
Jendela kelas itu tak sekadar kayu tua dan kaca buram—ia menyimpan rahasia tentang cahaya yang lahir dari ketekunan.
Cerpen oleh Nurkhan; Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik
Tagar.co – Di sebuah desa kecil yang tenang, berdiri sebuah madrasah sederhana. Bangunannya tidak luas, dindingnya mulai kusam dimakan usia.
Jendela-jendela kayu berwarna cokelat pudar berjajar di sisi kelas, sebagian sudah retak, catnya mengelupas, dan kacanya buram.
Meski tampak rapuh, jendela itu selalu terbuka setiap pagi, menyambut cahaya matahari yang masuk dan menari di atas meja-meja kayu tua.
Suara riuh anak-anak memenuhi ruang kelas lima. Kursi-kursi bergemeretak, buku-buku dibuka dengan cepat, dan beberapa siswa masih berceloteh sambil saling berebut tempat duduk.
Baca juga cerpen Nurkhan lainnya: Luka yang Menjadi Jalan Pulang
Namun, di pojok kanan belakang, duduklah seorang anak bernama Reyhan. Tubuhnya agak kecil untuk seusianya, rambutnya kusut, dan kemejanya sudah sedikit pudar.
Ia duduk tenang, matanya sering kali tertuju ke luar jendela. Dari sana, ia bisa melihat hamparan sawah hijau yang berkilau terkena cahaya matahari pagi, juga gunung yang menjulang di kejauhan.
“Anak-anak, hari ini kita akan belajar membaca sebuah cerita pendek,” kata Bu Laila, guru yang selalu tersenyum meski kerudungnya sudah mulai lusuh.
Suaranya tegas namun penuh kasih. Ia menatap satu per satu muridnya, matanya berbinar lembut, lalu pandangannya jatuh pada Reyhan. “Reyhan, coba kamu baca paragraf pertama ini, ya.”
Seisi kelas sontak menoleh. Reyhan menelan ludah. Tangannya gemetar saat membuka buku.
“A..a..da… se..eko…r bu…rung… yang hi..dup di ha…laan..” suaranya patah-patah, membuat beberapa anak menahan tawa sambil saling pandang.
“Shh! Jangan ditertawakan temanmu,” tegur Bu Laila lembut, tapi matanya menajam penuh wibawa. Ia lalu mendekat ke meja Reyhan, menepuk pundaknya dengan hangat, “Bagus, Reyhan. Kamu sudah berani membaca. Tidak apa-apa kalau masih terbata. Ingat, setiap cahaya butuh waktu untuk bersinar.”
Reyhan mengangguk pelan. Pipinya memanas karena malu, tapi hatinya juga hangat oleh kata-kata gurunya. Ia kembali menatap keluar jendela. Cahaya matahari yang masuk seolah menyapa dirinya, seakan berkata: jangan menyerah.
Hari-hari berikutnya, Reyhan mulai berusaha lebih giat. Seusai pulang sekolah, ia sering duduk di dekat jendela rumah yang kecil, membaca berulang-ulang meski suaranya sumbang.
Ayahnya yang seorang petani sering mengintip diam-diam, senyum tipis terbit di wajah lelahnya, melihat putranya berjuang dengan buku lusuhnya.
Kadang, lampu minyak yang redup menjadi satu-satunya penerangan saat Reyhan mengeja kata demi kata hingga larut malam.
Waktu berjalan, dan perlahan-lahan Reyhan mulai bisa membaca dengan lebih lancar. Di kelas, ia tidak lagi terlalu takut diminta maju.
Teman-temannya pun mulai memberi semangat, bukan lagi tertawa. Suasana kelas berubah: dari jendela-jendela tua, cahaya pagi selalu masuk, menerangi wajah-wajah kecil yang penuh mimpi.
Beberapa tahun kemudian, jendela itu masih ada. Catnya memang sudah berganti, kacanya lebih bening, tapi tetap menjadi saksi perjalanan anak-anak. Dan kini, di depan kelas, berdiri seorang guru muda: Reyhan.
Kemeja putihnya sederhana, senyumnya hangat. Ia menatap murid-muridnya yang riuh, lalu sesekali pandangannya tertuju ke jendela yang dulu selalu menemaninya bermimpi.
“Anak-anak, siapa yang mau membaca?” tanyanya.
Seorang siswa maju dengan gugup, terbata-bata membaca sama seperti dirinya dulu. Reyhan tersenyum, menunduk sebentar untuk memberi keberanian, lalu berkata dengan suara penuh keyakinan,
“Bagus sekali. Jangan takut salah. Ingat, setiap cahaya butuh waktu untuk bersinar.”
Murid-murid itu pun tersenyum, dan cahaya matahari pagi kembali menari di balik jendela kelas. Kini, cahaya itu bukan hanya milik Reyhan, tapi juga milik generasi berikutnya yang sedang belajar bermimpi.
Hari itu, setelah bel pulang berbunyi dan anak-anak berhamburan keluar, Reyhan duduk sejenak di kursinya. Pandangannya terarah pada jendela tua di samping kelas. Cahaya sore masuk perlahan, menyapunya dengan hangat, mengingatkannya pada masa kecilnya sendiri.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah pelan dari arah pintu. Seorang perempuan tua dengan kerudung abu-abu muncul. Meski tubuhnya kini agak membungkuk dan langkahnya tertatih, wajah itu tidak asing baginya.
“Bu Laila…” bisik Reyhan, matanya langsung berkaca-kaca.
Guru yang dulu menepuk pundaknya itu tersenyum, garis-garis usia di wajahnya tampak semakin lembut. “Aku dengar kamu sekarang jadi guru di sini, Reyhan. Hatiku bahagia sekali.”
Reyhan segera menghampiri, meraih tangan Bu Laila dan menciumnya dengan penuh hormat. Suaranya bergetar, “Semua ini karena Ibu. Kalau Ibu dulu tidak berkata setiap cahaya butuh waktu untuk bersinar, mungkin saya sudah berhenti bermimpi.”
Bu Laila menepuk pundak Reyhan, sama persis seperti bertahun-tahun lalu. Tatapannya teduh, suaranya pelan tapi dalam, “Tidak, Nak. Itu semua karena kamu tidak menyerah. Aku hanya membuka sedikit jendela, cahaya itu kamu sendiri yang memilih untuk menyambutnya.”
Air mata Reyhan menetes. Ia menoleh lagi ke arah jendela. Kini ia tahu, cahaya yang masuk bukan hanya sinar matahari, melainkan juga doa, kesabaran, dan cinta seorang guru.
Sejak hari itu, setiap kali Reyhan berdiri di depan murid-muridnya, ia selalu mengingat wajah Bu Laila. Kata-katanya ia wariskan kembali, agar cahaya di balik jendela kelas tidak pernah padam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












