Cerpen

Marisa dan Body Painting yang Terakhir

70
×

Marisa dan Body Painting yang Terakhir

Sebarkan artikel ini
Cerpen Marisa dan Body Painting yang Terakhir
Cerpen Marisa dan Body Painting yang Terakhir (Tagar.co/Al)

Marisa sudah belasan tahun meninggalkan dunia body painting demi keyakinannya. Kini, sebuah tawaran 75 juta datang saat ia sangat membutuhkan biaya operasi mata. Uang atau keyakinan?

Cerpen oleh Bekti Sawiji, ASN di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lumajang Jawa Timur

Tagar.co – “Jadi, Ibu siapkan uang 72 juta rupiah, itu sudah termasuk semua,” ,kata dokter pada Marisa yang terbengong di kursi pasien.

“Loh, 72 juta Dok? Ok siap, siap. Saya akan siapkan,” jawab Marisa dengan suara sedikit tercekat di kerongkongan sampai dia merasakan sensasi ingin minum.

Percakapan itu masih terngiang di telinga Marisa, meskipun dia sudah tidak lagi sedang berhadapan dengan dokter di rumah sakit.

Operasi mata Marisa yang pertama sebetulnya sukses secara teknis. Saat itu kedua matanya dapat melihat secara normal. Namun, dia harus menjalani vitreoretinal untuk yang kedua kalinya karena infeksi pasca operasi mengharuskan dokter menyelamatkan retina mata kanannya, yang jika tidak dioperasi dapat membahayakan penglihatannya.

Untuk itu Marisa membutuhkan dana yang cukup besar. Bagi Marisa, pemilik salon kecantikan nomor satu di kota, juga pemilik wedding organizer terkenal, uang sebesar itu tidak terlalu besar, tetapi tidak sedikit juga.

Dia membutuhkan banyak usaha untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Dia tidak mau menjual aset berharganya terlebih dahulu jika tidak benar-benar kepepet.

Beberapa waktu lalu, seseorang menelpon Marisa dalam kaitannya sebagai ahli body painting. Dia memang pakar dalam hal ini. Saat masih muda, dia berkali-kali memenangkan ajang lomba lukis tubuh itu.

Penelpon itu menyebut bahwa dirinya adalah seorang event organizer yang akan mengadakan pameran seni beberapa bulan mendatang. Dia menelpon untuk membeli jasa Marisa dalam melukis tubuh.

“Bagaimana Bapak tahu saya ahli body painting?” tanya Marisa di ujung telepon.

“Nama dan karya ibu kan terpajang di galeri paling elit di negeri ini, dengan bantuan teknologi dan relasi saya mudah menemukan ibu,” jawab orang itu.

Marisa teringat akan karya-karyanya yang dipajang di beberapa galeri ternama di ibu kota. Dia juga ingat bagaimana dia berkali-kali dipanggil ke ibu kota untuk melukis tubuh. Telepon tadi menyebabkan hatinya bergejolak.

Antara keahlian melukis tubuh dan kebutuhan uang membuat rasa itu seperti hendak meledak. Meskipun sudah belasan tahun meninggalkan dunia itu, bukan berarti Marisa tidak ingin melukis. Dia masih sering membuat lukisan tubuh tetapi kanvasnya adalah kain, bukan tubuh manusia.

Baca Juga:  Takbir di Balik Luka: Kisah Rini di Hari Kemenangan

“Bapak akan bayar berapa untuk pekerjaan saya?” tanya Marisa. Pertanyaan ini sering dia lontarkan kepada pengguna jasanya kala itu. Tetapi, hati Marisa merasa lain. Kali ini dia merasa aneh dan canggung mengatakan itu, tetapi tetap keceplosan.

“Tujuh juta untuk sepasang tubuh, laki-laki dan perempuan. Tiket pesawat dan akomodasi saya yang menanggung,” jawab orang itu.

Nude atau seminude itu?” tanya Marisa lagi.

Full Nude, Bu,” jawabnya.

Marisa menutup telepon sebelum pembicaraan itu selesai. Full nude adalah seni melukis di tubuh tanpa busana. Bagi dia, ini bukan lagi tantangan, tetapi sudah merupakan larangan. Dengan gelar muslimah yang berhijab, tidak mungkin dia melukis di tubuh telanjang.

Tapi, uang itu? Dia sangat membutuhkan uang itu. Di hatinya ada perang berkecamuk antara hasrat menyalurkan hobi, larangan syariat, dan kebutuhan uang. Siapa yang menang? Akhirnya malam itu Marisa bisa tidur dengan tenang setelah syariat mengalahkan hobi dan kebutuhan uang. Dia putuskan menolak tawaran itu.

***

Telepon itu berlanjut keesokan harinya.

“Temanya flora Indonesia”, jelas penelpon itu.

“Oh ya, itu sering saya kerjakan”, kata Marisa menanggapi.

“Ya Bu, dan saya memutuskan untuk menaikan  bayaran Ibu menjadi 15 juta”

Alih-alih menjawab tawaran itu, Marisa beralih ke video call dan menunjukkan jari-jarinya menggambar sketsa asal-asalan. Tetapi, itu membuat pria penelpon itu kaget.

“Wow…! Itu maha karya Bu. Seperti itulah yang saya inginkan!”, seru pria itu dan langsung menaikkan bayaran untuk Marisa menjadi 30 juta.

“Maaf Pak, saya tidak bisa”, ucap Marisa pelan.

***

Marisa kembali galau dan pikirannya mengembara. Tiga puluh juta bisa dia selesaikan dalam 5-7 jam saja. Dia mulai berpikir jika yang mengerjakan asistennya mungkin lebih aman. Dia mencoba mengarang dalih. Dia akan membuat sketsa di tubuh model lelaki dengan tetap berpakaian meski minim.

Lalu asisten yang akan melanjutkan pada bagian-bagian yang sensitif. Dengan begitu dia tidak melihat dan menyentuh bagian terlarang model lelaki.

“Tetapi tidak! Tetap saja aku harus membuat sketsa di seluruh tubuhnya. Artinya aku masih berdosa,” batin Marisa. Keringat dingin meleleh di dahinya, dadanya terasa penuh dengan perasaan yang menyesakkan.  Malam itu, Marisa memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu meskipun dia sangat membutuhkan uang.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

***

Marisa sempat meminta pertimbangan suami dan anak-anaknya terkait tawaran ini. Sang suami sepenuhnya menyerahkan keputusan pada Marisa. Memang dari dulu suaminya selalu mendukung pekerjaan Marisa secara profesional.

Dia sangat percaya kepada Marisa. Anak pertamanya yang sedang kuliah di luar kota agak berbeda. Dia memang ingin mamanya mendapatkan uang untuk operasi mata lanjutan.

Namun begitu dia sedikit bimbang apakah pekerjaan itu baik atau tidak. Meskipun tidak terang-terangan melarang, dia juga tidak menganjurkan untuk mengambil tawaran itu. Sebagai anak, terlihat kalau dia sangat takut keliru di depan mamanya.

Marisa merasa tenang karena beberapa hari tidak menerima telepon dari pria itu. Dia mengira bahwa pria itu berpikir berkali-kali untuk membayar dirinya 30 juta, angka yang fantastis untuk lukisan body painting. Pastinya pria itu mengurungkan niatnya, begitu pikir Marisa. Tapi Marisa salah. Tak lama setelah itu, HP-nya berdering dan pria itu menelpon.

“Saya mohon maaf lagi Pak. Setelah saya pertimbangkan, saya tidak bisa mengambil tawaran itu. Jujur saya sengaja meninggalkan pekerjaan ini sejak lama karena kurang sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut,” tegas Marisa kepada pria itu. Sejenak pria itu terdiam dan berusaha memahami perasaan Marisa.

“Baiklah Bu jika itu keinginan Ibu. Tetapi Bu, saya sangat membutuhkan karya ibu. Lukisan tubuh ini tidak dipertontonkan secara luas. Dijamin tidak akan dimuat di media sosial atau media lainnya karena penonton terbatas dan dilarang membawa HP atau alat perekam apapun saat masuk ruang pertunjukan. Tidak inginkah ibu meninggalkan legacy yang bernilai seni tinggi? Jika tidak mau publisitas, Ibu bisa memilih anonim. Untuk itu saya akan bayar ibu 75 juta dimuka. Mohon kirim nomor rekening. Selamat Malam,” kata pria itu panjang lebar dan menutup telepon.

“Tujuh puluh lima juta?” Marisa terperangah dan bergidik. Tangannya mengepal kuat seolah ingin berteriak, “Yes!”

Setelah perasaan itu mereda, ada senyum mengembang di bibirnya.

“Karya itu kan bisa anonim, jadi orang tidak akan tahu jika itu karya saya. Karya itu juga tidak dimedsoskan, tidak viral, jadi tidak banyak juga orang yang menonton. Saat disimpan di galeri, tidak semua orang akan bisa menembus galeri itu. Selain itu mata saya tidak bisa menungu lama untuk dioperasi,” begitu pembenaran Marisa.

Baca Juga:  Tiga Saf Tersisa

Marisa beranggapan bahwa tubuh lelaki yang akan dia lukis adalah kanvas sementara. Lukisan ini akan luntur oleh air dan sabun. Tetapi, matanya yang saat ini rapuh dan butuh biaya besar adalah kanvas yang sesungguhnya. Dengan sepasang mata yang sehat dia akan terus berkarya, terus menorehkan prestasi. Dengan hati yang masih bergetar, Marisa memutuskan untuk mengambil tawaran itu.

Malam itu dia menuliskan nomor rekening bank di kotak percakapan WA pria itu dan siap dikirim. Tapi sebelum menekan tombol kirim, Marisa ingat akan prosedur hamba Allah yang berada pada posisi sulit menentukan pilihan. Salat istikharah.

Ya, berharap ada petunjuk yang menguatkan pilihannya, Marisa melakukan salat istikharah. Setelah salat, Marisa melanjutkan dengan dzikir. Begitu lamanya dzikir itu hingga tak terasa Marisa tertidur di tempat salat itu.

Tepat pukul 03.00 Marisa tebangun dan kaget mendapati dirinya ada di tempat salat. Dia teringat bahwa semalam dia melakukan salat istikharah untuk mendapatkan petunjuk lewat mimpi. Tetapi, dia tidak mendapatkan petunjuk apapun dan bahkan dia tidak bermimpi sama sekali. Ini dianggap menguatkan pilihannya.

Dia beranjak mengambil HP-nya untuk mengirimkan nomor rekening yang belum sempat terkirim. Begitu dia meraih HP, sebuah nada notifikasi masuk. Pesan WA. Sebuah pesan masuk dari Etha, putrinya. “Ma, tolong jangan diambil tawaran itu. Lebih baik Mama segera jual asset,” begitu bunyi pesannya.

Marisa kembali ke tempat salat. Dia tersungkur, bersujud dan menangis. “Ya Allah, ternyata inilah petunjuk-Mu. Terima kasih Ya Allah.”

Otot-otot tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Sambil terisak, Marisa terus bersyukur. Marisa menemukan ketenangan yang luar biasa. Belum pernah dia setenang ini.

Setelah mengumpulkan tenaga, Marisa meraih kembali HP-nya dan menghapus nomor rekening yang belum terkirim. Sebagai ganti, dia mengetik, “Maaf Pak, sampai berapapun bayaran saya dinaikkan, saya tidak bisa menerima tawaran itu karena sangat berlawanan dengan keyakinan saya. Terima kasih atas apresiasinya selama ini. Mohon mencari pelukis yang lain.” (#)

Penyunting Ichwan Arif.

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…