā Dhā
Kalimat “Ud‘uhum li-ābā’ihim” mengajarkan kejujuran dalam identitas, sementara “Hā Anā Dhā” mengajarkan keberanian dalam eksistensi.
Jika keduanya digabung, lahirlah pribadi yang jujur pada asalnya sekaligus tangguh dalam dirinya. Ia tidak menumpang kemuliaan nama orang lain, dan tidak pula memalsukan akarnya demi gengsi sosial.
Mengadopsi Anak, Bukan Mengadopsi Nama
Islam tidak menolak adopsi, tetapi menolak penipuan identitas. Anak angkat boleh diberi kasih sayang, dirawat, disekolahkan, bahkan diberi harta melalui hibah. Namun menisbatkan nama ayah angkat padanya adalah pelanggaran syariat.
Ketika nama diganti, sejarah hidup pun ikut dimanipulasi. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam dusta — sekecil apa pun itu.
Jati Diri: Amanah, Bukan Warisan
Setiap jiwa membawa bekal amalnya sendiri. Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌۭ
“Setiap jiwa tergadai oleh apa yang telah ia usahakan.” (Al-Mudatsir: 38)
Karena itu, laisa al-fatā man yaqūlu hādzā abī — bukan pemuda sejati dia yang bangga berkata, “Aku anak si fulan.” Keturunan tidak bisa menyelamatkan jiwa.
Yang bisa menyelamatkan hanyalah hā anā dhā:
“Inilah aku sekarang — hamba Allah yang berjuang dengan keringat sendiri, bukan bayangan nama orang lain.”
Refleksi
Zaman sekarang penuh topeng. Di media sosial, banyak yang menampilkan fake life, meniru gaya idola, atau memakai identitas palsu demi validasi.
Namun Islam mengajarkan satu hal penting: keaslian lebih berharga daripada popularitas.
Maka hā anā dhā bukan sekadar kalimat, melainkan mantra spiritual — keberanian untuk berkata: “Aku tidak sempurna, tapi ini aku. Apa adanya, dengan iman dan usaha yang nyata.”
Ketika Nama Tak Lagi Menyelamatkan
Pada hari kiamat, setiap orang akan dipanggil dengan nama dirinya sendiri dan nama ayahnya:
يُدْعَى النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِهِمْ
“Manusia akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama mereka dan nama ayah-ayah mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka, siapa yang menukar nama ayahnya di dunia seolah sedang mengaburkan panggilan akhiratnya sendiri.
Sebaliknya, siapa yang hidup jujur dan apa adanya, ia akan berdiri dengan wajah berseri. Karena sejak di dunia, ia sudah berani berkata:
هَا أَنَا ذَا
Inilah aku, ya Rabb… tanpa topeng, tanpa dusta, dengan jati diri yang Engkau titipkan kepadaku. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












