
Masjid yang dulu penuh perlahan sepi. Seorang pengurus masjid mencoba cara sederhana agar anak-anak muda kembali menemukan rumahnya di saf salat.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Malam-malam awal Ramadan di Masjid Al-Hikmah selalu terasa hidup. Lampu-lampu menyala terang, suara anak-anak berlarian di halaman, dan jemaah memenuhi saf hingga ke teras.
Tahun ini pun begitu.
Pada malam pertama, dua belas saf terisi penuh saat salat Isya dan Tarawih.
Pak Suyadi berdiri di serambi masjid sambil tersenyum. Usianya sudah 54 tahun. Rambutnya mulai dipenuhi uban yang tertutup kopiah hitam, tetapi semangatnya memakmurkan masjid tidak pernah berkurang. Sejak lama ia menjadi salah satu pengurus masjid di kampung itu.
Namun kebahagiaan itu perlahan berubah.
Baca juga: Sepeda Ontel dan Jalan Sabar Buk Jam
Memasuki malam ke-10 Ramadan, saf mulai berkurang. Orang-orang yang awalnya rajin datang mulai jarang terlihat. Ada yang sibuk bekerja, ada yang memilih beristirahat di rumah, dan ada pula yang santai di warung kopi.
Ketika Ramadan memasuki hari ke-15, Pak Suyadi menghitung dengan pelan.
Satu…
dua…
tiga saf.
Hanya tiga saf yang tersisa.
Sebagian besar jemaah adalah orang-orang tua. Di saf depan berdiri Haji Hasan Usman, lelaki sepuh yang telah melewati tujuh dasawarsa hidup. Setiap malam ia setia menjadi imam. Suaranya lembut, bacaannya panjang, langkahnya pelan.
Di belakangnya ada Haji Hasan yang biasa memimpin tadarus, dan Kusno, lelaki tua yang selalu datang membawa mushaf lusuhnya.
Tadarus yang dulu diikuti sepuluh orang kini tinggal mereka bertiga.
Pak Suyadi duduk lama setelah tarawih selesai. Ia memandangi sajadah panjang yang sebagian besar kosong.
Dulu anak-anak muda kampung ini sering memenuhi saf belakang.
Kini hampir tidak ada satu pun yang datang.
Suatu malam ia berjalan pulang melewati ujung jalan kampung. Dari kejauhan tampak sebuah warung kopi kecil yang terang benderang. Lampunya menggantung kuning, dan tawa anak-anak muda pecah di antara kepulan uap kopi.
Mereka duduk sambil memegang ponsel.
Ada yang bermain gim, ada yang menonton video. Di meja mereka tergeletak gelas kopi, mi instan, dan berbagai jajanan.
“Wifinya kencang di sini!” teriak salah seorang pemuda.
Pak Suyadi berhenti sejenak. Ia mengenali beberapa wajah di sana.
Anak-anak itu sebenarnya rajin ke masjid pada awal Ramadan dulu.
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan langkah pulang.
Malam itu, di rumahnya yang sederhana—berkonsep minimalis dengan dinding bercat abu-abu dan putih—Pak Suyadi berbincang dengan anaknya, Ahsan Fikri, yang baru berusia delapan belas tahun.
“San,” katanya pelan, “kenapa anak-anak muda sekarang tidak ke masjid lagi?”
Ahsan terdiam sejenak. Ia menatap ayahnya dengan hati-hati.
“Bukan tidak mau, Pak,” katanya akhirnya. “Tapi mereka merasa masjid bukan tempat mereka.”
Pak Suyadi mengernyit.
“Maksudmu?”
“Menurut teman-teman, imamnya sudah sepuh. Bacaannya lama, dan suaranya kadang tidak terdengar jelas sampai saf belakang. Anak-anak muda akhirnya merasa tidak cocok. Mereka mencari tempat yang lebih nyaman.”
Pak Suyadi tidak langsung menjawab.
Kata-kata itu terasa berat, tetapi ia tahu ada kebenaran di dalamnya.
“Apa yang harus kita lakukan, San?” tanyanya pelan.
Ahsan tersenyum kecil.
“Kasih ruang untuk anak muda, Pak.”
“Ruang?”
“Iya. Biar mereka merasa masjid juga milik mereka.”
Pak Suyadi masih menatap anaknya.
“Misalnya?”
“Coba imamnya anak muda. Lalu pasang WiFi di masjid, Pak. Biar mereka bisa berkumpul sebelum atau setelah salat.”
Pak Suyadi teringat seseorang.
Galih, anak Pak Rahmat—sahabat lamanya. Usianya tujuh belas tahun dan sedang belajar di MBS Prambanan. Ia pernah mendengar kabar bahwa Galih sering mengimami salat di sana, dan bacaan Al-Qur’annya merdu.
Keesokan harinya, setelah salat Magrib, Pak Suyadi menyampaikan ide itu kepada para jemaah tua.
“Bagaimana kalau Galih kita minta menjadi imam Isya dan tarawih?” usulnya.
Beberapa jemaah saling berpandangan.
“Masak anak muda jadi imam?” tanya seseorang ragu.
“Tapi bacaan Al-Qur’annya bagus,” jawab Pak Suyadi tenang. “Dan kita perlu mengajak anak-anak muda kembali ke masjid.”
Diskusi berlangsung cukup lama.
Akhirnya mereka sepakat mencoba.
Malam berikutnya, Galih berdiri di depan sebagai imam.
Ia terlihat sedikit gugup.
Namun ketika takbir pertama dikumandangkan, suaranya mengalun jernih membaca Al-Qur’an.
Ayat-ayat itu terdengar jelas hingga saf belakang.
Pak Suyadi merasakan sesuatu yang berbeda malam itu.
Masjid terasa lebih hidup.
Tidak berhenti di situ, Pak Suyadi juga mengajak para jemaah tua mengumpulkan jariyah sederhana.
Ada yang menyumbang sepuluh ribu rupiah.
Ada yang dua puluh ribu.
Uang itu digunakan untuk memasang WiFi sederhana di masjid, serta menyediakan kopi dan air minum bagi jemaah setelah tarawih.
“Biar anak-anak muda betah,” kata Pak Suyadi.
Beberapa hari berlalu.
Pada Ramadan ke-19, sesuatu yang berbeda terjadi.
Saat azan Isya berkumandang, tiga orang pemuda masuk ke masjid.
Mereka duduk di saf belakang.
Pak Suyadi mengenali mereka. Anak-anak yang sering nongkrong di warung kopi.
Malam berikutnya jumlahnya bertambah.
Lima orang.
Tujuh orang.
Lalu satu saf penuh.
Setelah tarawih, mereka tidak langsung pulang.
Galih mengajak mereka tadarus bersama.
Suara bacaan Al-Qur’an anak-anak muda itu terdengar pelan, namun penuh semangat.
Pak Suyadi duduk di serambi masjid. Angin malam bertiup lembut. Dari dalam masjid terdengar lantunan ayat suci.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Ia teringat malam-malam ketika hanya tiga saf tersisa.
Kini saf mulai bertambah lagi.
Mungkin belum penuh seperti dulu.
Namun masjid itu kembali bernapas.
Pak Suyadi menatap langit malam Ramadan.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, “ternyata memakmurkan masjid bukan hanya soal menjaga bangunannya. Tapi menjaga agar setiap orang merasa memiliki rumah-Mu.”
Di dalam masjid, suara tadarus terus mengalun.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Pak Suyadi merasa yakin.
Masjid itu tidak akan pernah benar-benar sepi selama masih ada hati yang ingin kembali pulang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












